Bicarasurabaya.com – Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Pembangunan Nasional (UPN) “Veteran” Jawa Timur resmi meluncurkan Program Doktor (S3) Ilmu Komunikasi dalam ajang Communication Symposium & Convention (Commposition) 2026, Rabu (4/11/2026). Peluncuran tersebut menjadi tonggak penting pengembangan pendidikan Ilmu Komunikasi di kampus tersebut, sekaligus melengkapi jenjang sarjana (S1) dan magister (S2) yang telah lebih dahulu diselenggarakan.
Peluncuran program doktor itu berlangsung di Auditorium Lantai 11 Twin Tower B UPN Veteran Jawa Timur. Momentum tersebut juga diwarnai dengan pengenalan rebranding logo Program Studi Ilmu Komunikasi jenjang S1, S2, dan S3, serta pengumuman capaian akreditasi Unggul yang baru saja diraih Program Studi S1 Ilmu Komunikasi.
Tak hanya itu, kegiatan tersebut juga dirangkai dengan peringatan Dies Natalis ke-32 Ilmu Komunikasi UPN Veteran Jawa Timur. Peringatan hari jadi tersebut ditandai dengan pemotongan tumpeng oleh Dekan Fakultas Ilmu Sosial Budaya dan Politik (FISIBPOL) UPN Veteran Jawa Timur, Prof. Dr. Catur Suratnoaji, M.Si., bersama para dosen Ilmu Komunikasi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Di tengah momentum pengembangan kelembagaan tersebut, Commposition 2026 juga menjadi ruang pertemuan akademisi dan praktisi industri untuk membahas berbagai tantangan komunikasi di era digital.
Mengusung tema “Beyond Branding: How Stories Shape Taste, Identity, and Culture”, forum ini mengupas bagaimana perkembangan teknologi mengubah cara perusahaan, media, dan industri kreatif membangun identitas sekaligus menjalin hubungan dengan masyarakat.
Branding yang selama ini identik dengan logo, kemasan, dan promosi produk kini berkembang menjadi persoalan yang lebih kompleks. Sebuah merek tidak cukup hanya dikenal, tetapi juga harus mampu menghadirkan cerita, membangun kedekatan emosional, dan menciptakan pengalaman yang bermakna bagi audiens.
Menariknya, pembahasan dalam Commposition 2026 tidak hanya berkutat pada strategi pemasaran produk. Para pembicara juga mengulas bagaimana industri radio mempertahankan pendengar, produser film mengelola karya hingga menjangkau penonton, serta bagaimana kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) memengaruhi cara manusia berkomunikasi dan membentuk identitas diri.
Operational Manager Radio Kosmonita, Ratna Wina, mengungkapkan bahwa perubahan perilaku audiens menjadi salah satu tantangan terbesar industri penyiaran saat ini. Jika sebelumnya masyarakat menyesuaikan aktivitas dengan jadwal siaran radio, kini pendengar justru memiliki kebebasan memilih konten, waktu, dan platform yang ingin digunakan.
“Persaingan radio pun semakin luas. Radio tidak hanya berhadapan dengan sesama stasiun penyiaran, tetapi juga kreator konten, podcast, video digital, dan layanan musik berbasis internet,” kata Ratna.
Menghadapi perubahan tersebut, Radio Kosmonita melakukan transformasi melalui pembaruan identitas merek, pengembangan studio, pemanfaatan layanan streaming, hingga optimalisasi media sosial seperti TikTok, Instagram, dan Threads.
Ratna menjelaskan bahwa terdapat tiga pilar utama dalam strategi adaptasi Radio Kosmonita, yakni on air, online, dan offline.
Melalui siaran radio, Kosmonita mempertahankan program yang relevan dengan kebutuhan pendengar. Sementara itu, platform digital dimanfaatkan untuk memperluas jangkauan audiens, sedangkan kegiatan luar jaringan diarahkan untuk membangun dan merawat komunitas pendengar.
