Mahasiswa ITS Rancang Pengolahan Limbah Domestik tanpa Emisi

- Publisher

Rabu, 28 Oktober 2020 - 12:31 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Rancangan keseluruhan IPAL oleh tim Grisse dari ITS /Ist

i

Rancangan keseluruhan IPAL oleh tim Grisse dari ITS /Ist


Bicarasurabaya.com – Mahasiswa Departemen Teknik Lingkungan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) merancang sebuah instalasi pengolahan limbah air (IPAL) limbah domestik tanpa emisi (zero emission).

Tidak hanya mengolah limbah, IPAL yang diusung tim mahasiswa bernama Grisse ini juga difungsikan sebagai media pemberdayaan masyarakat di RT 19/RW 02, Kroman, Gresik, Jawa Timur.

Ketua tim Grisse, Mas Den Rum menjelaskan, bahwa IPAL yang dirancang timnya mampu mengolah limbah domestik sekaligus, baik jenis grey water maupun black water. Grey water sendiri adalah air limbah dari kegiatan rumah tangga nonkakus seperti memasak atau mencuci. Sedangkan black water adalah air limbah dari kegiatan kakus.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Biasanya black water ditampung di septic tank, sedangkan grey water langsung dibuang ke badan air,” terangnya.

Menurut Deni, sapaan akrabnya, perlakuan terhadap limbah ini seringkali menimbulkan masalah. Ia memberi contoh, seringkali terjadi kebocoran septic tank pada pengolahan black water. Akibatnya, air tanah sering tercemari rembesan septic tank.

Baca Juga:  I-BOT, Serangga Asisten Pencari Korban Bencana Inovasi Mahasiswa ITS

“Selain itu, septic tank juga menimbulkan pencemaran udara akibat gas metana yang dihasilkan,” tambahnya.

Deni menyebut, pengolahan limbah pada IPAL rancangan timnya melibatkan beberapa tahap. Tahap pertama adalah menampung limbah. Tahap ini bertujuan untuk mencampur black water dan grey water serta menstabilkan debit limbah ke tahap selanjutnya. “Kemudian pengolahan dilanjutkan ke unit Integrated Anaerobic-Aerobic Sequencing Batch Reactor (IAASBR),” paparnya.

Sesuai namanya, pada unit ini terdapat mekanisme aerobik dan anaerobik. Menurut Deni, pengolahan limbah dengan dua mekanisme sekaligus ini dinilai lebih efektif. Pasalnya, jika diolah dengan mekanisme anaerobik saja, maka hasil pengolahan belum memenuhi baku mutu untuk dibuang ke badan air.

“Sedangkan jika mekanisme aerobik saja kurang efektif di biaya,” kata mahasiswi angkatan 2017 ini.

Setelah keluar dari unit ini, Deni menjelaskan, bahwa air sudah memenuhi baku mutu air limbah untuk dibuang ke badan air. Namun, alih-alih melakukan hal tersebut, Deni bersama tim memutuskan untuk memanfaatkan air limbah yang dihasilkan.

Baca Juga:  ITS Ungkap Potensi dan Risiko Bioetanol E10 untuk Kendaraan

“Tidak hanya itu, kami memanfaatkan kembali semua emisi yang dihasilkan unit pengolahan limbah,” imbuhnya.

Deni menjabarkan, emisi tersebut adalah air pengolahan limbah, lumpur, dan gas metan. Tim melakukan disinfektasi pada air hasil pengolahan limbah untuk membunuh bakteri berbahaya. “Kemudian air ini kami tampung untuk menyiram tanaman dan mencuci kendaraan warga,” sebut mahasiswi berkacamata ini.

Emisi selanjutnya adalah lumpur. Deni memaparkan, unit pengolahan biologis seperti yang diusulkan umumnya menghasilkan lumpur sebagai hasil degradasi polutan. Maka, timnya memanfaatkan lumpur tersebut untuk pembuatan kompos. Bersama tim, Deni merancang sendiri drum-drum pengolahan kompos yang mudah dioperasikan.

“Kami juga menambahkan daun-daun kering pada pembuatan kompos secara aerobik di drum tersebut,” ujarnya.

Baca Juga:  Jadwal SNMPTN dan UTBK - SBMPTN Resmi Diluncurkan, ITS Siapkan Sosialisasi

Emisi terakhir yang dimanfaatkan adalah gas metan. Gas ini disebutkan Deni juga dihasilkan dari unit IAASBR. Ia menyebut, ketika gas metan sudah memenuhi standar pembuatan biogas, maka gas akan ditangkap dan ditampung.

“Selanjutnya kami memberdayakan masyarakat untuk mendistribusikan biogas dengan sistem arisan,” jelasnya.

Yang menarik, Deni dan tim tidak hanya sekedar merancang IPAL, namun juga ingin rancangan ini lebih bisa diimplementasikan di masyarakat. Oleh karena itu, perancangan ini dilakukan dengan mengambil studi kasus di RT 19/RW 02 Kroman, Gresik.

“Selain karena kami berasal dari Gresik, lokasi ini cocok sebab berada di tengah kota, padat penduduk, serta dekat dengan pesisir,” ungkapnya.

Tidak sia-sia, rancangan ini mampu meraih penghargaan Favorite Landscape kategori Limbah Domestik dalam ajang Lomba Desain IPAL 2020 yang diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Agustus lalu. (BS02)

Berita Terkait

Pancaroba, Pakar ITS Ingatkan Pohon Kota Rawan Tumbang Saat Angin Kencang
UPN Veteran Jatim Bekali Siswa SDN Medokan Ayu Literasi Digital dan Keamanan Siber
Air Laut Pasang di Atas 2,4 Meter, Warga Surabaya Diminta Waspadai Rob
Menteri UMKM Dorong Pelaku Usaha Naik Kelas dan Mandiri
Digelar di UPN Veteran Jatim, Pelatihan Khatib dan Imam Profesional Diserbu Peserta
Abu Vulkanik Bisa Rusak Paru-paru, Ini Cara Melindunginya
Patahan Surabaya Viral, Pakar Geologi ITS: Belum Terverifikasi Aktif
Mahasiswa UPN Veteran Jatim Dampingi UMKM Wonorejo Perkuat Branding dan Pemasaran Digital

Berita Terkait

Selasa, 29 September 2026 - 11:21 WIB

Pancaroba, Pakar ITS Ingatkan Pohon Kota Rawan Tumbang Saat Angin Kencang

Selasa, 29 September 2026 - 09:15 WIB

UPN Veteran Jatim Bekali Siswa SDN Medokan Ayu Literasi Digital dan Keamanan Siber

Jumat, 25 September 2026 - 12:28 WIB

Air Laut Pasang di Atas 2,4 Meter, Warga Surabaya Diminta Waspadai Rob

Kamis, 24 September 2026 - 07:03 WIB

Menteri UMKM Dorong Pelaku Usaha Naik Kelas dan Mandiri

Minggu, 20 September 2026 - 12:45 WIB

Digelar di UPN Veteran Jatim, Pelatihan Khatib dan Imam Profesional Diserbu Peserta

Berita Terbaru

Bansos Rp9,87 Miliar Disalurkan ke Warga Magetan. (Foto: Humas Pemprov Jatim)

Bicara Jatim

Khofifah Salurkan Bansos Rp9,87 Miliar untuk Warga Magetan

Rabu, 7 Okt 2026 - 08:02 WIB