Menilik Alat Pendeteksi Limbah Karya Mahasiswa ITS

- Publisher

Rabu, 28 Desember 2022 - 19:29 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Alat spektrometer pentakromatik, hasil rancangan tim PKM-KC ITS (Humas ITS)

i

Alat spektrometer pentakromatik, hasil rancangan tim PKM-KC ITS (Humas ITS)


Bicarasurabaya.com – Sektor industri menghasilkan berbagai larutan limbah yang mana 80 persennya dibuang tanpa pengolahan tepat. Salah satu penyebabnya adalah kegagalan dalam mengidentifikasi kandungan limbah tersebut.

Berangkat dari permasalahan ini, tim mahasiswa dari Insitut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) mengembangkan sebuah inovasi baru berupa Spektrometer Pentakromatik.

Tim ini mengembangkan Spektrometer Pentakromatik dengan jaringan syaraf tiruan untuk identifikasi polutan organik dan anorganik dalam air limbah industri. Untuk dapat mengolah larutan limbah tersebut, kandungannya perlu diidentifikasi terlebih dahulu agar proses pengolahan yang tepat dapat ditentukan.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Oleh sebab itu, alat seperti spektrometer pentakromatik ini diperlukan supaya dapat mengidentifikasi kandungan larutan limbah dengan cepat dan akurat.

Salah satu anggota tim, Safri Aulia Rusdi menjelaskan, bahwa spektrometer pentakromatik ini bekerja dengan cara menentukan absorbansi cahaya tampak oleh suatu larutan. Dengan mengetahui absorbansi cahayanya, kandungan larutan tersebut dapat ditentukan.

‘Limbah saat diuji dengan spektrometer ini akan menghasilkan suatu spektrum absorbansi,” kata Rusdi dalam keterangannya dikutip Rabu (28/12/2022).

Baca Juga:  Kolaborasi ITS dan Alumni Hadirkan Sumur Wakaf di 10 Daerah Indonesia

Cahaya tampak yang dimaksud adalah cahaya yang dapat dilihat oleh mata telanjang manusia dengan panjang gelombang antara 380 sampai dengan 750 nanometer. Untuk alat ini, cahaya dipancarkan oleh lima lampu LED dengan warna yang berbeda-beda, yaitu ungu, hijau, biru, kuning, dan merah.

Untuk menggunakan alat ini, Rusdi menyebutkan bahwa pertama-tama larutan diletakkan di sebuah kuvet dan dimasukkan ke dalam alat. Lalu, cahaya dari lima lampu LED dipancarkan melalui larutan limbah sehingga sebagian dari cahaya tersebut diabsorpsi oleh larutan.

“Nilai absorbansi tersebut lalu ditentukan oleh sebuah detektor menggunakan prinsip hukum Lambert-Beer,” terang Rusdi.

Setiap larutan akan memiliki tingkat absorbansi yang unik terhadap lima warna yang dipancarkan. Seperti contoh, jika sebuah larutan mengabsorpsi cahaya merah yang berlebihan, maka tingkat absorbansi cahaya merah tersebut akan memiliki nilai yang tinggi dan begitu pula sebaliknya. Tahap terakhir dari proses ini adalah memasukkan nilai-nilai absorbansi larutan terhadap semua lima warna cahaya ke dalam sebuah komputer.

Baca Juga:  Berhasil Selesaikan Perahu Fiberglass Pemuda Papua: Terima Kasih Mama Menteri

Rusdi menyebutkan jika komputer ini akan menggunakan algoritma Jaringan Saraf Tiruan Feed Forward Neural Network (JST FFNN) untuk mencocokkan nilai-nilai absorbansi yang telah didapatkan oleh spektrometer pentakromatik dengan database yang telah dibuat sebelumnya. “Setelah ini, kandungan larutan dapat langsung teridentifikasi,” imbuhnya.

Menurut dia, secara keseluruhan, proses ini memiliki beberapa keuntungan dibandingkan dengan proses menggunakan spektrometer ultraviolet (UV) yang lebih konvensional. Yang pertama, proses ini relatif lebih cepat. Setelah memasukkan kuvet ke dalam alat dan mengambil pengukuran absorbansi cahaya, kandungan larutan dapat ditentukan saat itu juga.

