Bicarasurabaya.com – Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi meminta kepada masyarakat agar Whatsapp grup Forum Komunikasi (WAG Forkom) RT, RW, dan LPMK, tidak digunakan untuk membahas politik.
Hal tersebut disampaikan Wali Kota Eri dalam acara sarasehan bersama seluruh lurah dan camat di Balai RW XI, Kelurahan Wonokusumo, Kecamatan Semampir Surabaya, Sabtu (13/5/2023) sore.
Wali Kota Eri mengatakan, grup Forkom RT/RW dan LPMK dibuatnya sebagai wadah komunikasi antara pejabat Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya dengan warga. Harapannya, melalui grup tersebut, perangkat RT/RW dan LPMK bisa melaporkan langsung berbagai permasalahan yang ada di kampungnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Sekali lagi demi Kota Surabaya, boleh berbeda pandangan politik, boleh berbeda pilihan, tapi jangan diungkapkan di grup Forkom,” kata Wali Kota Eri.
“Saya bentuk grup Forkom buat (RT/RW dan LPMK) menyampaikan ada warga miskin, pengangguran dan sebagainya. Jadi ayo menebarkan solutif, positif biar tidak ada gegeran (pertengkaran) sak seduluran (se saudara),” sambungnya.
Selain mengingatkan terkait keberadaan grup Forkom, dalam kesempatan itu, orang nomor satu di lingkup Pemkot Surabaya juga mengumpulkan seluruh lurah.
Di sana, ia sekaligus memberikan contoh cara penanganan berbagai permasalahan yang ada di wilayah RW XI Kelurahan Wonokusumo Surabaya. Mulai dari persoalan balita stunting, risiko angka kematian ibu dan bayi, Penerangan Jalan Umum (PJU), pengangguran, kemiskinan hingga genangan.
“Jadi saya ingin mengajarkan kepada mereka (lurah dan camat) cara menyelesaikan masalah. Harusnya lurah dan camat di setiap RW (tahu) berapa titik (PJU) yang masih gelap, berapa titik genangan, berapa orang miskin, berapa stunting, di situ langsung diselesaikan,” ujar dia.
Menurut dia, pejabat pemerintah harus bisa cepat dalam mengambil keputusan untuk menyelesaikan masalah di masing-masing wilayahnya. Termasuk juga bertemu dan mendengarkan langsung berbagai persoalan masyarakat meski tidak dilakukan secara formal.
“Jadi lurah itu harus bertemu RW-nya. (Misal) ngopi bareng, tidak hanya duduk (kerja) di kantor. Nah, maksud saya (kerja) tidak di kantor itu ya begini, ngopi (bersama warga). Kalau pagi RT/RW tidak ada, maka malam bisa datang,” jelas Cak Eri, panggilan lekat Wali Kota Surabaya
Sebab, Cak Eri menyebut, kerja Aparatur Sipil Negara (ASN) Pemkot Surabaya dinilai berdasarkan hasil kinerja. Artinya, penilaian kerja itu bukan berdasarkan jam ASN tersebut masuk dan pulang dari kantornya.
“Karena kerja kita dari hasil kinerja, bukan jam kerja masuk. Apa manfaatnya buat masyarakat, apa dampaknya, apa yang berhasil dipotong di sana, kemiskinan berapa persen turunnya. Itu yang kita nilai,” paparnya.
Dengan model penyelesaian masalah melalui sarasehan ini, Cak Eri mengharapkan ada kedekatan antara lurah dengan pengurus RT/RW, LPMK hingga Kader Surabaya Hebat (KSH). Dengan begitu, ada akhirnya seluruh lurah akan memiliki kontrak kinerja target penyelesaian masalah di setiap wilayahnya.
“Makanya saya mengambil contoh di RW XI. Nanti di RW lainnya saya minta begitu. Jadi saya minta sudah kerja semuanya mulai hari ini, setelah itu saya keliling RW untuk tanda tangan bersama. Kapan kemiskinan berkurang berapa bulan, yang tidak kerja (pengangguran) dari berapa jadi berapa, jadi arahnya itu jelas,” tandasnya. (BS02)









