Bicarasurabaya.com – Nilai transaksi perdagangan Jawa Timur dengan Kalimantan Utara mencapai Rp2,5 triliun. Namun, arus perdagangan keduanya belum berimbang. Dalam transaksi tersebut, nilai barang yang dijual pelaku usaha Jatim ke Kaltara mencapai Rp1,64 triliun, sedangkan pembelian dari Kaltara hanya Rp863,29 miliar.
Dengan demikian, Jatim mencatat surplus nilai perdagangan sekitar Rp781,36 miliar terhadap Kaltara. Angka ini menunjukkan posisi Jatim sebagai pemasok yang lebih besar dalam transaksi tersebut, dengan nilai penjualan hampir dua kali lipat dibandingkan pembeliannya dari Kaltara.
Data transaksi itu sekaligus memperlihatkan pola perdagangan kedua wilayah. Jatim lebih banyak memasok kebutuhan Kaltara, sementara arus barang dari Kaltara ke Jatim masih sangat bergantung pada komoditas sumber daya alam.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Dalam transaksi Selasa (8/9/2026), produk yang dijual pelaku usaha Jatim ke Kaltara cukup beragam. Mulai dari olahan daging unggas, susu, daging sapi, beras, pakan ikan, perlengkapan kapal, fashion dan kriya, benih hortikultura, kopi robusta, pupuk organik, besi beton hingga produk kerajinan kulit.
Sementara dari Kaltara ke Jatim, komoditas yang ditransaksikan antara lain kayu bulat, bandeng, kepiting soka, udang, PKE (Palm Kernel Expeller), tuna, rumput laut serta produk olahan patin.
Ketimpangan transaksi tersebut bukan fenomena baru. Data Perdagangan Antarwilayah Jawa Timur dengan Seluruh Provinsi Tahun 2024 mencatat total perdagangan Jatim-Kaltara mencapai Rp10,83 triliun.
Namun, struktur perdagangan menunjukkan konsentrasi yang cukup tinggi, terutama pada arus barang dari Kaltara ke Jatim.
Lima komoditas terbesar menyumbang 95,78 persen dari total pembelian Jatim dari Kaltara. Batu bara tidak diaglomerasi menjadi yang terbesar dengan kontribusi 41,86 persen, disusul minyak kelapa sawit mentah 35,10 persen.
Berikutnya adalah lembaran veneer, kayu lapis dan kayu digergaji 6,75 persen, buah dan kernel kelapa sawit 6,68 persen, serta ikan beku 5,39 persen.
Sebaliknya, perdagangan Jatim ke Kaltara lebih beragam. Lima komoditas terbesar menyumbang 61,69 persen penjualan. Pupuk menyumbang 24,05 persen, sepeda motor 15,29 persen, beras 9,67 persen, semen dan produk sejenis 9,02 persen, serta furnitur 3,65 persen.
Perbedaan struktur tersebut menunjukkan ruang pengembangan perdagangan dua arah masih terbuka. Jatim memiliki basis industri dan produk manufaktur yang lebih beragam, sedangkan pasokan Kaltara ke Jatim masih didominasi sejumlah komoditas primer.
Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa menilai kondisi tersebut dapat menjadi peluang untuk memperluas jenis komoditas sekaligus meningkatkan nilai transaksi.
“Ruang untuk memperluas perdagangan dua arah masih sangat terbuka, baik dari sisi diversifikasi komoditas maupun peningkatan nilai transaksi,” kata Khofifah.
Salah satu peluang yang mulai dilirik adalah sarang burung walet. Khofifah menyebut Kaltara memiliki potensi produksi walet yang besar, tetapi komoditas tersebut belum banyak terkoneksi dengan pasar Jatim maupun jaringan ekspor.
Jatim dinilai dapat menjadi penghubung karena memiliki jaringan perdagangan dan pengalaman membuka pasar walet ke sejumlah negara, termasuk Hong Kong, China, dan Korea Selatan.
“Apa yang menjadi kekuatan belum semua tereksplor,” ujar Khofifah.
Peluang tersebut penting karena pengembangan perdagangan tidak hanya soal menambah volume barang yang dipertukarkan. Produk dari Kaltara juga bisa diarahkan masuk ke rantai nilai yang lebih tinggi melalui pengolahan, perdagangan antardaerah hingga ekspor.
Surabaya, menurut Khofifah, dapat menjadi salah satu pintu distribusi untuk menghubungkan komoditas dari Kaltara dengan pasar internasional.
“Kalau kita ingin ekspor maka pintunya memang paling efisien itu dari Surabaya,” katanya.
Dengan transaksi Rp2,5 triliun dalam satu forum, hubungan dagang Jatim-Kaltara memang sudah memiliki skala besar. Tetapi angka tersebut juga memperlihatkan pekerjaan rumah: memperkecil ketergantungan pada sedikit komoditas dan membuat arus perdagangan dari Kaltara ke Jatim lebih beragam.
Di situlah nilai ekonomi kerja sama kedua wilayah diuji—bukan sekadar seberapa besar transaksi tercatat, tetapi seberapa banyak transaksi tersebut berkembang menjadi industri, investasi, rantai pasok, dan pasar baru. (BS/za)











