Bicarasurabaya.com – Mahasiswi Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Inovasi Pesantren Kelompok 12 Universitas Pembangunan Nasional (UPN) “Veteran” Jawa Timur memanfaatkan galon bekas menjadi media hidroponik sistem apung di Pondok Pesantren Nurul Iman Putri, Dusun Togor, Desa Gebangan, Kecamatan Kraksaan, Kabupaten Probolinggo.
Program tersebut berawal dari banyaknya galon bekas yang tidak lagi digunakan di lingkungan pesantren. Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Iman, Habib Hasan Al-Muhdor, sebelumnya mendorong mahasiswa memanfaatkan barang-barang tersebut agar memiliki nilai guna.
“Galon bekas yang sudah tidak terpakai di pondok cukup banyak, kurang lebih ada 100 galon. Kami berharap bisa dimanfaatkan oleh mahasiswa,” ujar Habib Hasan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Menindaklanjuti hal itu, mahasiswi KKN mengembangkan hidroponik dengan sistem apung atau floating system. Galon bekas dipotong, dicat, kemudian diisi air. Bagian atasnya dilengkapi styrofoam berlubang sebagai tempat netpot, sementara rockwool digunakan sebagai media tanam.
Ketua KKN Kelompok 12 Tematik Inovasi Pesantren UPN “Veteran” Jawa Timur, Aura Arwa Azzahra, mengatakan pemanfaatan galon bekas menjadi hidroponik dirancang agar memberikan manfaat lingkungan sekaligus mendukung kebutuhan pangan pesantren.
“Kami ingin galon yang sebelumnya tidak terpakai memiliki nilai guna. Selain mempercantik lingkungan asrama, hidroponik ini juga bisa menghasilkan sayuran yang nantinya dapat dimanfaatkan oleh para santri,” kata Aura.
Dalam program tersebut, mahasiswa menanam kailan, pakcoy, dan kangkung. Ketiga jenis sayuran dipilih karena memiliki masa tanam relatif singkat sehingga dapat dipanen dalam waktu lebih cepat.
Hidroponik galon yang dibuat mahasiswa saat ini masih menjadi contoh awal dengan memanfaatkan sebagian galon yang tersedia. Selanjutnya, pengurus dan santri diharapkan dapat mengembangkan sistem serupa secara mandiri.
Dosen Pendamping Lapangan (DPL) R. Ayu Firdausi Novira R menilai pemanfaatan barang bekas menjadi media hidroponik sejalan dengan semangat inovasi pesantren yang menekankan keberlanjutan dan pemberdayaan.
“Program KKN seharusnya tidak berhenti pada pembuatan produk atau fasilitas. Kami mendorong mahasiswa menghadirkan inovasi sederhana yang dapat diteruskan oleh santri dan memberikan manfaat dalam jangka panjang,” ujar Ayu.
Menurutnya, hidroponik berbasis galon bekas juga dapat menjadi sarana edukasi bagi santri untuk mengenal pertanian modern sekaligus membangun kepedulian terhadap pengelolaan limbah.
Aura berharap program tersebut dapat terus dikembangkan setelah masa KKN selesai.
“Harapannya, hidroponik ini tidak hanya menjadi hiasan, tetapi juga menjadi sumber pangan dan sarana belajar pertanian ramah lingkungan bagi para santri,” katanya.
Melalui program tersebut, mahasiswa KKN UPN “Veteran” Jawa Timur berupaya mengubah barang bekas menjadi sarana produktif sekaligus mendorong terciptanya lingkungan pesantren yang lebih hijau, mandiri, dan berkelanjutan. (Penulis: R. Ayu Firdausi Novira R dan Tim KKN Inovasi Pesantren PP Nurul Iman)









