Bicarasurabaya.com – Pandemi Covid-19 telah melanda di Indonesia hampir mencapai dua tahun. Di Kota Surabaya, Jawa Timur sendiri, data https://lawancovid-19.surabaya.go.id/ mencatat per Minggu 4 Juli 2021, angka konfirmasi dalam perawatan sebanyak 750 pasien. Sedangkan yang meninggal, secara kumulatif tercatat sebanyak 1,409 orang.
Meski sudah banyak pasien yang meninggal karena Covid-19, namun masih saja ada masyarakat yang tidak percaya dengan adanya Covid-19. Sehingga mereka masih abai dan enggan menerapkan protokol kesehatan.
Apalagi, saat ini warga mengaku sudah resah dengan banyaknya berita maupun media sosial yang beredar mengangkat seputar Covid-19.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Salah satunya adalah pria berinisial A, warga asal wilayah Surabaya Timur. Pria berinisial A tersebut memang mengakui adanya Covid-19, namun dia prihatin dengan banyaknya berita yang hanya mengangkat seputar Covid-19.
Hal ini diketahui ketika pria tersebut menanggapi sebuah berita seputar razia protokol kesehatan penerapan PPKM Darurat yang dishare di grub whatsapp salah satu RW di Surabaya pada Minggu (4/7/2021) siang.
“berita kok pancet (berita kok sama)
1.berita covid naik
2.berita meningal (meninggal) covid
3.berita cegatan (razia) masker
4.suntik vaksid (vaksinasi)
5,ubrak an warung (razia warung)
6.ppkn (PPKM)
tiap hari berita ikih ae PANCET,terus lah sampean share maneh padahal hp e wong sak kampung iku wes android ,???berarti kan pembodoh han ,,wong sampean ngeshare ngk oleh bayaran kok di share (Tiap hari berita Covid-19 saja. Terus anda share lagi padahal handphone orang satu kampung sudah android,??? Berarti kan pembodohan. Padahal anda ngeshare tidak dapat bayaran kok dishare),” tulis pria tersebut dalam sebuah grub whatsapp RW seperti dilihat media ini pada Minggu (4/7/2021).
Selain itu, dalam tanggapannya itu, pria ini juga mengajak warga lain agar tidak menjadi korban pembodohan publik.
Sebab, dia berpendapat, saat ini elektronik sudah canggih. Sehingga ketika berita itu tidak penting dan konteksnya sama, maka dia harap agar tidak dishare.
“dulur kabeh wong sang ….,OJOK GELEM DADI PEMBODOH HAN PUBLIK , jaman ikih wes canggih media elektronik e ,,,kl itu berita e ngak penting dan berita iku pancet ojok di share ,,,lagi ,,,,, (saudara semua orang se (…….), Jangan mau jadi pembodohan publik, zaman sekarang media elektronik, kalau itu berita tidak penting dan berita sama jangan dishare lagi),” tulis dia kembali.
Dia berpendapat, ketika berita seputar Covid-19 yang dishare ke publik, justru akan menimbulkan opini yang besar. Akhirnya, kata dia, penulis berita akan menerima bayaran, sedangkan masyarakat malah mendapat ketakutan.
“karna menimbulkan ke OPINI yang tambah besar,,,akhir e yang buat berita iku oleh bayaran lah sampean oleh ketakutan,,,,,tolong sampean berpikir logikan mawon, (karena menimbulkan opini yang tambah besar. Akhirnya yang buat berita dapat bayaran anda dapat ketakutan. Tolong anda berpikir logikanya saja),” tutup tanggapan pria tersebut. (BS02)











