Bicarasurabaya.com – Di tengah cepatnya arus informasi digital, pendekatan edukasi yang kreatif menjadi kunci dalam memperkenalkan literasi digital kepada anak-anak. Hal inilah yang diusung dalam kegiatan pengabdian masyarakat yang berlangsung di SDN Sekargadung II Mojokerto, diikuti oleh 150 siswa sekolah dasar.
Mengusung tema “Menumbuhkan Kecerdasan Digital untuk Generasi Masa Depan.”, acara ini menghadirkan metode penyampaian yang tak biasa: storytelling dan gamifikasi. Alih-alih hanya ceramah satu arah, para pemateri membawakan materi dengan pendekatan interaktif yang membuat siswa tak hanya menjadi pendengar, tetapi juga pelaku pembelajaran.
Para dosen Ilmu Komunikasi dari UPN “Veteran” Jawa Timur, yakni Ahmad Zamzamy, Roziana Febrianita, dan Dhelitya Finally menjadi motor utama dalam kegiatan ini. Mereka menyadari bahwa untuk menjangkau anak-anak, pendekatan emosional dan naratif jauh lebih efektif ketimbang paparan data dan teori semata.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Salah satu sesi yang paling mencuri perhatian adalah saat Roziana Febrianita membawakan kisah fiksi berjudul “Kura-kura dan Peta Rahasia Internet”. Dengan menirukan suara dinosaurus dan menciptakan suasana imajinatif, Roziana mengajak siswa memahami bagaimana teknologi dapat digunakan dengan bijak, tanpa harus terasa menggurui.
Di sisi lain, Ahmad Zamzamu mengajak siswa berdialog tentang hak-hak anak di dunia digital dan bagaimana mereka bisa mengenali potensi serta bahaya di dalamnya. Permainannya berjudul “Zona Aman dan Zona Bahaya.” Diskusi yang dibawakan dengan ringan dan dikemas dalam bentuk peemainan ini menanamkan nilai-nilai tanggung jawab digital yang aplikatif dalam kehidupan mereka sehari-hari.
“Kami ingin anak-anak merasa bahwa belajar itu menyenangkan, dan teknologi bukan hal yang menakutkan, asal mereka tahu cara memakainya dengan bijak,” ungkap Dhelitya Finally.
Selama kegiatan, antusiasme siswa terasa hidup. Mereka terlibat aktif dalam kuis, menjawab pertanyaan, hingga berebut kesempatan ikut permainan. Anton Iswanto, salah satu guru pendamping, menyampaikan apresiasinya atas metode yang digunakan tim dosen. “Siswa terlihat sangat menikmati. Mereka belajar tanpa merasa sedang diajari,” ujarnya.
Ketua tim pengabdian, Ahmad Zamzamu, berharap program ini dapat menjadi model edukasi digital yang berkelanjutan. “Anak-anak di daerah seperti Sekargadung ini punya hak yang sama untuk mendapat pendidikan digital yang berkualitas. Harapan kami, kegiatan seperti ini terus berlanjut,” katanya.
Kegiatan ini menjadi pengingat bahwa literasi digital bukan semata soal mengenal perangkat atau aplikasi, tapi lebih kepada cara membentuk karakter digital yang cerdas, sadar, dan bijak sejak dini. Lewat cerita, dialog, dan permainan, para siswa dibimbing untuk menjadi pengguna teknologi yang bertanggung jawab dan sebuah investasi masa depan yang tak ternilai. (BS01)











