Mahasiswa ITS Gagas Inovasi Bantu Olah Sampah Organik

- Publisher

Jumat, 16 Oktober 2020 - 00:07 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Rancangan KOMBO, tempat budidaya larva BSF /dok. Humas ITS

i

Rancangan KOMBO, tempat budidaya larva BSF /dok. Humas ITS


BicaraSurabaya.com – Ide cemerlang tak henti-hentinya muncul dari mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS). Seperti tiga mahasiswa Departemen Teknik Instrumentasi, Fakultas Vokasi yang tergabung dalam tim SansBoss yang mengusulkan inovasi teknologi untuk mengolah sampah organik rumah tangga.

Caranya, dengan mengembangkan teknologi kontrol suhu dan kelembaban berbasis Internet of Things (IoT) untuk mengembangbiakkan larva lalat Black Soldier Fly (BSF). Larva lalat itulah yang kemudian digunakan mengolah sampah organik skala rumah tangga.

Ketua Tim SansBoss, Achmad Maulana Ali Ulumuddin menjelaskan, kegiatan rumah tangga selalu menyisakan sampah organik seperti sisa bahan makanan. Sampah sejenis itu bahkan tak jarang menimbulkan bau tak sedap dan mencemari lingkungan.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Bahkan, timbunan sampah organik juga menjadi tempat hidup para serangga berbahaya,” kata Alan.

Baca Juga:  Mahasiswa ITS Desain Jembatan Penghubung di Ibu Kota Baru

Menurut dia, sebelumnya budidaya lalat BSF telah dimanfaatkan untuk pengolahan sampah organik di Indonesia. Larva BSF dapat mendegradasi sampah organik dengan mengekstrak energi dan nutrien dari sampah sayuran, sisa makanan, bangkai hewan, dan kotoran sebagai bahan makanannya.

Hal inilah yang kemudian menggerakkan Alan bersama dua rekannya, yakni Evan Yudha Pratama dan Gita Marcella Khoirun Nissa, untuk mempelajari berbagai artikel ilmiah mengenai metode pengolahan sampah tersebut.

Meski mudah dikembangbiakkan, namun mereka menemukan fakta bahwa larva BSF jauh lebih aktif pada kondisi yang hangat. “Saat kondisi lingkungan tepat, maka larva BSF mampu mendegradasi sampai dengan 80 persen jumlah sampah organik yang diberikan,” paparnya.

Alan menyebut, larva BSF akan bertumbuh dengan optimal pada temperatur sekitar 29-33 derajat celcius dan tingkat kelembapan sekitar 29-33 persen.

Baca Juga:  ITS Boyong 12 Medali pada Pimnas ke-33

Mengingat kondisi cuaca di Indonesia yang tidak menentu, ketiganya merancang inovasi teknologi yang mampu mengatur tempat budidaya larva lalat BSF agar selalu dalam kondisi optimal. “Sehingga larva mampu berkembang dengan aktif dan memakan sampah organik dalam jumlah besar dengan cepat,” kata mahasiswa angkatan 2017 ini.

Berbekal ilmu otomasi dan sistem kontrol yang didapat di bangku perkuliahan, mereka melengkapi inovasi yang dinamai KOMBO ini dengan sensor suhu, sensor kelembapan udara, dan exhaust fan. Sehingga, dapat dilakukan mekanisme kontrol otomatis terhadap suhu dan kelembapan tempat budidaya.

“Alat ini juga dilengkapi dengan sistem IoT, sehingga pemantauan kondisi tempat budidaya dapat dilakukan dari jarak jauh melalui aplikasi gawai,” tambah Alan.

Baca Juga:  Mahasiswa ITS Kembangkan Drone dengan AI untuk Meningkatkan Keselamatan Kerja

Selain dapat mendegradasi sampah organik, Alan juga memastikan bahwa larva BSF memiliki nilai ekonomis lain. Inilah yang membuat metode pengolahan sampah organik lebih dipilih Alan dan timnya. “Larva BSF yang sudah dikembangbiakkan bisa digunakan juga sebagai bahan pakan ternak serta obat diabetes,” tuturnya.

Tidak sia-sia, inovasi yang dituangkan dalam judul KOMBO: Sistem Kontrol Otomatis Berbasis IoT untuk Budidaya Maggot Black Soldier Fly sebagai Upaya Pemanfaatan Sampah Organik dan Pengganti Bahan Pakan Ternak ini, berhasil mendapatkan pengakuan tingkat nasional.

Inovasi ini berhasil menyabet juara kedua dalam ajang Research and Development Competition (RnDC) 2020 yang diselenggarakan di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), beberapa hari lalu. (BS02)

Berita Terkait

Pancaroba, Pakar ITS Ingatkan Pohon Kota Rawan Tumbang Saat Angin Kencang
UPN Veteran Jatim Bekali Siswa SDN Medokan Ayu Literasi Digital dan Keamanan Siber
Air Laut Pasang di Atas 2,4 Meter, Warga Surabaya Diminta Waspadai Rob
Menteri UMKM Dorong Pelaku Usaha Naik Kelas dan Mandiri
Digelar di UPN Veteran Jatim, Pelatihan Khatib dan Imam Profesional Diserbu Peserta
Abu Vulkanik Bisa Rusak Paru-paru, Ini Cara Melindunginya
Patahan Surabaya Viral, Pakar Geologi ITS: Belum Terverifikasi Aktif
Mahasiswa UPN Veteran Jatim Dampingi UMKM Wonorejo Perkuat Branding dan Pemasaran Digital

Berita Terkait

Selasa, 29 September 2026 - 11:21 WIB

Pancaroba, Pakar ITS Ingatkan Pohon Kota Rawan Tumbang Saat Angin Kencang

Selasa, 29 September 2026 - 09:15 WIB

UPN Veteran Jatim Bekali Siswa SDN Medokan Ayu Literasi Digital dan Keamanan Siber

Jumat, 25 September 2026 - 12:28 WIB

Air Laut Pasang di Atas 2,4 Meter, Warga Surabaya Diminta Waspadai Rob

Kamis, 24 September 2026 - 07:03 WIB

Menteri UMKM Dorong Pelaku Usaha Naik Kelas dan Mandiri

Minggu, 20 September 2026 - 12:45 WIB

Digelar di UPN Veteran Jatim, Pelatihan Khatib dan Imam Profesional Diserbu Peserta

Berita Terbaru

Foto: Ilustrasi Harga Emas Naik/bs

Bicara Ekonomi

Harga Emas Antam Hari Ini Naik Rp10 Ribu Jadi Rp2,58 Juta per Gram

Rabu, 7 Okt 2026 - 10:00 WIB

Bansos Rp9,87 Miliar Disalurkan ke Warga Magetan. (Foto: Humas Pemprov Jatim)

Bicara Jatim

Khofifah Salurkan Bansos Rp9,87 Miliar untuk Warga Magetan

Rabu, 7 Okt 2026 - 08:02 WIB