BicaraSurabaya.com – Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) resmi memberikan beasiswa Kartu Indonesia Pintar Kuliah (KIP-K) bagi lima mahasiswa baru Fakultas Kedokteran tahun akademik 2025. Ini merupakan kali pertama Unusa mendapatkan kuota KIP-K untuk program studi kedokteran, membuka jalan bagi calon dokter dari keluarga kurang mampu untuk mewujudkan cita-citanya.
Rektor Unusa, Prof. Ir. Achmad Jazidie, menyebut kuota beasiswa ini ditentukan langsung oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek).
“Tahun ini untuk pertama kalinya, Unusa memiliki 5 kuota KIP-K untuk Fakultas Kedokteran. Ini menjadi kebanggaan sekaligus tanggung jawab besar karena kita tahu pendidikan kedokteran membutuhkan biaya yang tidak sedikit,” ujarnya.
Bagi para penerima, beasiswa ini menjadi pintu harapan setelah perjalanan panjang penuh rintangan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Salah satunya Putri Yanti, mahasiswi asal Muara Enim, Sumatera Selatan. Ia sempat dua tahun tertunda kuliah karena gagal di berbagai jalur seleksi. Selama itu, Putri bekerja untuk membantu keluarganya. “Tahun 2024 saya berhenti kerja untuk fokus belajar, tapi tetap belum lolos. Baru tahun ini Allah kasih jalan lewat KIP-K Unusa. Dari kecil saya memang bercita-cita jadi dokter spesialis kandungan. Beasiswa ini memberi harapan baru buat saya, ibu, dan adik,” tutur Putri dengan mata berkaca-kaca.
Kisah lain datang dari Anjhely Andreani asal Prabumulih, Sumatera Selatan. Tekadnya tumbuh dari keterbatasan layanan kesehatan di kampung halamannya.
“Di kecamatan saya, ribuan warga hanya dilayani satu dokter. Itu yang memotivasi saya ingin jadi dokter agar bisa membantu masyarakat,” ucapnya. Meski sempat terpukul setelah kehilangan ayah sejak usia sembilan tahun, dukungan ibunya membuat Anjhely tetap melangkah. “Sempat ragu untuk kuliah, tapi semangat teman-teman membuat saya yakin melanjutkan pendidikan,” tambahnya.
Dari Jawa Timur, ada Zahrotul Aini asal Situbondo yang juga mendapatkan beasiswa serupa. Dorongan terbesarnya lahir ketika ibunya divonis hiperglikemia. “Itu yang membuat saya makin teguh untuk jadi dokter. Saya ingin bisa mengobati ibu dan juga orang-orang di sekitar,” ujarnya. Baginya, profesi dokter adalah panggilan kemanusiaan. “Bukan hanya soal menyelamatkan nyawa, tapi juga tentang mendengarkan keluhan pasien dan memahami latar belakang mereka,” tuturnya.
Beasiswa KIP-K di Fakultas Kedokteran Unusa ini bukan sekadar dukungan finansial, tetapi juga simbol bahwa kesempatan meraih mimpi menjadi dokter terbuka bagi siapa pun, termasuk mereka yang datang dari keluarga sederhana. Lewat kisah-kisah perjuangan ini, Unusa berharap lahir dokter-dokter muda yang tak hanya cakap secara akademik, tetapi juga membawa semangat pengabdian bagi masyarakat.(BS/Za)









