Bicarasurabaya.com – Kantor Pemkot Surabaya yang berada di Jalan Jimerto, rupanya memiliki kisah mistis tersendiri. Bangunan gedung yang memiliki 6 lantai ini sekarang digunakan kantor oleh beberapa Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Pemkot Surabaya.
Namun, tahu kah anda, jika gedung ini juga memiliki sisi mistis. Beberapa pegawai ‘lawas’ era Wali Kota Surabaya, Sunarto Sumoprawiro (Cak Narto), pasti pernah mengalaminya. Terutama, pegawai-pegawai yang pernah berjaga saat malam hari.
Sebut saja Abeng (bukan nama sebenarnya). Seorang pegawai di pemkot membagikan kisah mistis terkait bangunan di lantai 5 yang kini digunakan Kantor Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo). Meski bukan pengalaman pribadinya, namun ia meyakinkan bahwa cerita ini pernah dialami oleh rekannya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Kala itu, rekan Abeng bertugas jaga malam di gedung pemkot lantai 5. Usut punya usut, rekan Abeng ingin membuktikan sendiri buah bibir karyawan di sana adanya sosok hitam besar bermata merah yang menghuni lantai 5 Gedung Pemkot Surabaya.
“Teman saya dulu coba nggerandong atau istilahnya mencari nomor togel. Yah, iseng-iseng katanya ingin membuktikan adanya sosok itu,” kata Abeng mengawali ceritanya, Kamis (12/8/2021).
Pembuktian rekan Abeng rupanya bukan sekadar isapan jempol semata. Saat ‘melekan’ di sana, beberapa kali rekannya itu mendapat nomor. Meski tanpa syarat atau sesajen, namun tetiba saja muncul nomor dalam sebuah media ‘grenjeng’ kertas rokok.
“Jadi rekan saya nggerandong itu beberapa kali dapat nomor. Dan itu pas ditomboki (dipasang togel) katanya keluar terus,” ungkap Abeng.
Uang hasil dari usaha pasang togel itupun kemudian dibelikan beberapa barang mewah oleh rekannya. Dapat uang banyak tanpa kerja keras, rupanya semakin membuat rekan Abeng ketagihan. Hal itu pun lantas membuatnya tiap malam rutin mencari nomor togel di sana.
Lambat laun, ada peristiwa ganjil yang dialami rekan Abeng. Apalagi, ketika rekan Abeng itu pulang ke rumah dan bertemu dengan anaknya. Setiap pulang ke rumah, anak dari rekan Abeng itu menangis.
“Jadi anak dia itu yang kecil selalu menangis saat bertemu bapaknya. Nah, ketika bapaknya pergi ke luar rumah, baru anaknya itu diam. Dan itu terjadi terus,” kata Abeng.
Mengalami beberapa kali pengalaman ganjil, rekan Abeng pun bingung. Akhirnya, Abeng menyarankannya agar mendatangi orang pintar. “Di daerah Bronggalan Sawah, kan ada orang pintar. Nah, itu saya suruh dia ke sana. Barangkali dapat masukan atau arahan dari orang pintar itu,” cerita Abeng.
Setelah datang ke orang pintar, rekan Abeng akhirnya sadar. Bahwa yang dilakukannya itu tidak benar. Orang pintar pun memberikan masukan agar menjual semua barang hasil togel. Sementara uang yang masih ada, supaya disumbangkan ke anak yatim.
“Rekan saya disuruh menjual semua barang-barangnya hasil mendapatkan togel. Kemudian, uangnya disuruh memberikan ke anak-anak yatim,” kata Abeng.
Benar saja, ketika semua saran dari si orang pintar itu dilakukan, anak rekan Abeng pun tak menangis saat bertemu bapaknya. “Saya bilang ke kawan saya, setiap ada yang diberikan, pasti ya ada imbalannya. Sama ketika dikasih nomor (togel) dan tembus, pasti sosok dalbo itu ya minta imbalan,” tegas dia.
Akan tetapi, rekan Abeng rupanya masih penasaran dan ingin membuktikan keberadaan sosok dalbo tersebut. Tepat di malam Jum’at, rekan Abeng sengaja ‘melekan’ di lantai 5 gedung pemkot.
Ketika waktu menunjukkan pukul 12 malam, rupanya perasaan ganjil mulai dialami rekan Abeng. Seperti adanya angin semilir hingga suara mirip orang berjalan. Akhirnya, tepat 15 menit kemudian, sosok yang dinantikan muncul di depannya.
“Tiba-tiba ada suara telapak kaki besar kayak berjalan. Saya toleh kanan-kiri tidak ada orang. Saya pun tercengang saat sosok tinggi hitam besar di depan saya. Dan bola matanya itu besar merah menyala, saya langsung lari,” ucap Abeng menirukan cerita rekannya.
Merasa penasaran, Abeng sendiri pun mengaku pernah membuktikan keberadaan sosok Dalbo itu. Saat itu, ia juga memilih tak pulang ke rumah dan tidur malam di sana. “Saya pernah coba membuktikan itu pas malam hari tidur di sana. Dulu zaman Wali Kota Pak Narto, kan ada alas (tikar) itu kan tebel. Nah, itu saya tiduri,” kata Abeng.
Namun, ketika lagi enak-enaknya tidur, posisi Abeng tiba-tiba saja digeser. Lantas hal itu kemudian membuatnya lari tunggang langgang.
“Pas enak-enak tidur, eh malah saya seperti ada yang geser (pindah), saya pun langsung lari. Semenjak pengalaman itu hingga sekarang saya tak pernah berani lagi tidur di sana saat malam,” tutupnya. (BS02)











