Bicarasurabaya.com – Pencemaran tanah, air, hingga udara masih menjadi persoalan lingkungan di berbagai daerah. Menjawab tantangan tersebut, Guru Besar Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Prof Ipung Fitri Purwanti mengembangkan teknologi bioremediasi berbasis bakteri untuk memulihkan lingkungan yang tercemar.
Selama lebih dari 20 tahun meneliti di bidang teknik lingkungan, Prof Ipung mengembangkan metode yang memanfaatkan mikroorganisme untuk menguraikan berbagai jenis polutan. Teknologi ini tidak hanya ditujukan untuk membersihkan tanah yang tercemar minyak, tetapi juga berpotensi diterapkan pada pencemar lain, termasuk logam berat.
Riset diawali dengan mengisolasi bakteri yang secara alami hidup di lokasi tercemar. Setelah dikembangkan di laboratorium, bakteri tersebut dimanfaatkan kembali untuk menguraikan polutan pada lokasi dengan karakteristik pencemaran serupa.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Pendekatan ini lebih efektif karena memanfaatkan mikroorganisme yang sudah beradaptasi dengan lingkungan tercemar,” ujar Prof Ipung dalam keterangan tertulisnya, Selasa (21/7/2026).
Dalam penelitiannya, ia menggunakan sejumlah bakteri, di antaranya Bacillus cereus, Bacillus subtilis, Pseudomonas aeruginosa, dan Staphylococcus gallinarum. Jenis terakhir menjadi temuan yang paling menonjol setelah berhasil diisolasi dari tanah yang tercemar limbah kerosin hasil pengolahan aspal.
Menurut Ipung, Staphylococcus gallinarum memiliki kemampuan lebih baik dalam bertahan hidup sekaligus menguraikan senyawa pencemar dibandingkan beberapa bakteri lain yang telah diuji.
Selain menggunakan bakteri tunggal, tim peneliti ITS juga mengembangkan metode konsorsium bakteri, yakni mengombinasikan beberapa jenis mikroorganisme untuk meningkatkan efektivitas bioremediasi. Namun, hasil penelitian menunjukkan kombinasi bakteri tidak selalu memberikan hasil yang lebih baik karena bergantung pada kemampuan masing-masing mikroorganisme untuk saling bersinergi.
Teknologi tersebut telah diuji di laboratorium maupun di lapangan, termasuk pada kawasan kilang minyak di Sumatera. Hasilnya menunjukkan bakteri mampu menurunkan kadar pencemar hidrokarbon di dalam tanah.
Ke depan, Prof Ipung berharap teknologi bioremediasi yang dikembangkannya dapat menjadi solusi ramah lingkungan dalam menangani pencemaran secara berkelanjutan. Selain mendukung pemulihan kualitas tanah dan air, inovasi ini juga berpotensi memperkuat upaya pencapaian target pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs) di sektor lingkungan. (BS/za)









