Bicarasurabaya.com – Tim Ekspedisi Patriot (TEP) Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) mengembangkan teknologi pengolahan limbah pertanian menjadi biochar di kawasan transmigrasi Kecamatan Suela, Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB). Inovasi ini ditujukan untuk mengurangi limbah sekaligus menghasilkan bahan yang dapat dimanfaatkan untuk memperbaiki kualitas tanah.
Program yang dijalankan TEP 21 ITS 2026 itu menyasar limbah biomassa yang banyak dihasilkan dari aktivitas pertanian, seperti tongkol jagung, sekam padi, dan batang tembakau.
Ketua tim, Grasianto MSc PhD, mengatakan pengolahan limbah menjadi biochar berpotensi memberi nilai tambah bagi masyarakat yang menggantungkan perekonomian pada sektor pertanian.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT

Biochar dihasilkan melalui proses pirolisis, yakni pemanasan bahan organik dalam kondisi oksigen terbatas. Produk akhirnya dapat dimanfaatkan sebagai pembenah tanah sekaligus menjadi alternatif pengelolaan limbah pertanian.
Tim ITS telah menguji alat pengolah biochar menggunakan sejumlah variasi bahan baku, durasi, dan suhu pemanasan.
Hasil uji coba menunjukkan pengolahan tongkol jagung dan sekam padi membutuhkan waktu sekitar 3-4 jam dengan suhu 200-250 derajat Celsius.
Meski demikian, tim masih memantapkan proses pirolisis agar distribusi suhu selama pemanasan lebih merata. Langkah ini diperlukan untuk menjaga kualitas biochar yang dihasilkan tetap konsisten.
Grasianto, dosen Departemen Kimia ITS sekaligus alumnus program doktoral Tohoku University, Jepang, mengatakan pengembangan teknologi tidak berhenti pada penyediaan alat. Masyarakat setempat juga mendapat pelatihan dan pendampingan agar nantinya mampu mengoperasikan alat serta mengolah limbah secara mandiri.
Tim turut menyiapkan modul pengolahan sebagai panduan penerapan dan replikasi teknologi tersebut.
Disiapkan untuk dikembangkan menjadi usaha
Selain aspek teknis, tim menyusun data dan kajian pemanfaatan limbah pertanian sebagai dasar pengembangan program. Dokumen tersebut juga mencakup strategi pengembangan usaha dan pemasaran agar pengolahan biochar berpeluang memberikan manfaat ekonomi bagi warga.
Untuk menjaga keberlanjutan program setelah masa penugasan berakhir, TEP 21 ITS 2026 menjalin kerja sama dengan Unit Pelayanan Terpadu (UPT) Penyuluhan Pertanian Kecamatan Suela.
Melalui kerja sama itu, UPT diharapkan dapat mendampingi kelompok tani sekaligus mengevaluasi pengembangan teknologi di tingkat masyarakat.
Program ini sejalan dengan sejumlah tujuan pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), terutama tujuan ke-12 tentang konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab, tujuan ke-9 mengenai industri, inovasi, dan infrastruktur, serta tujuan ke-17 tentang kemitraan.
Pengembangan biochar di Suela diharapkan menjadi fondasi bagi pengelolaan limbah pertanian yang lebih berkelanjutan, sekaligus membuka peluang pemanfaatan potensi lokal secara produktif. (BS/za)










