Program Pisang Danor Jadi Strategi Surabaya Kurangi Sampah dan Tekan Biaya TPA

- Publisher

Jumat, 21 Agustus 2026 - 20:16 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Launching Lomba Pisang Danur/dok.Diskominfo Surabaya

i

Launching Lomba Pisang Danur/dok.Diskominfo Surabaya

Bicarasurabaya.com – Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya memperkuat upaya pengurangan sampah dari sumbernya melalui program Pemilahan Sampah Anorganik dan Organik (Pisang Danor). Program tersebut bertujuan untuk mendorong masyarakat, khususnya di tingkat rumah tangga, agar memilah dan mengolah sampah sebelum dibuang ke tempat pemrosesan akhir (TPA).

Program Pisang Danor telah resmi diluncurkan di Graha YKP, Medokan Ayu, Kecamatan Rungkut, Surabaya, pada Rabu (5/8/2026) lalu. Program berbasis edukasi publik itu diinisiasi oleh Tim Penggerak PKK Kota Surabaya berkolaborasi dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) serta Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak serta Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3A-PPKB) Kota Surabaya.

Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi mengatakan, pengurangan sampah perlu dimulai dari perubahan perilaku masyarakat di lingkungan masing-masing. Menurut dia, sampah organik menjadi salah satu jenis sampah yang paling banyak dihasilkan dan berpotensi diolah sejak dari rumah.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Kalau kita ini tidak cinta kepada lingkungan, maka sampah itu tidak akan pernah selesai. Dan sampah yang paling banyak (dihasilkan) adalah sampah organik,” kata Wali Kota Eri dalam peluncuran program Pisang Danor.

Menurutnya, pengolahan sampah organik dari rumah dapat mengurangi beban pengangkutan sekaligus menekan biaya pengelolaan sampah di Kota Pahlawan. “Sampah organik ini kalau itu bisa dikelola sampai rumah, maka sebenarnya biaya sampah itu berkurang,” ujarnya.

Wali Kota Eri menilai, efisiensi tersebut penting karena Pemkot Surabaya harus membayar tipping fee di TPA Benowo sekitar Rp217.000 per ton. Karena itu, ia mengajak masyarakat lebih disiplin memilah sampah agar biaya pengelolaan dapat ditekan dan anggaran bisa dialihkan untuk program prioritas lainnya.

Baca Juga:  Inovasi, Kreatifitas dan Kegotongroyongan, Antarkan Pemkot Surabaya Terima Sederet Penghargaan

“Kenapa saya ingin mengajak masyarakat mengolah sampah, karena daripada uang kami (pemkot) dibuat bayar sampah, mending uangnya dibuat untuk sekolah gratis mulai SD-SMA sampai kuliah. Itu lebih bagus,” tutur Cak Eri, sapaan lekatnya.

Karena itu, melalui Lomba Pisang Danor, Pemkot Surabaya ingin membangun kebiasaan memilah sampah secara konsisten mulai dari keluarga hingga lingkungan RT dan RW. “Nah, persoalan sampah harusnya juga bisa dimulai dari rumah tangga,” katanya.

Di samping itu, Cak Eri juga mengungkap bahwa Pisang Danor menjadi bagian dari rangkaian program yang akan dilanjutkan dengan kompetisi kebersihan lingkungan dalam skala lebih luas. “Jadi setelah Pisang Danor, nanti dilanjutkan dengan lomba Kampung Pancasila,” ungkapnya.

Ia berharap program tersebut dapat mengubah kebiasaan masyarakat sekaligus meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan. “Semoga lomba ini bisa mengubah paradigma kita, menjadikan kita lebih cinta lingkungan,” harapnya.

Wali Kota Eri meninjau salah satu inovasi pemilahan sampah/dok.Diskominfo Surabaya
Wali Kota Eri meninjau salah satu inovasi pemilahan sampah/dok.Diskominfo Surabaya

Di waktu yang sama, Ketua TP PKK Kota Surabaya, Rini Indriyani mengatakan, program Pisang Danor difokuskan pada pengelolaan sampah organik rumah tangga. Sementara itu, pemilahan sampah anorganik dinilai telah berkembang melalui keberadaan bank sampah di berbagai permukiman.

“Sebenarnya Surabaya sudah luar biasa dalam melakukan pemilahan sampah anorganik. Karena itu kami lebih fokus untuk pemilahan sampah organik,” kata Bunda Rini.

Menurut Bunda Rini, rumah tangga menjadi titik awal yang penting karena sebagian besar aktivitas pengelolaan sisa bahan pangan bermula dari keluarga. “Lingkup yang paling kecil yaitu keluarga (rumah tangga), sehingga pembiasaan ini kita mulai dari rumah,” ujarnya.

Baca Juga:  Tingkat Kegemaran Membaca di Surabaya Tertinggi se-Jawa Timur

Karena itu, Bunda Rini mendorong kolaborasi antara camat, lurah, DLH, hingga Satgas Kampung Pancasila untuk memperluas gerakan pengelolaan sampah organik. “Insyaallah tujuan kita semua sama, bagaimana pengolahan sampah organik ini bisa secara masif dan tentunya bisa bermanfaat untuk kita semua,” tuturnya.

Sementara itu, Kepala DLH Kota Surabaya M Fikser menyampaikan, Pisang Danor dirancang untuk meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pemilahan sampah sekaligus menjadi tahap awal menuju Lomba Kampung Pancasila.

“Ini menjadi suatu program lomba yang kemudian mendorong partisipasi masyarakat untuk melakukan pemilahan. Seperti yang disampaikan Pak Wali Kota, bahwa ini pemanasan nanti puncaknya adalah Lomba Kampung Pancasila,” kata Fikser.

