Patahan Surabaya Viral, Pakar Geologi ITS: Belum Terverifikasi Aktif

- Publisher

Jumat, 11 September 2026 - 09:15 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ahli Mitigasi Bencana ITS Dr Ir Amien Widodo memaparkan bahwa patahan yang ada di video viral yaitu melewati Surabaya, Sidoarjo, hingga Bangkalan memang ada tetapi belum terverifikasi aktif. (Foto: Humas ITS)

i

Ahli Mitigasi Bencana ITS Dr Ir Amien Widodo memaparkan bahwa patahan yang ada di video viral yaitu melewati Surabaya, Sidoarjo, hingga Bangkalan memang ada tetapi belum terverifikasi aktif. (Foto: Humas ITS)

Bicarasurabaya.com – Informasi soal patahan aktif yang disebut melintasi Surabaya ramai di media sosial. Pakar geologi Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Amien Widodo meluruskan informasi tersebut dan meminta masyarakat tidak panik.

Isu itu mencuat setelah sebuah akun Instagram mengunggah video yang menyebut Surabaya memiliki patahan aktif baru. Video yang diunggah sekitar sepekan lalu tersebut telah ditonton 476 ribu kali, mendapat 15,1 ribu likes, dan 1.081 komentar.

Amien mengatakan keberadaan patahan di wilayah Surabaya bukan informasi baru. ITS bersama Pusat Survei Geologi-Badan Geologi Kementerian ESDM sebelumnya telah melakukan penelitian mengenai peta patahan di Jawa Timur yang dipublikasikan pada 2024.

“Hasil penelitian tersebut menunjukkan terdapat dua patahan, yaitu Patahan Surabaya dan Patahan Waru,” kata Amien, dalam keterangannya yang diterima bicarasurabaya.com, Jumat (11/9/2026).

Menurut Amien, kedua patahan tersebut memiliki potensi aktif dan pernah mengalami pergerakan. Namun, kondisi itu tidak otomatis membuat patahan tersebut dapat disebut sebagai patahan aktif.

“Patahan yang melewati Surabaya, Sidoarjo, hingga Bangkalan memang ada, tetapi belum terverifikasi aktif,” ujarnya.

Ia menjelaskan, status aktif sebuah patahan harus ditentukan berdasarkan penelitian dan bukti ilmiah. Karena itu, diperlukan kajian lebih lanjut sebelum suatu patahan dikategorikan aktif.

Baca Juga:  Semeru Ditutup, 1.235 Pendaki Gagal Naik, TNBTS Buka Refund

“Kita harus memahami bahwa ada patahan yang aktif dan tidak aktif. Untuk menyebutnya sebagai patahan aktif, perlu dilakukan penelitian lebih lanjut,” jelasnya.

Amien pun meminta masyarakat lebih kritis terhadap informasi kebencanaan yang beredar di media sosial. Informasi yang belum terverifikasi secara ilmiah, menurutnya, tidak seharusnya menjadi sumber kepanikan.

Meski demikian, bukan berarti potensi gempa di Surabaya dan sekitarnya bisa diabaikan. Amien menilai pemerintah daerah tetap perlu memperkuat kesiapsiagaan dan mitigasi bencana.

Salah satunya dengan menyiapkan alat untuk mendeteksi pergerakan atau pergeseran tanah. Pemerintah juga dinilai perlu memiliki peta kawasan rawan gempa sebagai dasar dalam menentukan kebijakan pembangunan.

Baca Juga:  Daya Beli Lesu, Pedagang Daging Surabaya Turunkan Harga

Dengan pemetaan tersebut, bangunan di kawasan berisiko dapat diarahkan memenuhi standar bangunan tahan gempa. Langkah itu penting untuk menekan dampak jika gempa terjadi.

Dengan demikian, keberadaan patahan seharusnya tidak berhenti pada kekhawatiran. Informasi tersebut justru dapat menjadi momentum untuk memperkuat mitigasi dan kesiapsiagaan menghadapi risiko bencana.

Upaya tersebut sejalan dengan komitmen ITS terhadap Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya tujuan ke-11 tentang kota dan permukiman yang berkelanjutan serta tangguh menghadapi risiko bencana. (BS/za)

Berita Terkait

Buronan Kasus Fidusia Rp60 Miliar Ditangkap Saat Isi BBM di Gorontalo
Khofifah Salurkan Bansos Rp9,87 Miliar untuk Warga Magetan
Penyelundupan Sabu dalam Ayam Goreng ke Lapas Surabaya Digagalkan
Polisi Sita Tabung LPG 50 Kg dari Lokasi Ledakan Tempong Sri Dewi Surabaya
Tempong Sri Dewi Minta Maaf Usai Ledakan LPG di San Antonio Surabaya
Dampak Ledakan Pakuwon City Capai Radius 50 Meter, Puluhan Bangunan Rusak
5 Korban Ledakan Pakuwon City Dirawat, 2 Dirujuk ke RSUD Dr Soetomo
3 LPG 50 Kg Diduga Picu Ledakan Dahsyat di Pakuwon City, Polisi: Bukan Bom

Berita Terkait

Rabu, 7 Oktober 2026 - 08:41 WIB

Buronan Kasus Fidusia Rp60 Miliar Ditangkap Saat Isi BBM di Gorontalo

Rabu, 7 Oktober 2026 - 08:02 WIB

Khofifah Salurkan Bansos Rp9,87 Miliar untuk Warga Magetan

Rabu, 7 Oktober 2026 - 07:32 WIB

Penyelundupan Sabu dalam Ayam Goreng ke Lapas Surabaya Digagalkan

Rabu, 7 Oktober 2026 - 07:13 WIB

Polisi Sita Tabung LPG 50 Kg dari Lokasi Ledakan Tempong Sri Dewi Surabaya

Rabu, 7 Oktober 2026 - 06:54 WIB

Tempong Sri Dewi Minta Maaf Usai Ledakan LPG di San Antonio Surabaya

Berita Terbaru

Bansos Rp9,87 Miliar Disalurkan ke Warga Magetan. (Foto: Humas Pemprov Jatim)

Bicara Jatim

Khofifah Salurkan Bansos Rp9,87 Miliar untuk Warga Magetan

Rabu, 7 Okt 2026 - 08:02 WIB