Bicarasurabaya.com – Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi resmi menyerahkan Surat Keputusan (SK) Dewan Kebudayaan Surabaya periode 2026-2029. Bersamaan dengan itu, Eri menegaskan ruang publik milik Pemkot Surabaya tidak lagi dipungut biaya komersial jika digunakan seniman dan budayawan lokal untuk berkarya.
Kebijakan tersebut menjadi bagian dari upaya Pemkot Surabaya menghidupkan kembali aktivitas seni dan budaya sekaligus menggerakkan ekonomi warga.
“Balai Budaya jangan disewakan komersial jika yang tampil teman-teman seniman dan budayawan Surabaya. Cukup jaga kebersihan,” kata Eri dalam keterangannya yang dikutip, Sabtu (16/5/2026).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Menurutnya, ruang publik seperti Balai Pemuda, Balai Kota, taman kota hingga Surabaya Expo Center (SUBEC) harus menjadi panggung terbuka bagi kreativitas warga.
Eri menilai budaya bukan sekadar kesenian, melainkan bagian penting dalam membentuk karakter masyarakat dan identitas kota.
“Budaya berkaitan erat dengan karakter. Melalui Dewan Kebudayaan ini, kita ingin menyiapkan karakter anak cucu agar memiliki akar budaya yang kuat,” ujarnya.
Ia juga meminta Dewan Kebudayaan Surabaya segera bergerak cepat dengan menghadirkan pertunjukan seni rutin setiap akhir pekan di berbagai ruang publik kota.
“Saya minta mulai minggu depan, Jumat malam, Sabtu malam, dan Minggu malam sudah ada tampilan budaya,” tegasnya.
Dalam arahannya, Eri juga mendorong kolaborasi seni tradisional dengan tren kekinian agar lebih dekat dengan generasi muda. Ia mencontohkan Ludruk dan parikan khas Surabaya dapat dikemas bersama konsep stand up comedy.
“Kalau stand up comedy digabung dengan perludrukan ala Cak Kartolo, itu bisa jadi sangat menarik,” katanya.
Menurut Eri, langkah tersebut penting agar generasi muda tidak melupakan identitas budaya lokal seperti Ludruk, Tari Remo, hingga gaya lawakan khas Srimulat.
Dewan Kebudayaan Surabaya periode 2026-2029 dipimpin Heti Palestina Yunani. Heti mengatakan langkah awal yang akan dilakukan adalah memetakan seluruh potensi budaya Surabaya, tidak hanya kesenian tetapi juga ritus, adat istiadat, permainan rakyat, hingga teknologi tradisional.
“Kami ingin gerak Dewan Kebudayaan dirasakan langsung warga sampai tingkat kelurahan, bukan hanya kalangan seniman,” ujarnya.
Menurut Heti, pengembangan budaya Surabaya ke depan akan berbasis riset agar kebijakan yang diambil memiliki arah yang jelas dan sesuai perkembangan zaman.
Ia juga menekankan pentingnya regenerasi seniman. Para seniman senior diharapkan tidak hanya tampil di panggung, tetapi juga menjadi mentor bagi generasi muda melalui workshop hingga sekolah budaya.
“Budaya tidak akan lestari jika berhenti di satu generasi,” katanya.
Pemkot Surabaya berharap keberadaan Dewan Kebudayaan dapat menjadi mitra strategis pemerintah dalam memperkuat identitas Arek Suroboyo sekaligus menjadikan budaya sebagai penggerak ekonomi kreatif di Kota Pahlawan.(BS/za)











