Bicarasurabaya.com – Pandemi Covid-19 telah berdampak pada semua sektor. Tak hanya kesehatan, namun sektor pendidik juga terkena imbasnya. Hal ini membuat proses pembelajaran yang biasanya dilakukan secara tatap muka, harus berubah menjadi daring atau online.
Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya turut berupaya memutus rantai penyebaran Covid-19 dengan mengikuti aturan pemerintah untuk melakukan proses kegiatan perkuliahan secara online.
Salah satunya dengan mengadakan program Kuliah Kerja Nyata (KKN) secara individu di tempat tinggal mahasiswa masing-masing. Egga Alvionita adalah salah satu mahasiswi program studi Ilmu Komunikasi, Untag Surabaya yang menjadi peserta KKN.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Dengan dosen pembimbing, Muchamad Rizqi, Egga melakukan KKN selama 12 hari di daerah tempat tinggalnya. Yakni, di Jalan Randu Tejo No.16 RT 15 RW 13, Kelurahan Sidotopo Wetan, Kecamatan Kenjeran Surabaya.
Pada KKN ini, program kerja yang dilakukannya yakni, “Sosialisasi Penerapan Protokol Kesehatan dan Pendampingan Belajar di Era New Normal Pada Siswa Sekolah Dasar”.
Egga memilih program kerja tersebut karena di Randu Tejo mayoritasnya adalah anak-anak sekolah dasar yang belum pernah mendapatkan sosialisasi tentang Covid-19.
“Sehingga banyak sekali anak-anak yang kurang sadar akan bahayanya Covid-19 dan tidak menggunakan masker apabila bermain ke luar rumah,” kata Egga dalam keterangan tertulis, Jum’at (8/1/2021).
Sosialisasi yang dilakukan Egga yakni dengan memberikan edukasi tentang pentingnya menaati protokol kesehatan dan memberikan gambaran tentang bahayanya Covid-19. Selain melakukan sosialisasi, mahasiswi berkerudung ini juga membagikan hand sanitizer.
Tak hanya sekadar melakukan sosialisasi, Egga juga mengajarkan anak-anak untuk membuat masker tie dye.
“Program ini diharapkan agar anak-anak lebih sadar akan bahaya Covid-19, serta disiplin menggunakan masker tie dye yang telah mereka buat sendiri,” terangnya.

Di samping membuat masker, Egga juga memberikan pendampingan belajar kepada anak-anak setiap malam minimal 2 jam/hari dengan cara menyenangkan.
“Antusias anak-anak untuk belajar sangatlah besar, hal ini terlihat dari permintaan anak-anak untuk terus diadakan pendampingan belajar walaupun program KKN telah usai,” ujar Egga.
Para orang tua anak berharap, dengan adanya kegiatan KKN yang dilakukan Egga ini dapat membuat anak-anak menjadi lebih semangat untuk belajar. Apalagi, setiap malam anak-anak lebih memilih untuk bermain dari pada belajar dan mengerjakan tugas di rumah.
“Anak-anak itu lek (kalau) malam main terus. Gak pernah belajar, kalau dapet (dapat) tugas sekolah ya yang ngerjain ibunya,” kata Rafita, salah satu orang tua anak yang mengikuti kegiatan KKN
Egga berharap dari beberapa program kerja yang telah dilakukannya ini dapat bermanfaat bagi anak-anak di daerah tempat tinggalnya. Di sisi lain, ia juga berharap agar anak-anak lebih disiplin dan tidak bosan menerapkan protokol kesehatan. (BS02)









