BMKG: Kemarau Tahun Ini Lebih Kering, Tapi Bukan Terparah

- Publisher

Selasa, 14 April 2026 - 15:30 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi (Foto: dok/ Istimewa)

i

Ilustrasi (Foto: dok/ Istimewa)

Bicarasurabaya.com – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan musim kemarau 2026 akan lebih kering dari rata-rata 30 tahun terakhir. Selain itu, kemarau juga diprediksi datang lebih awal dan berlangsung lebih panjang.

Direktur Perubahan Iklim BMKG Fachri Rajab menegaskan, kondisi ini tidak berarti menjadi kemarau paling ekstrem.

“Lebih kering dari rata-rata, tapi bukan yang terparah dalam 30 tahun,” ujarnya, Selasa (14/4/2026).

Ia juga meluruskan informasi yang beredar di publik terkait istilah berlebihan seperti “kemarau ekstrem” atau sebutan lain yang tidak digunakan secara resmi.

Menurut Fachri, kemarau tahun 1997 dan 2015 masih jauh lebih berat dibandingkan kondisi yang diprediksi terjadi pada 2026.

Kondisi tahun ini dipengaruhi fenomena El Nino yang mulai aktif pada akhir April hingga awal Mei 2026. Fenomena ini berdampak pada penurunan curah hujan di sejumlah wilayah Indonesia.

Baca Juga:  Emas Antam Terjun Bebas, Kini Dijual Rp 2,5 Juta per Gram

Meski demikian, BMKG menegaskan El Nino bukan penyebab musim kemarau, melainkan faktor yang memengaruhi intensitasnya.

“El Nino itu mempengaruhi, bukan menyebabkan musim kemarau,” jelasnya.

Saat ini, intensitas El Nino masih tergolong lemah, namun diperkirakan meningkat menjadi moderat pada triwulan III 2026, terutama pada Agustus hingga Oktober.

BMKG mengingatkan kondisi ini perlu diantisipasi, terutama terkait ketersediaan air bersih dan sektor pertanian. Namun masyarakat diminta tidak panik dan tetap mengandalkan informasi resmi.

Baca Juga:  Keliling Surabaya, Wali Kota Eri Temukan Jukir Tanpa Tanda Pengenal di Taman Bungkul

“Kondisi ini harus disikapi serius, tapi tidak perlu berlebihan,” tegas Fachri.

Dengan kemarau yang cenderung lebih kering, kolaborasi pemerintah dan masyarakat dinilai penting untuk meminimalkan dampak, khususnya dalam menjaga pasokan air dan ketahanan pangan.(BS/za)

Berita Terkait

Kecelakaan 3 Truk di Tol Ngawi-Solo, 1 Tewas dan 4 Luka
3 Korban Ledakan Ruko Pakuwon City Jalani Operasi di RSUD Soetomo
2 Korban Ledakan Pakuwon City Jalani Operasi, Kini Dirawat di ICU
Harga Emas Antam Hari Ini Naik Rp10 Ribu Jadi Rp2,58 Juta per Gram
Buronan Kasus Fidusia Rp60 Miliar Ditangkap Saat Isi BBM di Gorontalo
Khofifah Salurkan Bansos Rp9,87 Miliar untuk Warga Magetan
Penyelundupan Sabu dalam Ayam Goreng ke Lapas Surabaya Digagalkan
Polisi Sita Tabung LPG 50 Kg dari Lokasi Ledakan Tempong Sri Dewi Surabaya

Berita Terkait

Rabu, 7 Oktober 2026 - 13:46 WIB

Kecelakaan 3 Truk di Tol Ngawi-Solo, 1 Tewas dan 4 Luka

Rabu, 7 Oktober 2026 - 13:17 WIB

3 Korban Ledakan Ruko Pakuwon City Jalani Operasi di RSUD Soetomo

Rabu, 7 Oktober 2026 - 12:43 WIB

2 Korban Ledakan Pakuwon City Jalani Operasi, Kini Dirawat di ICU

Rabu, 7 Oktober 2026 - 10:00 WIB

Harga Emas Antam Hari Ini Naik Rp10 Ribu Jadi Rp2,58 Juta per Gram

Rabu, 7 Oktober 2026 - 08:41 WIB

Buronan Kasus Fidusia Rp60 Miliar Ditangkap Saat Isi BBM di Gorontalo

Berita Terbaru

Kondisi kecelakaan pasca alami kecelakaan di Tol Ngawi-Solo. (Foto: Gakum Polres Ngawi/Ist)

Bicara Jatim

Kecelakaan 3 Truk di Tol Ngawi-Solo, 1 Tewas dan 4 Luka

Rabu, 7 Okt 2026 - 13:46 WIB

Foto: Ilustrasi Harga Emas Naik/bs

Bicara Ekonomi

Harga Emas Antam Hari Ini Naik Rp10 Ribu Jadi Rp2,58 Juta per Gram

Rabu, 7 Okt 2026 - 10:00 WIB