Bicarasurabaya.com – Surabaya kehilangan salah satu putra terbaiknya. Prof. Ir. Johan Silas, pakar tata kota sekaligus akademisi senior Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), meninggal dunia pada usia 90 tahun di RS Kemenkes Surabaya, Senin (8/6/2026) pukul 03.24 WIB.
Kepergian Johan Silas tak hanya meninggalkan duka bagi dunia akademik, tetapi juga bagi Kota Surabaya yang selama puluhan tahun menjadi ruang pengabdiannya. Berbagai gagasan dan pemikirannya telah mewarnai arah pembangunan Kota Pahlawan, mulai dari penataan permukiman, perumahan, hingga pelestarian cagar budaya.
Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Surabaya, Maria Theresia Ekawati Rahayu, menyebut Johan Silas sebagai salah satu tokoh yang memiliki pengaruh besar dalam perjalanan pembangunan kota.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Beliau tidak hanya dikenal karena keilmuannya, tetapi juga dedikasinya yang panjang dalam memberikan pemikiran dan arah bagi penataan kota yang lebih baik,” ujar perempuan yang akrab disapa Yayuk, Rabu (10/6/2026).
Salah satu warisan penting Johan Silas adalah lahirnya konsep Rumah Susun Sombo atau Rusunawa Sombo. Gagasan tersebut menjadi tonggak penataan kawasan permukiman perkotaan yang lebih layak dan berkelanjutan di tengah meningkatnya tantangan urbanisasi.
Bagi Johan Silas, pembangunan kota tidak sekadar menghadirkan bangunan fisik, tetapi juga harus mampu meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Prinsip itulah yang kemudian banyak memengaruhi kebijakan pembangunan di Surabaya.
Tak hanya di bidang tata ruang dan perumahan, Johan Silas juga aktif mengawal pelestarian sejarah kota. Sebagai penasihat Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Surabaya, ia turut mendorong berbagai upaya menjaga identitas kota di tengah pesatnya pembangunan modern.
Pengabdiannya juga berlanjut melalui perannya sebagai Komisaris PT Yekape (YKP). Dari posisi tersebut, ia ikut mengawal pengembangan kawasan hunian yang ramah lingkungan dan berpihak pada kebutuhan warga. Sejumlah kawasan seperti Eco Medayu dan Eco Wonosakti menjadi bagian dari gagasan pembangunan berkelanjutan yang selama ini ia dorong.
Menurut Yayuk, warisan terbesar Johan Silas bukan hanya karya fisik yang masih berdiri hingga kini, melainkan nilai dan prinsip yang ditanamkannya dalam setiap proses pembangunan.
“Beliau selalu mengingatkan bahwa pembangunan harus dilakukan sesuai ketentuan dan perencanaan yang baik,” katanya.
Sebagai akademisi, Johan Silas juga dikenal mampu menjembatani dunia pendidikan dan praktik pembangunan. Berbagai pemikirannya tidak berhenti di ruang kuliah, tetapi diterapkan untuk menjawab persoalan nyata perkotaan. Dari kampus ITS, ia turut melahirkan banyak generasi penerus yang kini berkiprah di berbagai bidang, termasuk pemerintahan.
Bahkan di usia senja, semangat pengabdiannya tidak pernah surut. Johan Silas tetap aktif memberikan masukan dan pandangan mengenai masa depan Surabaya hingga menjelang akhir hayatnya.
“Beliau adalah salah satu putra terbaik Surabaya yang mendedikasikan hidupnya untuk kemajuan kota ini,” ujar Yayuk.
Kini sosok yang selama puluhan tahun ikut menjaga arah pembangunan Surabaya telah berpulang. Namun jejak pemikiran dan nilai-nilai yang ditinggalkannya tetap hidup dalam wajah kota yang terus berkembang, menjadi warisan bagi generasi Surabaya di masa mendatang.(BS/za)









