Bicarasurabaya.com – Seniman Surabaya, Kusnan, melontarkan kritik keras terhadap kondisi Dewan Kesenian Surabaya (DKS) yang dinilainya kehilangan ruh sebagai ruang pembinaan seniman. Ia menyebut DKS saat ini tak lagi menjadi “kawah candradimuka” bagi lahirnya karya dan tokoh seni seperti era 1980-an.
Kritik itu disampaikan Kusnan di tengah polemik penyegelan kantor DKS oleh Satpol PP yang belakangan ramai diperbincangkan di media sosial maupun media elektronik.
Kusnan mengaku sejak awal sudah mengkritisi pembentukan Dewan Kesenian Kota Surabaya (DKKS) pada 10 Juni 2022. Saat itu ia menilai keberadaan lembaga tersebut berpotensi memecah komunitas seniman di Surabaya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Bergandeng dengan pemerintah itu perlu, tapi bukan menjadi boneka,” kata Kusnan dalam tulisannya yang diterima, Senin (11/5/2026).
Ia menilai semestinya setelah masa kepemimpinan Ketua DKS berakhir pada Desember 2024, segera digelar musyawarah bersama Dinas Kebudayaan untuk memilih kepengurusan baru. Namun hingga kini, menurutnya, forum tersebut belum terlaksana.
Kusnan kemudian membandingkan DKS masa lalu dengan kondisi saat ini. Menurutnya, DKS era 1980-an memang memiliki sekretariat sederhana dan jauh dari kesan mewah. Namun dari tempat itulah lahir banyak karya dan tokoh seni besar Surabaya.
“Dulu sekretariatnya kecil, seperti kamar kos buruh pabrik, tapi melahirkan karya-karya besar,” ujarnya.
Sebaliknya, ia menilai DKS saat ini tampil megah dengan lokasi strategis di depan kawasan Cagar Budaya Balai Pemuda. Namun kemegahan itu dianggap tidak sejalan dengan fungsi pembinaan seniman.
“Sekarang sekretariat DKS hanya seperti rumah tua. Bukan rumah produksi sastrawan dan seniman lagi,” katanya.
Bahkan, Kusnan melontarkan sindiran tajam dengan menyebut DKS kini seperti “kolam pancing”.
“Siapa pun yang punya kepentingan bisa datang memancing di situ,” ucapnya.
Ia juga menyinggung harapannya terhadap kepemimpinan Chrisman yang semula dinilai mampu membawa DKS lebih dekat dengan seniman kampung dan tradisional. Namun harapan itu disebut tidak sesuai kenyataan.
“Saya kira akan lebih mengena ke seniman tradisional kampung. Tapi ternyata sama saja, tetap memecah seniman,” katanya.
Di tengah polemik yang berkembang, Kusnan berharap persoalan yang terjadi dapat diselesaikan dengan kepala dingin dan menghasilkan solusi terbaik bagi dunia kesenian Surabaya.
Ia pun menutup kritiknya dengan kelakar berbahasa Jawa.
“Kudu gede atine, kudu dowo pikirane. Kadang yang dipikir berbeda dengan kenyataan,” ujarnya.(BS/za)











