Inovasi i-nose c-19 ITS Siap Diujicobakan di RSI Surabaya

- Publisher

Senin, 22 Februari 2021 - 22:48 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto bersama tim RSI Jemursari dengan tim ITS sambil menunjukkan perangkat i-nose c-19 /Ist

i

Foto bersama tim RSI Jemursari dengan tim ITS sambil menunjukkan perangkat i-nose c-19 /Ist


Bicarasurabaya.com – Perjalanan alat inovasi canggih untuk skrining Covid-19, i-nose c-19, masih terus berlanjut. Alat yang dikembangkan oleh guru besar Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Prof Riyanarto Sarno dan tim dalam tahapan penambahan sampel untuk proses uji profiling.

Dalam rangka penambahan sampel, Prof Riyanarto Sarno dan tim melakukan penyerahan empat alat i-nose c-19 di Rumah Sakit Islam (RSI) Jemursari Surabaya, Senin (22/2/2021).

Selain bersama tim, profesor yang akrab disapa Ryan ini juga ditemani oleh Ketua Majelis Wali Amanat (MWA) ITS, Prof Muhammad Nuh dan Direktur Riset dan Pengabdian kepada Masyarakat (DRPM) ITS Agus Muhamad Hatta.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Tak ketinggalan, hadir pula Direktur Utama RSI Jemursari dr Bangun Trapsila Purwaka. Peresmian penyerahan alat dan uji profiling ini juga ditujukan pada RSI Ahmad Yani, Surabaya.

Dalam sambutannya, Prof Muhammad Nuh mengungkapkan bahwa ini merupakan bagian dari perjalanan i-nose c-19. Setelah didemokan di Kementerian Riset dan Teknologi (Kemenristek), saat ini berlanjut untuk melangkah ke tahap selanjutnya, yaitu pengambilan sampel dan melakukan pengujian di beberapa rumah sakit.

Selain di RSI Jemursari dan RSI Ahmad Yani, kata M Nuh, tim i-nose c-19 juga telah bekerja sama dengan RSUD dr Soetomo dan National Hospital.

Baca Juga:  ITS Pertahankan Juara Umum KRI Empat Kali

“Inovasi baru bisa punya makna ketika sudah bisa dipakai di publik, maka dari itu ini saatnya buat i-nose untuk diujikan ke publik,” kata mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan periode 2009-2014 ini.

Sebagai Principal Inventor, Ryan juga menyampaikan perhatiannya pada masa pandemi yang menuntut untuk segera menghadirkan inovasi baru sebagai bentuk usaha bertahan di situasi ini. Namun, ia menilai bahwa untuk menghidupkan inovasi tidaklah mudah, tanpa penelitian yang lanjut maka bisa tertinggal dengan yang lain.

“Sama halnya dengan alat skrining Covid-19, yang semakin hari semakin banyak macam dan metodenya dari rapid antigen sampai PCR,” jelasnya.

Namun, guru besar Teknik Informatika ITS ini menegaskan, bahwa inovasi alat skrining Covid-19 melalui bau keringat ketiak ini bukan sebagai pengganti tes swab PCR. Tetapi hanya alat skrining atau deteksi awal Covid-19 sebelum seseorang melakukan swab PCR dan sebagai alternatif untuk mempercepat proses skrining.

“Cara kerja i-nose c-19 pun berbeda dengan rapid test berbasis antibodi maupun rapid antigen,” papar Ryan.

Tak hanya sampai di situ, menurut dia, i-nose c-19 saat ini keefektifannya sudah mencapai minimum 91 persen.

Baca Juga:  Bantu Pekerja di TPU Keputih, Kampus UK Petra Ciptakan "Troli Peti Jenazah"

“Diharapkan dengan semakin banyaknya sampel yang diuji cobakan pada alat ini nantinya semakin dapat membantu keakuratannya,” ungkapnya.

Mengingat, i-nose c-19 mendeteksi bau yang berasal dari Volatile Organic Compound (VOC) yang terdapat dalam keringat ketiak, pengambilan sampel dilakukan dengan menghisap bau keringat melalui selang kecil. Kemudian disalurkan ke deretan sensor (sensor array) pada i-nose c-19. Setelah itu, gas bau tersebut diubah menjadi sinyal listrik dan diolah menggunakan kecerdasan buatan (artificial intelligence).

Karena itu, dibutuhkan banyak uji coba dengan berbagai macam orang dengan kondisi tertentu, seperti orang yang terkena penyakit TBC namun negatif covid, orang yang positif covid namun tidak ada gejala dan lain-lain. Dalam hal ini akan menambah keakuratan dan keefektifan dari alat tersebut.

