Puslitbang TU Terus Kembangkan Pendeteksi Genangan Air di Runway

- Publisher

Jumat, 27 November 2020 - 07:59 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Melania Suweni Muntini menjelaskan dan menunjukkan komponen dari perangkat Standing Water Detector yang dirancang timnya pada purwarupa landasan pacu di bandara /Ist

i

Melania Suweni Muntini menjelaskan dan menunjukkan komponen dari perangkat Standing Water Detector yang dirancang timnya pada purwarupa landasan pacu di bandara /Ist


Bicarasurabaya.com – Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) bersama Pusat Penelitian dan Pengembangan Transportasi Udara (Puslitbang TU) Balitbang Kementerian Perhubungan (Kemenhub) terus berupaya mengembangkan hasil penelitiannya berupa Standing Water Detector (SWD).

Alat ini berfungsi untuk pendeteksi tingginya genangan air yang ada di landas pacu bandar udara (bandara).

Kehandalan dari hasil penelitian yang telah dilakukan sejak tahun 2018 itu pun dibahas dalam Focus Group Discussion (FGD) secara daring pada Kamis (26/11/2020) kemarin.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Ketua Peneliti SWD, Melania Suweni Muntini menjelaskan, bahwa persoalan utama dalam penerbangan ialah pilot pesawat terbang sering tidak mendapatkan informasi secara real-time mengenai genangan air (standing water) yang ada pada landasan pacu.

“Dengan alat ini, kita akan mendapatkan informasi mengenai ketinggian standing water yang ada pada landasan pacu, sehingga informasinya bisa digunakan untuk berbagai keperluan,” kata Melani sapaan lekatnya.

Selama enam bulan ke depan, kata Melani, pengembangan yang telah dimulai sejak tahun 2018 ini difokuskan pada uji kehandalan dari SWD dengan pengujian yang dilaksanakan secara langsung di Yogyakarta International Airport (YIA). Tahun ini pula, ditambahkan sensor untuk mengukur curah hujan yang terjadi secara real-time. “Pengukuran curah hujan akan bekerja bersama dengan pengukuran ketinggian air,” ujar dia.

Baca Juga:  ITS Boyong 12 Medali pada Pimnas ke-33

Selain di bandara, pengujian pun dilakukan di laboratorium terbuka Departemen Fisika ITS untuk memastikan bahwa alat bekerja dengan benar di kedua tempat. “Alasan lainnya juga karena jika di bandara, saat hujan kita tidak bisa melihat langsung alatnya karena berbahaya. Kalau di lab kita bisa mengalibrasi secara langsung setelah diakuisisi data,” tutur Melani.

Alat ini memiliki dua sistem deteksi yaitu hardware dan software. Untuk software, data-data seperti profil runway berupa kekasaran serta kemiringan runway. Hardware sendiri akan bisa mendeteksi temperatur dan kelembaban udara.

“Untuk metode deteksi standing water ini kita mengacu pada Peraturan Direktur Jenderal Perhubungan Udara No. KP 39 Tahun 2015 dan Annex 14, Aerodrome,” terang dosen Departemen Fisika ITS ini.

Baca Juga:  ITS Dominasi Kejuaraan KRI Regional 2020

Pada pengoperasiannya, purwarupa SWD akan diletakkan di samping landas pacu pada area touchdown. Saat hujan, aliran air dari landasan pacu akan menyentuh sensor pada purwarupa yang kemudian aliran ini akan dikonversikan menjadi data digital.

Selanjutnya, digabungkan dengan data sekunder seperti profil landasan pacu, akan memberikan output berupa ketinggian standing water. Pengingat akan menyala saat 25 persen alat menunjukkan bahwa ketinggian telah sama atau lebih dari 3 milimeter.

Tahap uji kehandalan kali ini, diselingi dengan sertifikasi dari SWD ini sendiri. Sertifikasi akan memerlukan prosedur dan turut serta dari berbagai pihak dalam bidang penerbangan.

