Bicarasurabaya.com – Pamekasan, Madura, punya jejak dalam sejarah lahirnya semangat persatuan pemuda Indonesia. Dua tokoh asal daerah itu, Mohammad Tabrani Soerjowitjitro dan R. Katjasungkana, tercatat berperan dalam perjalanan pergerakan pemuda menuju persatuan nasional.
Peran keduanya kembali disorot Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa saat memimpin upacara Hari Sumpah Pemuda ke-98 di halaman Bakorwil Pamekasan, Rabu (28/10/2026).
Khofifah menyebut Pamekasan memiliki kontribusi penting dalam sejarah pergerakan pemuda. Menurutnya, perjuangan membangun persatuan Indonesia melibatkan tokoh-tokoh dari berbagai daerah, termasuk Madura.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Pamekasan, Madura, memiliki jejak kontribusi penting dalam sejarah pergerakan pemuda dan perjuangan membangun persatuan nasional. Karena itu, peringatan Hari Sumpah Pemuda di Pamekasan memiliki makna historis yang mendalam,” kata Khofifah.
Salah satu tokoh tersebut adalah Mohammad Tabrani Soerjowitjitro. Lahir di Pamekasan pada 10 Oktober 1904, Tabrani dikenal sebagai penggagas sekaligus ketua Kongres Pemuda I yang berlangsung di Batavia pada 30 April hingga 2 Mei 1926.
Dalam kongres tersebut, gagasan persatuan pemuda dari berbagai organisasi mulai menguat. Tabrani juga memperjuangkan penggunaan istilah Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan, berbeda dengan pandangan Mohammad Yamin yang mengusulkan Bahasa Melayu sebagai dasar bahasa persatuan.
Gagasan Tabrani menjadi bagian penting dari perjalanan menuju Sumpah Pemuda 1928, ketika para pemuda mengikrarkan satu tanah air, satu bangsa, dan menjunjung bahasa persatuan, Bahasa Indonesia.
Tokoh Pamekasan lainnya adalah R. Katjasungkana, yang lahir pada Oktober 1908. Ia terlibat dalam Kongres Pemuda II pada 1928 sebagai Pembantu II dalam kepanitiaan, mewakili organisasi Pemuda Indonesia.
Katjasungkana juga aktif dalam organisasi pergerakan dan dunia pers. Keterlibatannya dalam kepanitiaan kongres menjadi bagian dari kontribusi pemuda daerah dalam upaya memperkuat persatuan nasional.
Khofifah mengatakan, kiprah tokoh-tokoh tersebut menunjukkan bahwa cita-cita kebangsaan dibangun oleh pemuda dari beragam latar belakang dan daerah. Semangat itu, menurutnya, perlu diwariskan kepada generasi muda saat ini.
“Para pemuda dari beragam suku, daerah, agama, dan bahasa memiliki tekad yang sama untuk membangun bangsa serta menjunjung tinggi Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan. Semangat inilah yang harus terus kita rawat dan wariskan kepada generasi muda saat ini,” ujarnya.
Khofifah mengajak generasi muda Jawa Timur melanjutkan semangat para pendahulu dengan menjaga persatuan, mengembangkan kemampuan, dan menghasilkan karya yang bermanfaat bagi masyarakat.
Ia juga mendorong pemerintah daerah, lembaga pendidikan, dunia usaha, dan organisasi kepemudaan untuk memperluas kesempatan bagi anak muda dalam mengembangkan gagasan serta mengambil peran dalam pembangunan.
Peringatan Sumpah Pemuda di Pamekasan pun menjadi pengingat bahwa semangat persatuan nasional tumbuh dari kontribusi banyak daerah. Jejak Tabrani dan Katjasungkana menunjukkan bahwa pemuda daerah turut mengambil bagian dalam perjalanan panjang menuju Indonesia yang bersatu.
(BS/za)