Perspektif berbeda disampaikan produser film dari Rayu Films, Rifqi Ajir. Ia mengupas bagaimana sebuah karya film tidak hanya membutuhkan kreativitas, tetapi juga pengelolaan produksi dan strategi komunikasi yang matang agar mampu menjangkau penonton.
“Proses tersebut mencakup pengembangan cerita, perencanaan produksi, pengelolaan anggaran, pelaksanaan syuting, pascaproduksi, hingga pemasaran dan distribusi,” kata Rifqi.
Menurutnya, keberhasilan sebuah film tidak cukup hanya ditentukan oleh kualitas cerita dan visual. Kemampuan memperoleh pendanaan, mengelola proses produksi, serta menentukan strategi distribusi juga menjadi faktor penting.
Industri film, lanjut dia, membutuhkan dukungan pendanaan melalui berbagai skema, mulai dari hibah, sponsor, kerja sama merek, hingga dukungan pihak lain.

“Dalam konteks branding, pembahasan tersebut menunjukkan bahwa sebuah film bukan hanya produk kreatif, tetapi juga karya yang harus memiliki identitas, nilai, dan strategi komunikasi agar dapat menjangkau penontonnya,” ujarnya.
Sementara itu, Dosen Ilmu Komunikasi UPN Veteran Jatim sekaligus kandidat doktor di Goldsmiths, University of London, Oktifani Winarti, menghadirkan perspektif berbeda dengan mengulas hubungan manusia dan teknologi AI chatbot.
Menggunakan pemikiran Anthony Giddens dalam Modernity and Self-Identity, Oktifani membahas bagaimana teknologi percakapan berbasis AI semakin terlibat dalam kehidupan manusia, termasuk ketika seseorang memahami pengalaman, mengelola emosi, hingga membentuk identitas dirinya.
“Kemampuan chatbot memberikan respons personal, tersedia sepanjang waktu, dan menghadirkan kesan sebagai teman bicara membuat teknologi tersebut semakin dekat dengan kehidupan penggunanya. Namun, kedekatan tersebut juga memunculkan persoalan kritis,” kata Oktifani.
Ia mengingatkan bahwa personalisasi yang dirasakan pengguna sebagai bentuk perhatian juga dapat berkaitan dengan kepentingan komersial perusahaan teknologi, termasuk pemanfaatan data dan upaya mempertahankan keterlibatan pengguna pada platform digital.
“Chatbot itu tidak sekadar menyampaikan informasi, tetapi juga dapat membingkai suatu persoalan, menawarkan solusi, dan memengaruhi cara pengguna memahami dirinya,” jelasnya.
Menurut Oktifani, fenomena tersebut memperlihatkan bahwa perkembangan teknologi komunikasi tidak hanya mengubah cara manusia memperoleh informasi, tetapi juga berpotensi memengaruhi persepsi, pengalaman, dan pembentukan identitas diri.
Selain ketiga pembicara tersebut, Commposition 2026 juga menghadirkan Product Group Manager PT Jamu Iboe Jaya, Perry Angglishartono, yang membahas strategi komunikasi korporat dalam industri produk herbal dan jamu.
Kehadiran praktisi dari industri kesehatan dan wellness tersebut melengkapi pembahasan mengenai pentingnya identitas produk, komunikasi perusahaan, dan strategi branding untuk membangun hubungan dengan konsumen.
Melalui rangkaian kegiatan tersebut, Commposition 2026 tidak hanya menjadi forum untuk membaca perubahan industri komunikasi di era digital. Lebih dari itu, peluncuran Program Doktor Ilmu Komunikasi, penguatan identitas program studi, serta capaian akreditasi Unggul menjadi penanda perkembangan pendidikan Ilmu Komunikasi UPN Veteran Jawa Timur yang kini memasuki usia ke-32 tahun. (*)











