BicaraSurabaya.com – Inovasi membanggakan kembali dihasilkan oleh mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS). Kali ini, mahasiswa ITS berhasil merancang desain jembatan penghubung untuk diimplementasikan di ibu kota baru yang ada di Kalimantan Timur.
Ketiga mahasiswa tersebut tergabung dalam tim MAPS-19. Mereka adalah Yohanes Hadi Saputra, Christian Bagaskara, dan Arlo Al Rezza. Ketiganya pun berhasil menyelesaikan karyanya dalam waktu satu bulan.
Ketua tim, Yohanes Hadi Saputra, menjelaskan, bahwa inovasi rancangan jembatannya ini berangkat dari isu pemindahan ibu kota baru ke Kalimantan Timur. Hal ini menyebabkan perlunya dilakukan pembangunan infrastruktur, salah satunya adalah jembatan sebagai penghubung antartempat. Namun, jembatan yang ada saat ini masih terlihat sederhana dan seadanya.
“Makanya diperlukan desain jembatan yang modern dan futuristik untuk mendukung ibu kota baru nanti,” kata Yohanes.
Menurut Yohanes, jembatan rancangannya ini berbeda dengan jembatan pada umumnya. Sebab, rancangan jembatan miliknya menambahkan gelagar memanjang yang digunakan untuk memusatkan gaya menuju titik buhul (titik simpul). “Efeknya adalah defleksi pada jembatan menjadi kecil,” terangnya.
Selain itu, Yohanes mengungkapkan, jembatan rancangan timnya juga mengaplikasikan struktur jembatan menggunakan pelat tipe orthotropic. Pelat tipe ini dalam dunia konstruksi Indonesia jarang digunakan, sebab pelat tipe orthotropic terbuat dari material baja yang memiliki kekakuan berbeda dengan tipe lainnya.
Sehingga, lanjut Yohanes, rusuk pada pelat tersebut dapat mendistribusikan beban terhadap gelagar memanjang dengan maksimal. “Fungsinya untuk mempermudah proses konstruksi dan memperingan struktur jembatan di keadaan sebenarnya nanti,” papar dia.
Menariknya, jembatan rancangan tim MAPS-19 ini telah berhasil memiliki keefisienan struktur jembatan yang lebih baik. Mereka berhasil mendesain jembatan dengan mempertimbangkan kesesuaian dengan tipe pembebanan jembatan yang tepat yakni lebih kecil dari jarak antar axle kendaraan.
“Sehingga kekuatan jembatan yang kami rancang kami rasa lebih kuat dibanding dengan jembatan yang ada saat ini,” ungkap Yohanes.
Tak hanya itu, pada jembatan ini, Yohanes beserta timnya juga menyertakan alat penerang bertenaga energi terbarukan. Penerangan bertenaga energi terbarukan pada jembatan ini direncanakan menggunakan lampu yang memanfaatkan energi dari solar panel. “Harapannya jembatan kami juga dapat memenuhi kebutuhan energi secara mandiri nantinya,” tambahnya.
Mahasiswa angkatan 2017 ini memberi nama jembatan rancangannya dengan sebutan Jembatan Mulawarman. Nama ini terinspirasi dari Raja Mulawarman dari sejarah Kerajaan Kutai di Kalimantan Timur yang memiliki kedermawanan dengan menyedekahkan 20 ribu ekor sapi kepada kaum Brahmana untuk hajat hidup orang banyak.
“Sehingga dari filosofi tersebut, kami harapkan juga jembatan ini dapat berguna bagi banyak orang ke depannya,” tutup Yohanes. (BS02)






