Bicarasurabaya.com – Fenomena pasang-surut ekstrem di Selat Bali diperkirakan masih berlangsung hingga tiga hari ke depan. BMKG Banyuwangi menyebut kondisi tersebut berkaitan dengan fenomena perigee, yakni posisi bulan berada pada jarak terdekat dengan bumi.
Prakirawan BMKG Banyuwangi, Yudhi Nugraha Septiadi, mengatakan fenomena perigee dapat meningkatkan ketinggian pasang maupun surut air laut.
“Fenomena perigee, yaitu jarak terdekat bumi-bulan, dapat meningkatkan ketinggian pasang maupun surut air laut,” kata Yudhi ketika dikonfirmasi, Jumat (30/10/2026).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Yudhi menjelaskan, pasang-surut air laut dipengaruhi gaya gravitasi bulan dan matahari serta gaya sentrifugal akibat rotasi bumi. Kombinasi faktor tersebut memengaruhi perubahan ketinggian permukaan air laut.
Berdasarkan pemantauan BMKG selama tiga hari terakhir, pasang tertinggi di Selat Bali mencapai 1,6 meter dari rata-rata muka air laut atau mean sea level (MSL). Sementara itu, surut terendah tercatat hingga minus 1,6 meter dari MSL.
Yudhi mengatakan surut terendah dalam pemantauan terakhir terjadi sekitar pukul 04.00 hingga 07.00. Namun, waktu tersebut tidak bersifat tetap dan dapat berubah.
“Waktu terjadinya surut terendah ke depannya akan berbeda,” ujarnya.
BMKG memperkirakan pengaruh fenomena perigee masih berlangsung hingga tiga hari ke depan. Setelah itu, dampaknya diprediksi berangsur-angsur menurun.
Meski demikian, Yudhi mengingatkan masyarakat dan pihak terkait tetap mewaspadai kemungkinan pasang-surut air laut yang kuat selama periode tersebut. (BS/za)











