Bicarasurabaya.com – Badan Gizi Nasional (BGN) membantah kabar viral yang menyebut ada belatung dalam menu Makan Bergizi Gratis (MBG) di Sidoarjo. Namun, di tengah penyelidikan dugaan keracunan massal, operasional dapur SPPG Kalitengah, Tanggulangin, tetap dihentikan sementara.
Wakil Koordinator BGN Regional Jawa Timur Teguh Bayu Wibowo memastikan isu adanya belatung dalam makanan MBG tidak benar. Bantahan itu disampaikan setelah kabar tersebut ramai beredar di media sosial pascainsiden dugaan keracunan yang menimpa ratusan siswa dan santri.
“Terkait yang viral di media sosial katanya ada belatung, itu tidak ada. Tidak benar,” kata Teguh yang dikutip, Kamis (3/9/2026).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Menurut Teguh, BGN Jatim bersama Koordinator Wilayah Sidoarjo telah melakukan penelusuran awal dan verifikasi di lapangan. Dari pemeriksaan tersebut, tidak ditemukan kontaminasi ulat atau belatung seperti yang disebut dalam narasi di media sosial.
Meski demikian, penyebab gangguan kesehatan massal tersebut belum dipastikan. Pemeriksaan laboratorium terhadap sampel makanan masih berlangsung.
566 Orang Terdampak
Data terbaru menunjukkan total korban dugaan keracunan MBG di Sidoarjo mencapai 566 orang. Mereka berasal dari santri Pondok Pesantren Manba’ul Hikam Putat, Tanggulangin, serta siswa dari 19 sekolah lain di sekitar lokasi.
Kepala Dinas Kesehatan Sidoarjo Lakhsmie Herawati Yuwantina mengatakan sebagian besar korban mulai membaik. Sebanyak 470 orang telah diperbolehkan pulang atau menjalani rawat jalan.
Sementara itu, 88 korban lainnya masih menjalani perawatan di rumah sakit.
BGN memastikan penanganan para korban tetap menjadi prioritas. Deputi Pemantauan dan Pengawasan BGN Ketut Sumedana mengatakan pihaknya mengawal penanganan kesehatan siswa yang terdampak.
“Kami memastikan mereka mendapatkan penanganan yang diperlukan hingga kondisi mereka kembali sehat dan dapat pulang,” ujar Ketut.
BGN juga menyatakan seluruh biaya perawatan medis korban akan ditanggung, baik untuk pasien rawat inap maupun rawat jalan.
Dapur SPPG Kalitengah Disuspend
Di sisi lain, BGN menghentikan sementara operasional SPPG Kalitengah sejak laporan pertama dugaan keracunan diterima.
SPPG tersebut sebelumnya melayani sekitar 2.800 porsi MBG setiap hari. Dapur yang mulai beroperasi pada April 2026 itu mendistribusikan makanan ke dua sekolah di lingkungan pondok pesantren serta 19 sekolah swasta dan TK di sekitarnya.
BGN Pusat juga telah mengirim tim investigasi untuk mengusut penyebab kejadian. Tim tersebut dipimpin Direktur Pengawasan Wilayah 2 BGN, Brigjen Doni.
Ketut mengatakan hasil investigasi akan menjadi dasar untuk memastikan penyebab gangguan kesehatan yang dialami ratusan penerima MBG.
“Hasilnya nanti akan kita umumkan apa yang menyebabkan terjadinya keracunan,” katanya.
Hingga kini, pemeriksaan laboratorium masih berjalan. BGN menyatakan evaluasi terhadap operasional SPPG akan dilakukan secara menyeluruh, termasuk memperketat pengawasan untuk mencegah kejadian serupa kembali terjadi. (BS/za)






