Bicarasurabaya.com – Anak-anak jalanan di Surabaya kini memiliki ruang baru untuk belajar, berkreasi, dan membangun rasa percaya diri. Melalui kegiatan pengabdian masyarakat bertajuk “Tiny Beads, Big Dreams”, Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur (UPNVJT) mengajak mereka merangkai manik-manik menjadi karya bernilai.
Kegiatan ini digelar Sabtu (27/9/2025) di depan Pasar Blauran Surabaya, bekerja sama dengan Komunitas Belajar Kreatif Blauran (KBM Blauran) dan komunitas Genggemes. Sebanyak 17 anak jalanan yang ikut dalam kegiatan itu diajarkan membuat gelang, kalung, cincin, hingga gantungan kunci dari manik-manik berwarna. Meski sederhana, kegiatan ini membawa makna yang lebih besar: menghadirkan inklusi sosial di tengah keterbatasan.
Dosen Ilmu Komunikasi UPNVJT, Herlina Suksmawati, menjelaskan bahwa program ini bukan sekadar pelatihan keterampilan tangan, tetapi juga ruang bagi anak-anak untuk membangun karakter. “Pelatihan ini tidak hanya menambah keterampilan, tetapi juga mengasah keberanian mereka mengambil inisiatif, berkomunikasi dalam tim, dan bertanggung jawab atas hasil karya sendiri. Anak-anak ini punya potensi besar, mereka hanya butuh ruang untuk merasa dihargai,” ujarnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Suasana pelatihan berlangsung penuh keceriaan. Anak-anak yang biasanya akrab dengan jalanan, kini terlihat sibuk menyusun manik-manik di atas senar. Beberapa tampak serius membuat pola, sementara yang lain saling tertawa ketika rangkaian mereka terlepas. Di balik kesederhanaan itu, terselip rasa percaya diri yang perlahan tumbuh.
Salah seorang peserta, Andi (12), mengaku baru pertama kali mencoba membuat gelang sendiri. “Biasanya saya bantu ibu jualan di pasar. Senang bisa bikin gelang, nanti mau kasih ke adik,” katanya sambil memperlihatkan hasil karyanya. Bagi Andi dan teman-temannya, pengalaman ini menjadi sesuatu yang berharga—memberi ruang untuk bermain, belajar, sekaligus bermimpi.
Program ini juga menanamkan nilai kewirausahaan sejak dini. Anak-anak diperkenalkan bahwa karya mereka bisa dijual dan menghasilkan uang. Dengan begitu, mereka belajar bahwa kreativitas tidak hanya berhenti pada seni, tetapi juga dapat menjadi jalan menuju kemandirian ekonomi.
Herlina menekankan bahwa inklusi sosial harus diwujudkan dalam tindakan nyata, bukan sekadar slogan. “Inklusi sosial berarti memberi kesempatan setara bagi setiap anak, termasuk mereka yang hidup di jalanan atau memiliki keterbatasan. Melalui kegiatan sederhana ini, kami ingin membuka pintu agar mereka berani bermimpi dan melihat masa depan dengan lebih cerah,” tegasnya.
Kegiatan “Tiny Beads, Big Dreams” juga menjadi wujud nyata Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya pengabdian kepada masyarakat. Melibatkan mahasiswa, dosen, dan komunitas, kegiatan ini membuktikan bahwa kerja sama lintas pihak mampu menghadirkan solusi kreatif bagi persoalan sosial di perkotaan.
Bagi masyarakat luas, pesan yang ingin disampaikan jelas: anak jalanan bukanlah beban sosial. Mereka adalah potensi yang perlu diberdayakan. Selama ini mereka hanya kekurangan ruang untuk menunjukkan kemampuan. Lewat dukungan, empati, dan kesempatan, potensi itu bisa berkembang menjadi kekuatan yang bermanfaat.
Di tengah hiruk pikuk Surabaya, kegiatan ini menjadi pengingat bahwa setiap anak berhak mendapatkan ruang aman untuk tumbuh. Anak-anak jalanan kerap kehilangan masa kecilnya karena kerasnya kehidupan, namun melalui kreativitas sederhana, mereka bisa kembali merasakan masa kecil yang menyenangkan sekaligus belajar membangun masa depan.
Herlina menutup kegiatan dengan refleksi yang menyentuh. “Dari seutas senar dan segenggam manik-manik, lahirlah percaya diri, semangat, dan impian. Inilah tujuan kami, membangun ruang inklusi yang benar-benar memberi kesempatan untuk berkembang tanpa batasan,” katanya.
Dari Blauran, Surabaya, pesan inklusi sosial ini disuarakan dengan kuat. Bahwa dari benda kecil seperti manik-manik, harapan besar bisa lahir. Harapan bahwa setiap anak, tanpa kecuali, memiliki hak yang sama untuk belajar, berkreasi, dan bermimpi. (Penulis: Herlina Suksmawati)