Penyerahan hibah i-nose c-19 ini mendapatkan sambutan baik dari pimpinan RSI. Dirut RSI Jemursari dr Bangun Trapsila Purwaka menyadari bahwa Covid-19 telah mempengaruhi seluruh dunia. Begitu juga seluruh dunia sedang berlomba untuk menggalakkan inovasi guna mendeteksi virus ini. “Dengan tes swab PCR yang ada sebenarnya sudah mudah bagi masyarakat untuk mengetahuinya,” Dirut RSI Jemursari.

Baca Juga:  Mahasiswa ITS Gagas Eduly, Platform Donasi Kebutuhan Sekolah

Namun ia menyebut, tidak semua orang bisa mengeluarkan biaya untuk melakukan tes yang harganya masih terhitung mahal ini. Hal tersebut bisa disimpulkan bahwa diagnosis dengan cari ini masih menjadi masalah.

“Dengan hadirnya i-nose c-19 ini luar biasa menjawab kebutuhan, juga sudah memenuhi kaidah skrining sehingga bisa dipakai untuk massa,” imbuhnya.

Nantinya, empat alat i-nose c-19 ini akan diletakkan di ruang rawat inap dua unit dan di ruang rawat jalan dua unit. Karena ini untuk mendukung penelitian dari i-nose c-19, menurut Bangun, maka untuk pengaplikasiannya nanti, orang-orang yang akan dites harus sudah di-swab PCR terlebih dulu. Hal ini berlaku untuk pasien dari luar maupun dari RSI sendiri.

“RSI beruntung bisa diikut sertakan dalam penelitian ini, ke depannya diharapkan bisa dijadikan tools karena murah dan cepat,” ucapnya.

Terakhir, Direktur DRPM ITS Agus Muhamad Hatta atau yang akrab disapa Hatta juga turut memberikan rasa terima kasihnya kepada pihak RSI yang sudah menjadi katalis yang baik bagi pengembangan i-nose c-19.

“Diharapkan selama proses pengujian ini bisa berjalan dengan baik dan nantinya bisa sesuai dengan yang diinginkan,” ungkap Hatta penuh harap. (BS02)

Berita Terkait

Tilang Manual Kembali Berlaku di Surabaya, Polisi Tegaskan Nol Toleransi Pungli
Pancaroba, Pakar ITS Ingatkan Pohon Kota Rawan Tumbang Saat Angin Kencang
UPN Veteran Jatim Bekali Siswa SDN Medokan Ayu Literasi Digital dan Keamanan Siber
Air Laut Pasang di Atas 2,4 Meter, Warga Surabaya Diminta Waspadai Rob
Menteri UMKM Dorong Pelaku Usaha Naik Kelas dan Mandiri
Digelar di UPN Veteran Jatim, Pelatihan Khatib dan Imam Profesional Diserbu Peserta
Abu Vulkanik Bisa Rusak Paru-paru, Ini Cara Melindunginya
Patahan Surabaya Viral, Pakar Geologi ITS: Belum Terverifikasi Aktif

Berita Terkait

Jumat, 2 Oktober 2026 - 07:42 WIB

Tilang Manual Kembali Berlaku di Surabaya, Polisi Tegaskan Nol Toleransi Pungli

Selasa, 29 September 2026 - 11:21 WIB

Pancaroba, Pakar ITS Ingatkan Pohon Kota Rawan Tumbang Saat Angin Kencang

Selasa, 29 September 2026 - 09:15 WIB

UPN Veteran Jatim Bekali Siswa SDN Medokan Ayu Literasi Digital dan Keamanan Siber

Jumat, 25 September 2026 - 12:28 WIB

Air Laut Pasang di Atas 2,4 Meter, Warga Surabaya Diminta Waspadai Rob

Kamis, 24 September 2026 - 07:03 WIB

Menteri UMKM Dorong Pelaku Usaha Naik Kelas dan Mandiri

Berita Terbaru

Foto: Ilustrasi Harga Emas Naik/bs

Bicara Ekonomi

Harga Emas Antam Hari Ini Naik Rp10 Ribu Jadi Rp2,58 Juta per Gram

Rabu, 7 Okt 2026 - 10:00 WIB

Bansos Rp9,87 Miliar Disalurkan ke Warga Magetan. (Foto: Humas Pemprov Jatim)

Bicara Jatim

Khofifah Salurkan Bansos Rp9,87 Miliar untuk Warga Magetan

Rabu, 7 Okt 2026 - 08:02 WIB