Bicarasuurabaya.com – Fenomena El Niño diprakirakan masih berlangsung hingga Februari 2027. Kondisi ini membuat Surabaya perlu mewaspadai kemarau yang lebih kering, ketersediaan air bersih, hingga meningkatnya risiko kebakaran.
BMKG menyebut Surabaya saat ini masih berada pada puncak musim kemarau. Pada September-November, curah hujan diperkirakan masih relatif rendah sehingga masyarakat akan lebih sering menghadapi cuaca panas dan terik pada siang hari.
Prakirawan BMKG Juanda, Siska Anggraeni, mengatakan pengaruh El Niño berpotensi membuat awal musim hujan di Surabaya datang lebih lambat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Pengaruh El Niño yang masih kuat kemungkinan akan memundurkan awal musim hujan,” kata Siska, Kamis (10/9/2026).
Minimnya tutupan awan selama periode kemarau juga membuat radiasi matahari lebih banyak mencapai permukaan. Akibatnya, suhu siang hari terasa lebih panas. Kondisi ini dapat semakin terasa di kawasan perkotaan karena efek pemanasan perkotaan atau urban heat.
Meski demikian, Siska meminta masyarakat tidak panik. Warga cukup meningkatkan kewaspadaan dengan menyesuaikan aktivitas saat cuaca sangat panas, mencukupi kebutuhan cairan, dan menjaga lingkungan dari sumber api.
Kepala BPBD Kota Surabaya Irvan Widyanto mengatakan salah satu risiko yang perlu mendapat perhatian adalah kebakaran. Lingkungan yang semakin kering membuat material di sekitar permukiman lebih mudah terbakar.
“Kita harus selalu waspada karena ketika paparan sinar matahari berlangsung terus-menerus, kekeringan dapat meningkat. Kondisi itu membuat bahan-bahan di sekitar lebih mudah terbakar,” ujar Irvan.
Karena itu, warga diminta tidak membakar sampah di lahan terbuka. Api dapat lebih mudah menjalar ketika kondisi lingkungan kering, termasuk ke kawasan permukiman.
Risiko tersebut dinilai semakin penting diperhatikan di kawasan padat penduduk. Menurut Irvan, pencegahan kebakaran harus dimulai dari kesadaran masing-masing warga.
“Terutama di rumah-rumah padat penduduk, kerawanannya cukup tinggi. Antisipasi harus dimulai dari kesadaran masing-masing individu,” katanya.
Selain kebakaran, warga juga diminta bijak menggunakan air. Kemarau yang lebih kering berpotensi menekan ketersediaan sumber daya air sehingga penghematan diperlukan untuk menjaga pasokan.
Prakirawan BMKG Juanda Andrie Wijaya mengatakan potensi dampak kemarau tidak sepenuhnya sama di seluruh wilayah Surabaya.
Surabaya Barat dan Selatan yang memiliki lebih banyak vegetasi serta lahan terbuka perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran.
Sementara itu, wilayah Surabaya Utara dan Timur, terutama kawasan pesisir, perlu memperhatikan potensi banjir rob dan angin kencang.
Untuk Surabaya Pusat, kekeringan dan angin kencang menjadi perhatian karena kawasan tersebut memiliki aktivitas masyarakat yang tinggi.
“Untuk hidrometeorologi kering di Surabaya, yang perlu diwaspadai antara lain kekeringan meteorologis, krisis suplai air bersih, serta potensi kebakaran lahan dan permukiman,” ujar Andrie.
Pemkot Surabaya melalui BPBD melakukan mitigasi dan edukasi untuk menghadapi kondisi tersebut. Sosialisasi dilakukan melalui sekolah, pondok pesantren, lingkungan warga hingga media sosial.
Kepala Stasiun Meteorologi Kelas I Juanda Sidoarjo, Taufiq Hermawan, menjelaskan El Niño merupakan fenomena iklim alamiah yang ditandai meningkatnya suhu permukaan laut di wilayah Pasifik tengah dan timur.
Fenomena tersebut dapat mengurangi curah hujan di sebagian besar wilayah Indonesia. Dampaknya, sumber air seperti waduk, sungai, dan sumur berpotensi mengalami penurunan.
“Ketika curah hujan berkurang, sumber daya air seperti waduk, sungai maupun sumur juga dapat mengalami penurunan,” jelas Taufiq.
Kemarau yang bersamaan dengan El Niño juga berpotensi lebih kering dan lebih panjang dibandingkan kondisi normal. Dampaknya dapat berupa kekeringan, berkurangnya ketersediaan air, serta meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan.
Dengan prakiraan El Niño yang masih berlangsung hingga Februari 2027, kesiapsiagaan menjadi penting. Bagi warga Surabaya, langkah sederhananya adalah menghemat air, menghindari pembakaran sampah sembarangan, serta menyesuaikan aktivitas luar ruangan saat suhu sedang tinggi.
Dengan begitu, ancaman kemarau panjang tidak hanya dihadapi ketika dampaknya sudah terasa, tetapi diantisipasi sejak sekarang. (BS/za)









