Ditangan Mahasiswa ITS, Produk Samping Minyak Jelantah Justru jadi Bermanfaat

- Publisher

Sabtu, 9 Januari 2021 - 12:32 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi /pixabay

i

Ilustrasi /pixabay


Bicarasurabaya.com – Produksi minyak jelantah akibat konsumsi minyak goreng yang meningkat di masyarakat diperkirakan mencapai 20 ribu ton setiap tahunnya. Beberapa pihak telah memanfaatkan minyak jelantah ini sebagai biodiesel, tetapi crude glycerol yang merupakan produk sampingnya masih terbuang begitu saja.

Mengangkat permasalahan ini, tiga mahasiswa dari Departemen Kimia Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) melahirkan sebuah inovasi untuk mengkonversi limbah tersebut menjadi asam laktat yang bermanfaat. Ketiganya yakni, Gardini Nilasari, Annisa Putri Agustin dan Dewi Septiningtyas.

Koordinator Tim, Gardini Nilasari mengungkapkan, penelitian ini awalnya merujuk pada menumpuknya crude glycerol di Laboratorium Instrumentasi dan Sains Analitik di Departemen Kimia ITS. Produk tersebut merupakan produk samping dari proses transesterifikasi minyak jelantah pada sintesis biodiesel.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Kalau dibuang akan menyebabkan limbah baru, padahal tujuan awal pemanfaatan minyak jelantah ini untuk mengurangi limbah,” kata Gardini dalam keterangan tertulis yang diterima Bicara Surabaya, Sabtu (9/1/2021).

Baca Juga:  Satgas ITS Rilis Data Resmi Kasus Covid Covid-19 di Lingkup Sivitas Akademika

Crude glycerol sendiri memiliki tingkat kemurnian dan nilai ekonomi yang rendah, sehingga perlu dimanfaatkan dengan cara dikonversi menjadi beberapa produk. Produk tersebut, antara lain yakni asam formiat, asam oksalat, asam gliserat, 1,2-propanadiol, serta asam laktat.

Dalam penelitian yang dilakukan Gardini beserta kedua anggota timnya bahwa produk tersebut dikonversi menjadi asam laktat.

Menurut Gardini, pemilihan asam laktat sebagai hasil konversi dikarenakan pemanfaatannya yang masif dalam industri. Hal ini membuat jumlah permintaan asam laktat semakin banyak dan diprediksi akan mencapai 1,96 juta ton pada tahun 2025 nanti.

“Asam laktat pun berpotensi digunakan sebagai bahan plastik poly lactic acid (PLA) yang mudah terurai, sehingga mendukung tujuan Sustainaible Development Goals (SDGs), yaitu menjaga ekosistem laut dan darat,” terangnya dia.

Mengenai proses konversinya, Gardini dan kedua rekannya menggunakan metode konversi katalitik hidrotermal dengan katalis Ni/grafit. Metode tersebut dipilih dengan hipotesis akan diperoleh hasil asam laktat yang tinggi dibandingkan metode konvensional (fermentasi). Serta, tidak diperlukan proses purifikasi untuk crude glycerol sehingga lebih efisien dan waktu yang diperlukan untuk reaksinya juga relatif cepat.

Baca Juga:  ITS Boyong 12 Medali pada Pimnas ke-33

Produksi asam laktat dengan katalis (zat untuk mempercepat reaksi) nanopartikel Ni/grafit memiliki tingkat konversi dan selektivitas tinggi, karena Ni/grafit berukuran nano dan luas permukaannya besar. Sehingga mendukung proses dehidrogenasi (pelepasan atom hidrogen, red) gliserol menjadi gliseraldehidgliseraldehida. Ditambah lagi, kata diakatalis tersebut tidak mudah menurunkan aktivitas dan selektivitasnya.

Dalam metode tersebut, Gardini menyatakan, perlu adanya penambahan natrium hidroksida untuk menciptakan suasana basa. Crude glycerol sendiri sudah memiliki derajat keasaman yang berkisar antara 8,93 sampai 9,4 yang tergolong sebagai basa, sehingga masalah dalam metode tersebut dapat terselesaikan.

“Sebagai informasi tambahan, derajat keasaman yang tinggi tersebut didapatkan dari sisa katalis basa pada proses transesterifikasi,” papar Gardini.

Baca Juga:  ITS Resmikan PUI-AHeS Secara Daring

Pandemi Covid-19 menjadikan adanya transformasi data dan target luaran pada penelitian yang dilakukan ketiga mahasisiwi ITS ini. Pada awalnya, bahasan terkait dengan komposisi crude glycerol minyak jelantah, hasil konversi katalitik gliserol menjadi asam laktat, serta rasio gliserol dan natrium hidroksida akan dibahas berdasarkan data primer dan uji laboratorium.

Namun demikian, dengan adanya transformasi, penelitian berubah menggunakan data sekunder dari studi literatur selama kurang lebih dua setengah bulan.

Gardini mengaku, banyak tantangan yang dihadapi timnya dalam proses studi literatur. Di mana setiap literatur harus memiliki kredibilitas tinggi dan dapat memperkuat setiap argumennya.

“Kami pun harus memunculkan pembaruan dan memperkuat kreativitas dari topik kami dalam penulisan target luaran dari PKM ini, seperti halnya narrative review, laporan kemajuan, dan laporan akhir,” jelas dia. (BS02)

Berita Terkait

Pancaroba, Pakar ITS Ingatkan Pohon Kota Rawan Tumbang Saat Angin Kencang
UPN Veteran Jatim Bekali Siswa SDN Medokan Ayu Literasi Digital dan Keamanan Siber
Air Laut Pasang di Atas 2,4 Meter, Warga Surabaya Diminta Waspadai Rob
Menteri UMKM Dorong Pelaku Usaha Naik Kelas dan Mandiri
Digelar di UPN Veteran Jatim, Pelatihan Khatib dan Imam Profesional Diserbu Peserta
Abu Vulkanik Bisa Rusak Paru-paru, Ini Cara Melindunginya
Patahan Surabaya Viral, Pakar Geologi ITS: Belum Terverifikasi Aktif
Mahasiswa UPN Veteran Jatim Dampingi UMKM Wonorejo Perkuat Branding dan Pemasaran Digital

Berita Terkait

Selasa, 29 September 2026 - 11:21 WIB

Pancaroba, Pakar ITS Ingatkan Pohon Kota Rawan Tumbang Saat Angin Kencang

Selasa, 29 September 2026 - 09:15 WIB

UPN Veteran Jatim Bekali Siswa SDN Medokan Ayu Literasi Digital dan Keamanan Siber

Jumat, 25 September 2026 - 12:28 WIB

Air Laut Pasang di Atas 2,4 Meter, Warga Surabaya Diminta Waspadai Rob

Kamis, 24 September 2026 - 07:03 WIB

Menteri UMKM Dorong Pelaku Usaha Naik Kelas dan Mandiri

Minggu, 20 September 2026 - 12:45 WIB

Digelar di UPN Veteran Jatim, Pelatihan Khatib dan Imam Profesional Diserbu Peserta

Berita Terbaru

Bansos Rp9,87 Miliar Disalurkan ke Warga Magetan. (Foto: Humas Pemprov Jatim)

Bicara Jatim

Khofifah Salurkan Bansos Rp9,87 Miliar untuk Warga Magetan

Rabu, 7 Okt 2026 - 08:02 WIB