Bicarasurabaya.com – Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya melakukan pemasangan stiker 219.427 rumah keluarga penerima manfaat (KPM) bantuan sosial (bansos). Proses pemasangan stiker dimulai dari rumah KPM di kawasan Gubeng Klingisan, Kelurahan Gubeng, Kecamatan Gubeng Kota Surabaya, Rabu (28/12/2022).
Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi mengatakan, penempelan stiker sebagai bentuk transparansi publik sekaligus menunjukan ketidaktahuan pemerintah karena masih ada warganya yang miskin. Dan menurutnya, pemkot yang seharusnya malu karena masih ada warga Surabaya yang hidup di bawah garis kemiskinan.
“Berarti kalau sampai ada rumah ditempelkan stiker, bukan kami merendahkan mereka sebagai keluarga miskin, tapi betapa terpejamnya mata saya sebagai wali kota dan DPRD. Sehingga kami turun bersama (DPRD) menempel stiker itu,” kata Wali Kota Eri Cahyadi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Ia mengakui bahwa penempelan stiker untuk rumah warga miskin tentu akan memunculkan pro dan kontra di tengah masyarakat. Namun dalam ketentuannya, penempelan stiker rumah warga miskin ini telah diatur oleh peraturan dari pemerintah pusat.
“Sehingga kita tempel rumah itu dengan stiker keluarga miskin. Tapi saya sampaikan kepada pemilik rumah, ketika stiker keluarga miskin ini ditempelkan, maka bukan untuk merendahkan dan menunjukkan bahwa mereka adalah keluarga miskin,” ujar dia.
Meski begitu, Eri memastikan pemkot dan DPRD selanjutnya berupaya untuk mengentaskan keluarga itu dari kemiskinan dalam satu tahun ke depan. Hal itu pun dipastikannya juga menjadi koreksi bagi jajarannya di lingkungan Pemkot Surabaya.
“Bukan berarti ada yang ngomong (bicara) penempelan stiker ini merendahkan orang miskin, tidak. Sebenarnya ketika stiker ditempelkan, maka itu melihat betapa masyarakatnya terbuka dengan pemerintahnya,” jelasnya.
Makanya pada tahun 2023 mendatang, Pemkot Surabaya bersama DPRD telah mengalokasikan anggaran Rp3 triliun untuk membuat program kerja bagi Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM). Melalui anggaran tersebut, pihaknya ingin mengangkat perekonomian UMKM yang berasal dari keluarga miskin.
“Kita angkat agar tidak menjadi miskin dalam satu tahun ke depan. Sehingga orang Surabaya tidak njagakno (menggantungkan) bantuan saja. Tapi bagaimana dia bisa berusaha dan lepas dari kemiskinan,” paparnya.
Selain menempel stiker rumah warga miskin, di saat yang sama pemkot melalui Dinas Sosial (Dinsos) Surabaya sekaligus memberikan bantuan modal usaha bagi mereka. Ada yang berupa modal usaha untuk toko kelontong hingga kopi keliling. Tujuannya tak lain, agar ekonomi keluarga itu ke depan bisa meningkat dan segera lepas dari kemiskinan.
“Jadi itu diberikan bantuan untuk ibunya agar dia bisa buka meracang (toko kelontong) di tempatnya sehari-hari. Kita berikan modal, untungnya bisa buat kulakan lagi. Sambil kita pantau, lurah dan Dinsos juga memantau,” tandasnya. (BS02)









