Bicarasurabaya.com – Video podcast yang viral di TikTok karena memuat kritik disertai kata-kata kasar kepada Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa dan Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi menuai reaksi dari warga. Salah satunya datang dari warga Surabaya, Kusnan, yang menilai cara penyampaian kritik dalam video tersebut tidak mencerminkan etika.
Menurut Kusnan, setiap orang berhak mengkritik kebijakan maupun kinerja pejabat publik. Namun, kritik tidak seharusnya disampaikan dengan umpatan atau bahasa yang merendahkan.
“Kritis oleh, tegas oleh, tapi congormu kudu dijogo,” kata Kusnan saat dikonfirmasi, Rabu (22/7/2026).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Dalam bahasa Indonesia, pernyataan itu berarti, “Kritis boleh, tegas boleh, tetapi mulut harus dijaga.”
Kusnan menegaskan, kritik yang disampaikan secara santun justru lebih mudah diterima dan menunjukkan kedewasaan dalam menyampaikan pendapat. Ia pun mengingatkan agar setiap orang menghormati sesama, termasuk saat menyampaikan ketidaksetujuan terhadap seorang pemimpin.
“Lek awakmu gak gelem disebut kewan, opo maneh wong tuwomu gak gelem disebut kewan,” ujarnya.
Pernyataan tersebut bermakna bahwa seseorang seharusnya tidak menghina orang lain apabila dirinya sendiri tidak ingin diperlakukan dengan cara yang sama.
Sebelumnya, sebuah video podcast yang diunggah akun TikTok @bekicotminumsusuuu viral setelah menampilkan narasumber yang mengkritik kinerja Khofifah dan Eri Cahyadi dengan menggunakan kata-kata kasar. Hingga berita ini ditulis, belum ada tanggapan resmi dari pihak Pemerintah Provinsi Jawa Timur maupun Pemerintah Kota Surabaya terkait video tersebut. (BS/za)









