Bicarasurabaya.com – Warga Desa Karangpatihan, Kecamatan Pulung, Kabupaten Ponorogo, sudah sekitar lima bulan menghadapi kekeringan. Pemerintah Provinsi Jawa Timur pun memperluas dropping air bersih sekaligus menyiapkan solusi jangka panjang untuk mengatasi krisis air.
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa turun langsung menyalurkan bantuan air bersih ke Dusun Dungus, Desa Karangpatihan. Ia didampingi Plt Bupati Ponorogo Lisdyarita.
Sebanyak 15 ribu liter air bersih dikirim menggunakan tiga truk tangki, masing-masing berkapasitas 5.000 liter. Warga juga mendapat tiga tandon air, dua tandon lipat, 60 jeriken serta paket sembako.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Kekeringan di Ponorogo tercatat berdampak pada 241 keluarga atau 612 jiwa yang tersebar di lima kecamatan.
Rinciannya, Kecamatan Pulung terdampak 56 keluarga atau 189 jiwa, Bungkal 111 keluarga atau 193 jiwa, Sampung 10 keluarga atau 35 jiwa, Jambon 120 jiwa, serta Slahung 36 keluarga atau 75 jiwa.
Untuk penanganan di seluruh wilayah terdampak Ponorogo, Pemprov Jatim menyalurkan 200 jeriken berkapasitas 15 liter dan 50 tandon berkapasitas 1.200 liter.
Khofifah mengatakan penanganan kekeringan tidak bisa hanya mengandalkan bantuan air bersih. Pemerintah juga mencari sumber air, melakukan pengeboran sumur, membangun jaringan pipanisasi hingga menjalankan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).
“Semua pihak harus bersama-sama mengikhtiari. Secara saintifik kita lakukan operasi modifikasi cuaca, pengeboran sumur, menarik air dari sumber-sumber terdekat,” kata Khofifah dalam keterangannya, Senin (21/9/2026).
Menurut dia, sumber air yang berada di sekitar permukiman dapat dimanfaatkan dengan membangun jaringan pipanisasi. Pemprov Jatim melalui Dinas Sumber Daya Air juga memetakan mata air yang berpotensi dialirkan ke wilayah terdampak.
Pola tersebut telah diterapkan di sejumlah daerah, salah satunya kawasan Singosari, Kabupaten Malang. Air dari kawasan Gunung Arjuna dialirkan melalui jaringan pipa sepanjang sekitar 15 kilometer. Di titik lainnya, jaringan pipanisasi bahkan mencapai sekitar 17 kilometer.
“Kalau di desa ini terkonfirmasi ada titik air terdekat, kita bisa bersama-sama membangun konektivitas pipanisasi agar air itu bisa dialirkan ke desa ini,” ujarnya.
Namun, pembangunan pipanisasi menghadapi sejumlah kendala. Salah satunya kekhawatiran masyarakat di sekitar sumber air karena kebutuhan mereka sendiri harus tetap terpenuhi.
Alternatif lain adalah pengeboran sumur dalam. Khofifah menyebut kedalaman sumber air berbeda-beda di setiap daerah.
“Ada yang di kedalaman 90 meter sudah keluar air, ada yang hingga 200 meter masih bertemu batu hingga mata bor harus diganti 19 kali,” katanya.
Upaya mengurangi dampak kekeringan juga dilakukan melalui OMC. Khofifah mengatakan operasi tersebut telah berlangsung sejak 3 September 2026.
Penyemaian dilakukan ketika BMKG mendeteksi awan potensial memasuki wilayah daratan Jawa Timur. Upaya tersebut diharapkan memicu hujan ringan hingga sedang.
“Kalau BMKG mendeteksi adanya awan yang masuk ke daratan Jatim, kita lakukan penyemaian dan itu jadi hujan ringan sampai sedang,” jelasnya.
Selain upaya teknis, Khofifah juga mendorong ikhtiar spiritual. Ia meminta Dewan Masjid Indonesia (DMI) Jawa Timur mengimbau masjid-masjid melaksanakan Salat Istisqa setelah Salat Jumat pada pekan berikutnya.
“Kita memohon kepada Allah agar diturunkan hujan yang membawa rahmat dan manfaat,” pesannya.
24 Wilayah Berstatus Darurat Kekeringan
Kekeringan tidak hanya terjadi di Ponorogo. Hingga 19 September 2026, Khofifah menyebut ada 24 wilayah di Jawa Timur yang telah menetapkan status darurat terkait kekeringan dan krisis air bersih.
Dropping air bersih Pemprov Jatim telah menjangkau 23 kabupaten, antara lain Banyuwangi, Situbondo, Bondowoso, Probolinggo, Pasuruan, Jember, Lumajang, Pamekasan, Bangkalan, Malang, Blitar, Tulungagung, Trenggalek, Ponorogo, Ngawi, Mojokerto, Gresik, Lamongan, Bojonegoro, Pacitan, Tuban, Sampang dan Kediri.
Bagi warga Karangpatihan, bantuan tersebut menjadi penopang kebutuhan sehari-hari setelah berbulan-bulan menghadapi keterbatasan air.
Wagiyem (62), warga setempat, mengatakan masyarakat telah sekitar lima bulan menghadapi kekeringan.
“Terima kasih Bu Gubernur, bantuan airnya sangat bermanfaat. Kami di sini sudah lima bulan kekeringan. Semoga tidak ada lagi kekeringan di tahun depan,” ujarnya.
Pemprov Jatim kini tidak hanya mengandalkan dropping air sebagai solusi darurat. Pemetaan sumber air, pipanisasi, pengeboran sumur hingga OMC terus dilakukan agar warga di wilayah rawan kekeringan memiliki akses air yang lebih berkelanjutan. (BS/za)





