ITS Ubah Limbah Pertanian di Lombok Timur Jadi Biochar

- Publisher

Jumat, 16 Oktober 2026 - 09:21 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pelaksanaan bimbingan teknis pengolahan biochar dari limbah pertanian oleh TEP 21 ITS 2026 yang dipimpin oleh Grasianto MSc PhD (paling kanan). (Foto: Humas ITS)

i

Pelaksanaan bimbingan teknis pengolahan biochar dari limbah pertanian oleh TEP 21 ITS 2026 yang dipimpin oleh Grasianto MSc PhD (paling kanan). (Foto: Humas ITS)

Bicarasurabaya.com – Tim Ekspedisi Patriot (TEP) Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) mengembangkan teknologi pengolahan limbah pertanian menjadi biochar di kawasan transmigrasi Kecamatan Suela, Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB). Inovasi ini ditujukan untuk mengurangi limbah sekaligus menghasilkan bahan yang dapat dimanfaatkan untuk memperbaiki kualitas tanah.

Program yang dijalankan TEP 21 ITS 2026 itu menyasar limbah biomassa yang banyak dihasilkan dari aktivitas pertanian, seperti tongkol jagung, sekam padi, dan batang tembakau.

Ketua tim, Grasianto MSc PhD, mengatakan pengolahan limbah menjadi biochar berpotensi memberi nilai tambah bagi masyarakat yang menggantungkan perekonomian pada sektor pertanian.

Mesin pembakaran biochar yang digunakan untuk membakar limbah pertanian yang diperkenalkan oleh TEP 21 ITS 2026 kepada masyarakat di Lombok Timur, NTB. (Foto: Humas ITS)

Biochar dihasilkan melalui proses pirolisis, yakni pemanasan bahan organik dalam kondisi oksigen terbatas. Produk akhirnya dapat dimanfaatkan sebagai pembenah tanah sekaligus menjadi alternatif pengelolaan limbah pertanian.

Tim ITS telah menguji alat pengolah biochar menggunakan sejumlah variasi bahan baku, durasi, dan suhu pemanasan.

Hasil uji coba menunjukkan pengolahan tongkol jagung dan sekam padi membutuhkan waktu sekitar 3-4 jam dengan suhu 200-250 derajat Celsius.

Meski demikian, tim masih memantapkan proses pirolisis agar distribusi suhu selama pemanasan lebih merata. Langkah ini diperlukan untuk menjaga kualitas biochar yang dihasilkan tetap konsisten.

Grasianto, dosen Departemen Kimia ITS sekaligus alumnus program doktoral Tohoku University, Jepang, mengatakan pengembangan teknologi tidak berhenti pada penyediaan alat. Masyarakat setempat juga mendapat pelatihan dan pendampingan agar nantinya mampu mengoperasikan alat serta mengolah limbah secara mandiri.

Baca Juga:  Damkar Berjibaku Padamkan Kebakaran di Gang Sempit Jagir

Tim turut menyiapkan modul pengolahan sebagai panduan penerapan dan replikasi teknologi tersebut.

Disiapkan untuk dikembangkan menjadi usaha

Selain aspek teknis, tim menyusun data dan kajian pemanfaatan limbah pertanian sebagai dasar pengembangan program. Dokumen tersebut juga mencakup strategi pengembangan usaha dan pemasaran agar pengolahan biochar berpeluang memberikan manfaat ekonomi bagi warga.

Untuk menjaga keberlanjutan program setelah masa penugasan berakhir, TEP 21 ITS 2026 menjalin kerja sama dengan Unit Pelayanan Terpadu (UPT) Penyuluhan Pertanian Kecamatan Suela.

Baca Juga:  Rumah Sakit-Posyandu Diminta Bersinergi Untuk Layanan Kesehatan Setara Tanpa Sekat Sosial

Melalui kerja sama itu, UPT diharapkan dapat mendampingi kelompok tani sekaligus mengevaluasi pengembangan teknologi di tingkat masyarakat.

Program ini sejalan dengan sejumlah tujuan pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), terutama tujuan ke-12 tentang konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab, tujuan ke-9 mengenai industri, inovasi, dan infrastruktur, serta tujuan ke-17 tentang kemitraan.

Pengembangan biochar di Suela diharapkan menjadi fondasi bagi pengelolaan limbah pertanian yang lebih berkelanjutan, sekaligus membuka peluang pemanfaatan potensi lokal secara produktif. (BS/za)

Berita Terkait

Dua Tokoh Pamekasan dan Jejak Perjuangan Persatuan Indonesia
Anak Muda Surabaya Jual Telur hingga Parfum, UMKM Ikut Bergerak
Emas Antam Naik Rp 20.000 per Gram, Ini Daftar Harga Terbaru
BNPB Ingatkan Ancaman Banjir dan Longsor, Jatim-Jateng Jadi Perhatian
Belum Kantongi Izin, Pembangunan Kos 6 Lantai di Surabaya Dihentikan
Cuaca Surabaya Hari Ini, Hujan Ringan Mengintai
Parade Surabaya Juang 2026 Digelar 1 November, Ini Rute dan Acaranya
Kurangi Macet Nataru, Kemenhub Usul WFH pada 3 Tanggal Ini

Berita Terkait

Rabu, 28 Oktober 2026 - 14:09 WIB

Dua Tokoh Pamekasan dan Jejak Perjuangan Persatuan Indonesia

Rabu, 28 Oktober 2026 - 10:40 WIB

Anak Muda Surabaya Jual Telur hingga Parfum, UMKM Ikut Bergerak

Rabu, 28 Oktober 2026 - 10:07 WIB

Emas Antam Naik Rp 20.000 per Gram, Ini Daftar Harga Terbaru

Rabu, 28 Oktober 2026 - 09:11 WIB

BNPB Ingatkan Ancaman Banjir dan Longsor, Jatim-Jateng Jadi Perhatian

Rabu, 28 Oktober 2026 - 08:44 WIB

Belum Kantongi Izin, Pembangunan Kos 6 Lantai di Surabaya Dihentikan

Berita Terbaru

Foto: Humas Pemprov Jatim

Bicara Jatim

Dua Tokoh Pamekasan dan Jejak Perjuangan Persatuan Indonesia

Rabu, 28 Okt 2026 - 14:09 WIB

Foto: Diskominfo Surabaya

Bicara Kota

Anak Muda Surabaya Jual Telur hingga Parfum, UMKM Ikut Bergerak

Rabu, 28 Okt 2026 - 10:40 WIB

Foto: Istimewa

Bicara Ekonomi

Emas Antam Naik Rp 20.000 per Gram, Ini Daftar Harga Terbaru

Rabu, 28 Okt 2026 - 10:07 WIB