Bicarasurabaya.com – BAZNAS Jawa Timur memasuki babak baru. Kepengurusan periode 2026-2031 menargetkan pengelolaan zakat tak lagi berhenti pada penyaluran bantuan, tetapi menjadi instrumen pemberdayaan yang mampu mendorong mustahik keluar dari kemiskinan dan hidup lebih mandiri.
Komitmen itu ditegaskan Ketua BAZNAS Jatim Mohammad Ghofirin usai pelantikan jajaran pimpinan baru di Gedung Negara Grahadi, Surabaya. Menurutnya, arah baru tersebut akan diwujudkan melalui Nawa Pradana, sembilan program prioritas yang menjadi pedoman kerja BAZNAS Jatim lima tahun ke depan.
“Nawa Pradana menjadi pijakan BAZNAS Jatim dalam mengoptimalkan pengelolaan zakat, infak, sedekah, dan dana sosial keagamaan lainnya untuk kemajuan serta kesejahteraan masyarakat Jawa Timur,” ujar Ghofirin.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Sembilan program itu meliputi BAZNAS Jatim Peduli, Cerdas, Sehat, Sejahtera, Lestari, Tangguh, Amanah, Inklusif, dan Sinergi.
Program BAZNAS Jatim Peduli akan difokuskan pada layanan kemanusiaan bagi kelompok rentan, mulai dhuafa, yatim, lansia, penyandang disabilitas hingga gharimin. Sementara BAZNAS Jatim Cerdas diarahkan untuk memperluas akses pendidikan melalui beasiswa dan pendidikan vokasi bagi masyarakat kurang mampu.
Di bidang ekonomi, BAZNAS Jatim Sejahtera disiapkan untuk memperkuat usaha produktif penerima manfaat. Tujuannya, zakat tidak hanya habis untuk kebutuhan konsumtif, tetapi juga menjadi modal yang mampu meningkatkan taraf hidup mustahik.
Adapun BAZNAS Jatim Sinergi akan memperluas jaringan Unit Pengumpul Zakat (UPZ) serta memperkuat kolaborasi dengan pemerintah, lembaga amil zakat, dunia usaha, ulama, hingga lembaga pendidikan.
“Sinergi ini penting untuk mengoptimalkan pengumpulan dan pendayagunaan ZIS sekaligus memperkuat literasi agar basis muzaki semakin luas,” kata Ghofirin.
Pimpinan BAZNAS RI Bidang Organisasi, Kelembagaan, dan Pembinaan Daerah, Saidah Sakwan, menilai penguatan tata kelola dan kolaborasi menjadi kunci agar zakat benar-benar memberi dampak bagi masyarakat.
“BAZNAS Jatim harus menjaga tata kelola sekaligus menjadi bagian dari problem solving berbagai kebutuhan mustahik,” ujarnya.
Sementara itu, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengingatkan agar pengelolaan zakat tidak hanya berorientasi pada pemberian bantuan, tetapi juga menyentuh aspek pemberdayaan ekonomi, kesehatan mental, dan spiritual sehingga mustahik memiliki kesempatan untuk bangkit dan mandiri.
Dengan arah baru tersebut, BAZNAS Jatim menargetkan zakat tidak hanya menjadi instrumen bantuan sosial, tetapi juga motor penggerak kesejahteraan yang mampu melahirkan lebih banyak masyarakat mandiri dan pada akhirnya bertransformasi dari mustahik menjadi muzaki. (BS/za)











