Bicarasurabaya.com — Perkembangan teknologi digital yang semakin pesat membuat anak-anak usia sekolah dasar semakin akrab dengan gawai, internet, media sosial, dan berbagai platform daring. Namun, kedekatan itu belum selalu diikuti dengan pemahaman yang memadai mengenai etika, privasi, keamanan data, dan risiko berinteraksi di dunia maya.
Berangkat dari kondisi tersebut, dosen dan mahasiswa Universitas Pembangunan Nasional (UPN) “Veteran” Jawa Timur menggelar Sosialisasi Literasi Digital dan Keamanan Siber bertajuk “Jadi Anak Hebat di Dunia Maya” di SDN Medokan Ayu 1/270, Surabaya. Kegiatan yang menyasar siswa kelas 5C itu mengusung tema “Membangun Generasi Cerdas, Aman, dan Beretika di Dunia Digital.”
Dosen Ilmu Komunikasi UPN Veteran Jawa Timur, Herlina Suksmawati, mengatakan anak-anak saat ini tumbuh dalam lingkungan yang sangat dekat dengan teknologi digital. Penggunaan gawai dan internet, menurut dia, bahkan sudah menjadi bagian dari aktivitas belajar maupun kehidupan sosial mereka.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Anak-anak sekarang sangat cepat beradaptasi dengan teknologi. Mereka bisa menggunakan gawai, membuka berbagai aplikasi, bahkan aktif berinteraksi di ruang digital. Tetapi kemampuan menggunakan teknologi harus dibarengi dengan pemahaman tentang bagaimana menggunakannya secara aman, cerdas, dan bertanggung jawab,” kata Herlina.
Menurut Herlina, tantangan yang dihadapi anak-anak di ruang digital semakin kompleks. Mereka tidak hanya berhadapan dengan arus informasi yang sangat besar, tetapi juga dengan berbagai risiko, mulai dari penyalahgunaan data pribadi, konten negatif, penipuan digital, hingga perundungan daring atau cyberbullying.
Ia menilai kemampuan teknis dalam menggunakan perangkat digital saja tidak lagi cukup. Anak-anak perlu dibekali kemampuan untuk menilai informasi, memahami risiko, menjaga privasi, serta mengetahui batasan ketika berinteraksi di internet.
“Literasi digital bukan sekadar bisa memakai gawai atau membuka internet. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana anak mampu berpikir sebelum mengklik, sebelum membagikan informasi, dan sebelum berkomentar di media sosial,” ujarnya.
Dalam kegiatan tersebut, siswa dikenalkan dengan berbagai bentuk ancaman di dunia maya serta cara sederhana untuk menghindarinya. Mereka juga mendapatkan pemahaman mengenai pentingnya menjaga data pribadi seperti alamat rumah, nomor telepon, kata sandi akun, identitas keluarga, serta informasi lain yang tidak seharusnya dibagikan secara sembarangan.
Herlina menjelaskan, anak-anak juga perlu memahami bahwa tidak semua orang yang mereka temui di internet dapat dipercaya. Karena itu, siswa diingatkan agar tidak mudah menerima permintaan pertemanan dari orang yang tidak dikenal, tidak sembarangan membuka tautan, serta tidak memberikan informasi pribadi kepada pihak lain.
“Anak harus tahu bahwa data pribadi itu penting. Jangan sampai karena merasa akrab di dunia maya, mereka kemudian dengan mudah memberikan informasi pribadi kepada orang lain,” katanya.
Selain keamanan data, sosialisasi juga memberi perhatian pada persoalan cyberbullying. Menurut Herlina, perundungan digital merupakan salah satu persoalan yang berulang di lingkungan pendidikan dan dapat muncul dalam berbagai bentuk, seperti komentar menghina, ejekan di grup percakapan, penyebaran foto tanpa izin, hingga pengucilan melalui media sosial.
Ia mengatakan perilaku yang dilakukan di ruang digital tetap memiliki dampak nyata bagi orang lain. Karena itu, siswa perlu dibiasakan untuk menggunakan bahasa yang santun dan tidak menyebarkan konten yang dapat menyakiti atau merugikan orang lain.
“Kadang anak menganggap komentar di media sosial hanya bercanda. Padahal, bagi orang lain, komentar itu bisa sangat menyakitkan. Karena itu, etika di dunia nyata juga harus dibawa ke dunia maya,” tutur Herlina.
