Bicarasurabaya.com – Limbah kopi yang selama ini menjadi persoalan lingkungan di Desa Sumberdem, Kabupaten Malang, mulai diolah menjadi produk bernilai ekonomi. Universitas Kristen Petra (UK Petra) Surabaya menggandeng Pemerintah Australia menggelar pelatihan pengolahan kulit dan ampas kopi bagi petani setempat.
Program ini berjalan melalui skema Direct Aid Program (DAP) dari Konsulat Jenderal Australia di Surabaya, dengan fokus pada pengelolaan limbah sekaligus penguatan ekonomi masyarakat.
Ketua tim pengabdian masyarakat UK Petra, Togar Wiliater Soaloon Panjaitan, mengatakan pelatihan ini bertujuan mengubah cara pandang petani terhadap limbah kopi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Kami ingin limbah kopi tidak lagi dianggap sisa produksi, tetapi menjadi peluang usaha yang bisa menambah pendapatan,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Kamis (23/4/2026).
Dalam pelatihan yang digelar di Balewiyata Majelis Agung GKJW Malang pada 17 April 2026, peserta diajarkan mengolah kulit kopi menjadi sirup cascara dan teh, serta memanfaatkan ampas kopi menjadi arang bernilai jual.
Peserta yang terdiri dari petani dan kelompok perempuan tidak hanya mendapat teori, tetapi juga praktik langsung produksi.
Wakil Konsul Jenderal Australia di Surabaya, Christine Bui, menekankan pentingnya keterlibatan perempuan dalam program ini. Menurutnya, pengolahan limbah kopi dapat membuka sumber pendapatan baru sekaligus mendorong ekonomi berkelanjutan di tingkat desa.
Meski memiliki potensi ekonomi, program ini masih menghadapi sejumlah tantangan, seperti keterbatasan alat produksi dan akses pasar. Untuk itu, UK Petra menyiapkan pendampingan lanjutan, mulai dari standarisasi produk, pengemasan, hingga strategi pemasaran.
Salah satu peserta, Harjendra, mengaku pelatihan ini membuka peluang baru bagi petani. Selama ini, kulit kopi hanya dimanfaatkan sebagai pupuk atau dibuang.
“Sekarang kami tahu bisa diolah jadi sirup dan teh, bahkan punya nilai jual,” katanya.
Melalui kolaborasi ini, UK Petra dan mitra internasional menargetkan terbentuknya ekosistem pengolahan kopi yang lebih ramah lingkungan sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani lokal.(BS/za)