Lebih rinci, Fikser memaparkan bahwa para peserta lomba Pisang Danor merupakan perwakilan enam RW terbaik dari setiap kecamatan. Sebelumnya, RW tersebut melalui proses seleksi di tingkat kelurahan.

“Di setiap kecamatan itu ada (perwakilan) enam RW. Jadi nanti akan diseleksi oleh kecamatan dan kelurahan, kemudian enam yang terbaik diambil mewakili kecamatan,” paparnya.

Fikser menekankan pentingnya menjaga agar sampah organik dan anorganik tidak kembali tercampur setelah dipilah. Sampah organik dapat diolah menjadi kompos, sedangkan sampah anorganik yang memiliki nilai ekonomi dapat dijual.

“Yang organik diolah menjadi komposter atau diolah menjadi hal lain. Sedangkan yang anorganik itu yang kemudian mempunyai nilai ekonomis yang dijual secara langsung,” katanya.

Baca Juga:  1.159 Balai RW di Surabaya Jadi Pusat Layanan Warga
Salah satu pemilahan sampah/dok.Diskominfo Surabaya
Salah satu pemilahan sampah/dok.Diskominfo Surabaya

Pengurangan sampah dari sumbernya diharapkan dapat menekan biaya pengelolaan sampah di TPA Benowo. Dana yang dihemat selanjutnya dapat digunakan untuk mendukung program pemerintah di sektor lain.

“Dengan demikian nilai tipping fee atau pembayaran kita terhadap pengelolaan di TPA Benowo bisa berkurang. Dan dana itu bisa dialihkan untuk program seperti yang disampaikan Pak Wali Kota yaitu untuk pendidikan atau kesehatan,” tuturnya.

Fikser menyebut bahwa Pemkot Surabaya menargetkan pemilahan sampah dari rumah tangga mencapai 40 persen sebagai bagian dari upaya mendukung target pengurangan sampah secara nasional. “Makanya target Pak Wali Kota kita harus melakukan pemilahan 40 persen (sampah) dari rumah tangga,” imbuhnya.

Fikser memaparkan bahwa produksi sampah di Surabaya saat ini mencapai sekitar 1.800 ton per hari. Dari jumlah tersebut, sekitar 200 ton telah diintervensi melalui TPS 3R, bank sampah, dan pemilahan yang dilakukan masyarakat. “Nah dari proses itu 200 ton terjadi pemilahan sampah. Sedangkan 1.600 dikirim ke TPA Benowo,” bebernya.

Sampah yang dikirim ke TPA Benowo, kemudian dimanfaatkan untuk menghasilkan energi listrik. Sebanyak 1.000 ton sampah dimanfaatkan melalui fasilitas Gasification Power Plant dengan kapasitas produksi 9 MW. Sedangkan 600 ton lainnya dimanfaatkan melalui Landfill Gas Power Plant yang menghasilkan 2 MW.

“Dengan pemilahan sampah ini bisa mengurangi pembayaran (tipping fee). Maka kita juga mendorong partisipasi warga untuk kita sama-sama menjaga lingkungan,” pungkasnya. (ADV)

Berita Terkait

Kolaborasi Pemkot Surabaya, Kejati Jatim dan BPN Berhasil Selamatkan Aset Senilai Rp1 Triliun
Lomba Kampung Pancasila Surabaya 2026 Dimulai, 1.360 RW Menuju 200 Besar dan 35 Terbaik
Aset Rp124 Miliar Kembali ke Pemkot Surabaya, Disiapkan untuk Dongkrak Ekonomi dan Kesejahteraan Warga
SGE 2026 Catat Transaksi Rp7,75 Miliar, UMKM Surabaya Bidik Pasar Lebih Luas
Raih Dua Penghargaan Nasional, Surabaya Buktikan Satu Data NIK Pacu Pertumbuhan Ekonomi
Sukses Tekan Bansos Salah Sasaran, Uji Coba Perlinsos Digital di Surabaya Hampir 100 Persen
Peringatan HAN 2026, Pemerintah Pusat Apresiasi Komitmen Surabaya Penuhi Hak dan Lindungi Anak
75 Anak Surabaya Resmi Kantongi Penetapan Perwalian, Hak Pendidikan hingga Kesehatan Terjamin
Tag :

Berita Terkait

Jumat, 25 September 2026 - 12:30 WIB

Kolaborasi Pemkot Surabaya, Kejati Jatim dan BPN Berhasil Selamatkan Aset Senilai Rp1 Triliun

Senin, 21 September 2026 - 13:25 WIB

Lomba Kampung Pancasila Surabaya 2026 Dimulai, 1.360 RW Menuju 200 Besar dan 35 Terbaik

Rabu, 9 September 2026 - 19:16 WIB

Aset Rp124 Miliar Kembali ke Pemkot Surabaya, Disiapkan untuk Dongkrak Ekonomi dan Kesejahteraan Warga

Jumat, 21 Agustus 2026 - 20:16 WIB

Program Pisang Danor Jadi Strategi Surabaya Kurangi Sampah dan Tekan Biaya TPA

Kamis, 13 Agustus 2026 - 19:44 WIB

SGE 2026 Catat Transaksi Rp7,75 Miliar, UMKM Surabaya Bidik Pasar Lebih Luas

Berita Terbaru

Bansos Rp9,87 Miliar Disalurkan ke Warga Magetan. (Foto: Humas Pemprov Jatim)

Bicara Jatim

Khofifah Salurkan Bansos Rp9,87 Miliar untuk Warga Magetan

Rabu, 7 Okt 2026 - 08:02 WIB