Bicarasurabaya.com – Informasi soal patahan aktif yang disebut melintasi Surabaya ramai di media sosial. Pakar geologi Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Amien Widodo meluruskan informasi tersebut dan meminta masyarakat tidak panik.
Isu itu mencuat setelah sebuah akun Instagram mengunggah video yang menyebut Surabaya memiliki patahan aktif baru. Video yang diunggah sekitar sepekan lalu tersebut telah ditonton 476 ribu kali, mendapat 15,1 ribu likes, dan 1.081 komentar.
Amien mengatakan keberadaan patahan di wilayah Surabaya bukan informasi baru. ITS bersama Pusat Survei Geologi-Badan Geologi Kementerian ESDM sebelumnya telah melakukan penelitian mengenai peta patahan di Jawa Timur yang dipublikasikan pada 2024.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Hasil penelitian tersebut menunjukkan terdapat dua patahan, yaitu Patahan Surabaya dan Patahan Waru,” kata Amien, dalam keterangannya yang diterima bicarasurabaya.com, Jumat (11/9/2026).
Menurut Amien, kedua patahan tersebut memiliki potensi aktif dan pernah mengalami pergerakan. Namun, kondisi itu tidak otomatis membuat patahan tersebut dapat disebut sebagai patahan aktif.
“Patahan yang melewati Surabaya, Sidoarjo, hingga Bangkalan memang ada, tetapi belum terverifikasi aktif,” ujarnya.
Ia menjelaskan, status aktif sebuah patahan harus ditentukan berdasarkan penelitian dan bukti ilmiah. Karena itu, diperlukan kajian lebih lanjut sebelum suatu patahan dikategorikan aktif.
“Kita harus memahami bahwa ada patahan yang aktif dan tidak aktif. Untuk menyebutnya sebagai patahan aktif, perlu dilakukan penelitian lebih lanjut,” jelasnya.
Amien pun meminta masyarakat lebih kritis terhadap informasi kebencanaan yang beredar di media sosial. Informasi yang belum terverifikasi secara ilmiah, menurutnya, tidak seharusnya menjadi sumber kepanikan.
Meski demikian, bukan berarti potensi gempa di Surabaya dan sekitarnya bisa diabaikan. Amien menilai pemerintah daerah tetap perlu memperkuat kesiapsiagaan dan mitigasi bencana.
Salah satunya dengan menyiapkan alat untuk mendeteksi pergerakan atau pergeseran tanah. Pemerintah juga dinilai perlu memiliki peta kawasan rawan gempa sebagai dasar dalam menentukan kebijakan pembangunan.
Dengan pemetaan tersebut, bangunan di kawasan berisiko dapat diarahkan memenuhi standar bangunan tahan gempa. Langkah itu penting untuk menekan dampak jika gempa terjadi.
Dengan demikian, keberadaan patahan seharusnya tidak berhenti pada kekhawatiran. Informasi tersebut justru dapat menjadi momentum untuk memperkuat mitigasi dan kesiapsiagaan menghadapi risiko bencana.
Upaya tersebut sejalan dengan komitmen ITS terhadap Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya tujuan ke-11 tentang kota dan permukiman yang berkelanjutan serta tangguh menghadapi risiko bencana. (BS/za)