Menurut dia, edukasi mengenai keamanan digital harus dilakukan sejak dini karena anak usia sekolah dasar sedang berada dalam tahap membentuk kebiasaan dan karakter. Jika sejak awal mereka terbiasa berhati-hati, kritis, dan menghargai orang lain di ruang digital, perilaku tersebut diharapkan terbawa hingga mereka dewasa.
Kegiatan tersebut juga tidak hanya menekankan sisi risiko penggunaan internet. Siswa didorong untuk memahami bahwa teknologi digital memiliki banyak manfaat apabila digunakan secara tepat. Internet dapat dimanfaatkan untuk mencari bahan pembelajaran, memperluas pengetahuan, mengembangkan kreativitas, serta mendukung pengembangan diri.
Herlina mengatakan tujuan utama kegiatan bukan membuat anak takut terhadap internet, melainkan membantu mereka memahami bagaimana menggunakan teknologi secara sehat.
“Kita tidak mungkin menjauhkan anak dari teknologi. Yang harus dilakukan adalah membekali mereka agar mampu menggunakan teknologi dengan benar. Internet harus menjadi ruang untuk belajar, berkreasi, dan berkembang, bukan justru menjadi ruang yang membahayakan mereka,” katanya.
Melalui sosialisasi tersebut, siswa diharapkan tidak hanya menjadi pengguna teknologi yang aktif, tetapi juga memiliki kesadaran terhadap risiko yang dapat muncul di dunia maya. Mereka juga diharapkan mampu membedakan konten yang bermanfaat dan konten yang berpotensi merugikan.
Menurut Herlina, pendidikan literasi digital juga perlu melibatkan sekolah dan orang tua. Sebab, penggunaan teknologi oleh anak tidak hanya berlangsung di sekolah, tetapi juga di rumah dan lingkungan sosialnya.
Ia mengatakan guru dan orang tua memiliki peran penting dalam membangun kebiasaan digital yang sehat. Pendampingan dari orang dewasa diperlukan agar anak tidak merasa berjalan sendiri ketika menghadapi persoalan di dunia maya.
“Literasi digital tidak bisa dibebankan kepada anak saja. Guru dan orang tua juga harus ikut belajar, karena tantangan digital terus berubah. Kita perlu membangun kesadaran bersama agar lingkungan digital anak tetap aman dan positif,” ujarnya.
Herlina menambahkan, kolaborasi antara sekolah, keluarga, dan perguruan tinggi menjadi penting untuk menciptakan ekosistem digital yang kondusif bagi perkembangan anak. Sekolah, menurut dia, juga perlu terus memperoleh pembaruan informasi mengenai tren dan tantangan keamanan siber yang dihadapi peserta didik.
Sosialisasi Literasi Digital dan Keamanan Siber “Jadi Anak Hebat di Dunia Maya” dilaksanakan secara luring di kelas 5C SDN Medokan Ayu 1/270. Format tatap muka dipilih agar siswa dapat berinteraksi langsung dengan pemateri serta menyampaikan pengalaman mereka selama menggunakan internet dan media sosial.
Melalui kegiatan tersebut, para peserta diharapkan memiliki bekal yang lebih baik untuk melindungi diri dari berbagai potensi bahaya siber. Mereka juga didorong menjadi generasi yang tidak hanya mahir menggunakan teknologi, tetapi juga kritis, beretika, dan bertanggung jawab dalam setiap aktivitas digital.
“Harapannya, anak-anak tidak hanya menjadi pengguna internet yang pintar, tetapi juga menjadi pengguna yang aman, bijak, dan memiliki etika. Itu yang ingin kita bangun sejak dini,” kata Herlina.
Di tengah semakin kuatnya penetrasi teknologi dalam kehidupan sehari-hari, literasi digital menjadi bagian penting dari pendidikan anak. Generasi muda tidak cukup hanya disiapkan agar mampu menggunakan perangkat digital, tetapi juga perlu dibekali kemampuan untuk memahami konsekuensi, risiko, dan tanggung jawab ketika berada di ruang digital.(Penulis: Herlina Suksmawati/Dosen Ilmu Komunikasi UPN “Veteran” Jawa Timur)








