Bicarasurabaya.com – Kekeringan yang meluas di Jawa Timur mendorong Pemprov Jatim menyiapkan operasi modifikasi cuaca (OMC). Langkah ini akan dilakukan jika terdapat potensi awan yang masuk ke wilayah daratan Jatim dan memungkinkan untuk dipicu menjadi hujan.
Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa mengatakan OMC menjadi salah satu upaya yang disiapkan untuk menghadapi kondisi kekeringan yang semakin meluas. Pemprov Jatim masih memantau potensi awan sebelum menentukan pelaksanaannya.
“Kalau ada awan potensial masuk ke daratan, kita akan lakukan modifikasi cuaca,” kata Khofifah dalam keterangan tertulis yang diterima bicarasurabaya.com, Senin (7/9/2026).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Rencana tersebut disiapkan di tengah kondisi kekeringan yang telah berdampak pada 20 kabupaten di Jatim. Hingga 5 September 2026, daerah yang mendapat dropping air meliputi Banyuwangi, Situbondo, Bondowoso, Probolinggo, Pasuruan, Jember, Lumajang, Pamekasan, Bangkalan, Malang, Blitar, Tulungagung, Trenggalek, Ponorogo, Ngawi, Mojokerto, Gresik, Lamongan, Bojonegoro, dan Pacitan.
Bantuan Air Tetap Berjalan
Sambil menunggu peluang pelaksanaan OMC, penanganan kebutuhan air bersih terus dilakukan. Di Pasuruan, sebanyak 19.837 warga dari 6.556 keluarga terdampak kekeringan mendapat bantuan air.
Pemprov Jatim menyalurkan 45 tandon berkapasitas 1.200 liter dan 500 jeriken berkapasitas 15 liter. Bantuan tersebut menyasar empat kecamatan, yakni Lumbang, Pasrepan, Winongan, dan Kejayan.
Lumbang menjadi wilayah dengan jumlah warga terdampak terbanyak, mencapai 8.966 orang dari 2.923 keluarga. Di wilayah ini, BPBD juga mendistribusikan 6.000 liter air, tiga tandon, 50 jeriken, serta mengerahkan tiga truk tangki berkapasitas masing-masing 6.000 liter.
Namun, distribusi air tersebut masih menjadi solusi sementara. Pemkab Pasuruan tengah mencari penanganan yang lebih permanen bagi wilayah yang setiap tahun mengalami kekeringan.
Berharap Hujan Segera Turun
Khofifah mengatakan koordinasi antara Pemprov Jatim dan pemerintah daerah akan terus dilakukan untuk memperluas jangkauan bantuan. Selain distribusi air, bantuan kebutuhan pokok juga diberikan kepada warga terdampak.
Pemprov Jatim juga mengajak masyarakat dan tokoh agama untuk bersama-sama berdoa agar hujan segera turun. Khofifah menyebut salat istisqa dapat menjadi salah satu ikhtiar masyarakat menghadapi musim kering.
Status siaga kekeringan dan kebakaran hutan serta lahan di Jatim sendiri telah ditetapkan melalui Keputusan Gubernur Jatim Nomor 100.3.3.1/327/013/2026 pada 26 Mei 2026. Status tersebut berlaku selama 133 hari untuk seluruh 38 kabupaten/kota di Jatim.
Dengan OMC yang mulai disiapkan, Pemprov Jatim kini menunggu kondisi awan yang memungkinkan untuk dilakukan penyemaian. Sementara itu, dropping air tetap menjadi andalan untuk memastikan kebutuhan dasar warga di wilayah terdampak kekeringan tetap terpenuhi. (BS/za)