Kepala Puslitbang Transportasi Udara, Capt Novyanto Widadi SAP mengatakan, pada tahap sertifikasi akan dipertimbangkan dari segi regulasi oleh Kemenhub. “Setelah tahap-tahap ini selesai, alat ini tentu akan bisa digunakan secara massal di berbagai bandar udara di Indonesia,” jelas dia.

Sementara itu, Kepala Kantor Otoritas Bandar Udara Wilayah I Kelas Utama, Mohammad Alwi mengungkapkan, semakin tidak pastinya curah hujan, alat ini sangat cocok diterapkan di Indonesia. “Jika alat ini sudah disertifikasi, kita tidak perlu ragu lagi untuk menggunakan alat ini,” ungkap dia

Baca Juga:  Satgas ITS Rilis Data Resmi Kasus Covid Covid-19 di Lingkup Sivitas Akademika

Respon positif didapat dari berbagai pihak yang berkecimpung dalam dunia penerbangan. General Manager AirNav Cabang Surabaya, MT Nurhuda menyampaikan, mengkomunikasikan kepada pilot yang akan melakukan pendaratan secara langsung mengenai standing water ini merupakan hal yang krusial agar pilot dapat membuat keputusan yang tepat dalam pendaratan.

“Ini tentu bisa mengurangi waktu pesawat untuk holding di udara, dan juga mengurangi tekanan pada air traffic controller,” kata Nurhuda

Nurhuda pun mengharapkan, purwarupa bisa diterapkan di Bandara Juanda, Surabaya dan bandara lainnya di Indonesia. Mengingat iklim dan hujan sudah mulai sulit untuk diprediksi, bahkan di Surabaya sendiri.

“Di Juanda pun sering ada standing water. Namun selama ini sepertinya pada ketinggian yang masih bisa ditoleransi, tapi kita ingin mengetahui secara pasti apakah ini aman atau tidak,” tandasnya. (BS02)

Berita Terkait

Pancaroba, Pakar ITS Ingatkan Pohon Kota Rawan Tumbang Saat Angin Kencang
UPN Veteran Jatim Bekali Siswa SDN Medokan Ayu Literasi Digital dan Keamanan Siber
Air Laut Pasang di Atas 2,4 Meter, Warga Surabaya Diminta Waspadai Rob
Menteri UMKM Dorong Pelaku Usaha Naik Kelas dan Mandiri
Digelar di UPN Veteran Jatim, Pelatihan Khatib dan Imam Profesional Diserbu Peserta
Abu Vulkanik Bisa Rusak Paru-paru, Ini Cara Melindunginya
Patahan Surabaya Viral, Pakar Geologi ITS: Belum Terverifikasi Aktif
Mahasiswa UPN Veteran Jatim Dampingi UMKM Wonorejo Perkuat Branding dan Pemasaran Digital

Berita Terkait

Selasa, 29 September 2026 - 11:21 WIB

Pancaroba, Pakar ITS Ingatkan Pohon Kota Rawan Tumbang Saat Angin Kencang

Selasa, 29 September 2026 - 09:15 WIB

UPN Veteran Jatim Bekali Siswa SDN Medokan Ayu Literasi Digital dan Keamanan Siber

Jumat, 25 September 2026 - 12:28 WIB

Air Laut Pasang di Atas 2,4 Meter, Warga Surabaya Diminta Waspadai Rob

Kamis, 24 September 2026 - 07:03 WIB

Menteri UMKM Dorong Pelaku Usaha Naik Kelas dan Mandiri

Minggu, 20 September 2026 - 12:45 WIB

Digelar di UPN Veteran Jatim, Pelatihan Khatib dan Imam Profesional Diserbu Peserta

Berita Terbaru

Foto: Ilustrasi Harga Emas Naik/bs

Bicara Ekonomi

Harga Emas Antam Hari Ini Naik Rp10 Ribu Jadi Rp2,58 Juta per Gram

Rabu, 7 Okt 2026 - 10:00 WIB

Bansos Rp9,87 Miliar Disalurkan ke Warga Magetan. (Foto: Humas Pemprov Jatim)

Bicara Jatim

Khofifah Salurkan Bansos Rp9,87 Miliar untuk Warga Magetan

Rabu, 7 Okt 2026 - 08:02 WIB