“Proses identifikasi kandungan menggunakan spektrometer UV bisa satu hari atau lebih,” tutur mahasiswa Departemen Teknik Fisika ITS ini.

Tidak hanya itu, Rusdi juga menjelaskanz bahwa biaya pembuatan spektrometer pentakromatik ini relatif lebih murah. Secara total, biaya produksi spektrometer pentakromatik hanya berkisar sekitar Rp 2 juta. Biaya ini sudah termasuk keseluruhan komponen dan upah pekerja.

Baca Juga:  Bantu Produksi UMKM, Mahasiswa ITS Ciptakan Alat Pengering Kerupuk Otomatis

“Spektrometer biasa itu bisa sampai belasan juta rupiah, Rp 14 juta ke atas biasanya,” ucapnya.

Bahkan dengan kelebihan-kelebihan tersebut, Rusdi optimis bahwa alat ini masih memiliki potensi pengembangan yang cukup luas. Tingkat keakuratan alat ini dapat ditingkatkan lebih lanjut dengan cara memperbaiki algoritma JST FFNN beserta database-nya.

Tidak hanya itu, kuvet yang digunakan sebagai tempat penampung larutan dapat dihubungkan secara langsung dengan saluran air limbah agar proses identifikasi limbah dapat dilakukan secara lebih cepat lagi.

Berkat kerja keras seluruh anggota tim yang dibimbing oleh dosen Departemen Fisika ITS Dr rer nat Ruri Agung Wahyuono ST MT, spektrometer pentakromatik ini dapat dikembangkan dengan sukses.

Alhasil, tim Program Kreativitas Mahasiswa Karsa Cipta (PKM-KC) ini membantu menyukseskan ITS meraih peringkat III di ajang Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (Pimnas) ke-35 dengan mendapatkan medali emas dan perunggu pada kelas Poster dan Presentasi. (BS02)

Berita Terkait

Pancaroba, Pakar ITS Ingatkan Pohon Kota Rawan Tumbang Saat Angin Kencang
UPN Veteran Jatim Bekali Siswa SDN Medokan Ayu Literasi Digital dan Keamanan Siber
Air Laut Pasang di Atas 2,4 Meter, Warga Surabaya Diminta Waspadai Rob
Menteri UMKM Dorong Pelaku Usaha Naik Kelas dan Mandiri
Digelar di UPN Veteran Jatim, Pelatihan Khatib dan Imam Profesional Diserbu Peserta
Abu Vulkanik Bisa Rusak Paru-paru, Ini Cara Melindunginya
Patahan Surabaya Viral, Pakar Geologi ITS: Belum Terverifikasi Aktif
Mahasiswa UPN Veteran Jatim Dampingi UMKM Wonorejo Perkuat Branding dan Pemasaran Digital

Berita Terkait

Selasa, 29 September 2026 - 11:21 WIB

Pancaroba, Pakar ITS Ingatkan Pohon Kota Rawan Tumbang Saat Angin Kencang

Selasa, 29 September 2026 - 09:15 WIB

UPN Veteran Jatim Bekali Siswa SDN Medokan Ayu Literasi Digital dan Keamanan Siber

Jumat, 25 September 2026 - 12:28 WIB

Air Laut Pasang di Atas 2,4 Meter, Warga Surabaya Diminta Waspadai Rob

Kamis, 24 September 2026 - 07:03 WIB

Menteri UMKM Dorong Pelaku Usaha Naik Kelas dan Mandiri

Minggu, 20 September 2026 - 12:45 WIB

Digelar di UPN Veteran Jatim, Pelatihan Khatib dan Imam Profesional Diserbu Peserta

Berita Terbaru

Bansos Rp9,87 Miliar Disalurkan ke Warga Magetan. (Foto: Humas Pemprov Jatim)

Bicara Jatim

Khofifah Salurkan Bansos Rp9,87 Miliar untuk Warga Magetan

Rabu, 7 Okt 2026 - 08:02 WIB