Bicarasurabaya.com – Pemerintah Kota Surabaya meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi ancaman penyakit zoonosis atau penyakit yang dapat menular dari hewan ke manusia. Fokus utama diarahkan pada penguatan deteksi dini, edukasi masyarakat, serta kolaborasi lintas sektor guna mencegah potensi wabah, terutama saat musim hujan.
Upaya tersebut diperkuat melalui Lokakarya Edukasi Pencegahan Penyakit Zoonosis yang digelar Dinas Kesehatan (Dinkes) Surabaya bersama Kementerian Kesehatan, Portal Kesehatan Masyarakat (Portkesmas), dan Kelompok Kerja Risk Communication and Community Engagement (RCCE). Kegiatan ini melibatkan berbagai perangkat daerah, puskesmas, puskeswan, PMI, PKK, PD Pasar Surya, hingga media.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Surabaya, dr. Atiek Tri Arini, mengatakan kewaspadaan menjadi kunci utama agar penyakit zoonosis tidak berkembang menjadi kejadian luar biasa (KLB).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Kami terus memperkuat surveilans, meningkatkan koordinasi dengan sektor kesehatan hewan dan lingkungan, serta mengintensifkan edukasi kepada masyarakat agar memahami risiko dan langkah pencegahannya sejak dini,” ujarnya, Rabu (22/7/2026).
Salah satu penyakit yang menjadi perhatian adalah leptospirosis, yang berpotensi meningkat saat musim hujan akibat paparan air yang terkontaminasi urine tikus. Karena itu, Dinkes rutin mengeluarkan surat edaran kewaspadaan banjir kepada seluruh puskesmas, kecamatan, dan kelurahan.
Masyarakat diimbau menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, seperti menggunakan alas kaki saat melewati genangan air, mencuci tangan dengan sabun, serta segera membersihkan diri setelah terpapar air banjir.
“Tikus berkembang biak di lingkungan yang kotor dan lembap. Jika urine tikus mengenai kulit yang terluka, bakteri leptospirosis dapat masuk ke tubuh,” jelas Atiek.
Ia juga meminta warga segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami demam tinggi, nyeri seluruh tubuh tanpa batuk atau pilek, terlebih jika disertai gangguan buang air kecil setelah terpapar banjir.
Selain leptospirosis, Dinkes juga meningkatkan kewaspadaan terhadap Gigitan Hewan Penular Rabies (GHPR). Meski Surabaya bukan daerah endemis rabies, warga diminta tetap segera mencari pertolongan medis apabila tergigit hewan yang berpotensi menularkan rabies.
Berdasarkan data Surveilans Kesehatan Daerah (SKDR), Surabaya tidak mencatat kasus suspek flu burung pada manusia maupun antraks sejak 2021 hingga pekan ke-27 tahun 2026. Namun, tren leptospirosis dan GHPR masih menjadi perhatian.
Sepanjang 2025 tercatat 25 suspek leptospirosis dan 40 kasus GHPR. Sementara hingga pekan ke-27 tahun 2026 telah dilaporkan 14 suspek leptospirosis dan 33 kasus GHPR.
Perwakilan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Surabaya, drh. Wafiroh, mengingatkan masyarakat untuk rutin memvaksinasi hewan peliharaan guna mencegah rabies. Warga juga diminta menghindari kontak dengan unggas yang sakit atau mati mendadak, serta tidak menyembelih maupun mengonsumsi ternak yang sakit karena berisiko menularkan penyakit seperti flu burung dan antraks.
Sementara itu, Program Manager Portkesmas, dr. Basra Ahmad Amru, menilai koordinasi lintas sektor menjadi fondasi penting dalam menghadapi ancaman penyakit zoonosis.
“Jangan sampai ketika wabah muncul, kita tidak siap. Kolaborasi lintas sektor membuat upaya pencegahan dan penanganan bisa dilakukan lebih cepat dan efektif,” katanya.
Senada, Ketua Pokja RCCE Rizky Ika Syafitri menekankan pentingnya penyampaian informasi kesehatan yang akurat kepada masyarakat. Menurutnya, komunikasi yang baik akan mendorong masyarakat menerapkan langkah-langkah pencegahan sehingga risiko penyebaran penyakit dapat ditekan sejak dini. (BS/za)









