Bicarasurabaya.com – Banjir rob sempat menggenangi dua sekolah di kawasan pesisir Surabaya pada awal pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Tahun Ajaran 2026/2027. Meski demikian, proses MPLS tetap berlangsung normal setelah genangan cepat ditangani.
Dua sekolah yang terdampak berada di kawasan Romokalisari dan Kalianak. Begitu menerima laporan kenaikan air laut, Pemkot Surabaya langsung mengerahkan armada penyedot air melalui koordinasi Dispendik, Damkar, Dinas Lingkungan Hidup (DLH), serta pemerintah kecamatan dan kelurahan.
Kepala Dispendik Surabaya, Febrina Kusumawati, mengatakan penanganan banjir rob di lingkungan sekolah telah menjadi prosedur yang rutin dijalankan saat air laut pasang.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Begitu air mulai naik, petugas langsung bergerak. Armada Damkar dan DLH kami kerahkan agar genangan cepat surut dan tidak mengganggu kegiatan belajar,” kata Febrina, Sabtu (18/7/2026).
Menurutnya, banjir rob di Surabaya umumnya hanya berlangsung sekitar satu hingga dua jam. Namun, Pemkot memilih melakukan penyedotan sejak awal agar air tidak semakin tinggi.
Di sekolah negeri kawasan Romokalisari, genangan hanya terjadi di halaman sekolah sehingga tidak mengganggu ruang kelas. Sementara di sekolah swasta di Kalianak, air sempat mencapai sekitar mata kaki sebelum akhirnya surut sekitar satu hingga satu setengah jam setelah dilakukan penyedotan.
Febrina memastikan informasi yang menyebut siswa dipulangkan akibat rob tidak benar. Seluruh rangkaian MPLS tetap berlangsung sesuai jadwal tanpa ada kegiatan yang dibatalkan.
“Tidak ada siswa yang dipulangkan karena rob. MPLS tetap berjalan seperti biasa,” tegasnya.
Ia menambahkan, penanganan dilakukan tanpa membedakan sekolah negeri maupun swasta. Seluruh sekolah yang berada di kawasan rawan rob menjadi prioritas agar aktivitas belajar tetap aman dan nyaman.
Untuk penanganan jangka panjang, khususnya di sekolah swasta kawasan Kalianak, perubahan konstruksi bangunan masih memerlukan kajian karena menyesuaikan kondisi masing-masing sekolah dan yayasan pengelola. Sementara itu, fokus utama saat ini adalah memastikan respons cepat di lapangan sehingga genangan segera surut dan kegiatan belajar mengajar tidak terganggu. (BS/za)











