Bicarasurabaya.com – Satu calon jemaah haji (CJH) Embarkasi Surabaya dipastikan gagal berangkat ke Tanah Suci setelah dinyatakan positif Tuberkulosis (TBC) berdasarkan hasil skrining kesehatan Balai Besar Kekarantinaan Kesehatan (BBKK) Surabaya.
Pemeriksaan dilakukan terhadap seluruh calon jemaah yang tiba di Asrama Haji Embarkasi Surabaya. Skrining meliputi pengecekan tekanan darah, tes urine bagi perempuan usia subur, hingga pemeriksaan TBC.
Kepala BBKK Surabaya Rosidi Roslan mengatakan, total ada 21 calon jemaah yang dirujuk ke rumah sakit karena mengalami gangguan kesehatan dan terindikasi TBC.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Dari 21 jemaah yang menjalani skrining TB tahap kedua di kabupaten/kota, satu orang dinyatakan positif sehingga tidak diberangkatkan karena tidak laik terbang,” kata Rosidi dalam keterangannya yang dikutip, Jumat (8/5/2026).
Sementara itu, calon jemaah lain yang hasil skriningnya negatif tetap menjalani pemantauan kesehatan. Jika kondisinya belum stabil, keberangkatan bisa ditunda ke kloter berikutnya.
“Ada yang hasilnya negatif, tetapi masih kita lihat penguatan kondisinya. Kalau membaik dan lolos skrining, bisa diberangkatkan di kloter selanjutnya,” ujarnya.
Rosidi menegaskan, jemaah yang dinyatakan laik terbang tidak boleh memiliki penyakit menular. Karena itu, skrining kesehatan dilakukan ketat sebelum keberangkatan ke Arab Saudi.
BBKK Surabaya juga mengimbau jemaah menggunakan masker saat berada di kerumunan, terutama jika mengalami gangguan kesehatan seperti batuk atau kondisi tubuh menurun.
“Kita sarankan memakai masker kalau kondisi kurang fit, apalagi saat berada di keramaian karena banyak jemaah dari berbagai negara,” katanya.
Selain kasus TBC, mayoritas keluhan kesehatan calon jemaah haji di Embarkasi Surabaya didominasi penyakit penyerta atau komorbid. Rosidi menyebut sekitar 70 persen jemaah tergolong kategori risiko tinggi.
Hingga kini, tercatat lebih dari 600 kunjungan ke klinik asrama haji dengan keluhan seperti kelelahan, diabetes, hipertensi, kolesterol tinggi, anemia, hingga pemeriksaan kehamilan.
“Ada juga jemaah yang tidak diberangkatkan karena hamil di bawah 14 minggu,” ujarnya.
Tak hanya itu, lebih dari 500 calon jemaah tercatat menggunakan kursi roda. Mayoritas merupakan lansia berusia di atas 60 tahun atau memiliki riwayat penyakit tertentu.
“Biasanya karena faktor usia, pernah jatuh, hipertensi, atau sering pusing sehingga membutuhkan kursi roda,” kata Rosidi.
Meski demikian, BBKK memastikan seluruh jemaah pengguna kursi roda tetap mendapat pendampingan petugas haji serta pengawasan konsumsi obat selama menjalankan ibadah haji.(BS/za)











