Bicarasurabaya.com – Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) resmi menghentikan operasi pencarian dan pertolongan (SAR) khusus kebakaran KM Mutiara Sentosa II setelah seluruh penumpang berhasil terdata. Bersamaan dengan itu, Basarnas mengungkap fakta baru bahwa lima korban meninggal dunia diduga bukan akibat terbakar, melainkan terjatuh dari ketinggian saat kapal mulai miring sebelum tenggelam.
Kepala Basarnas Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii mengatakan, berdasarkan hasil sinkronisasi data dengan Syahbandar dan operator kapal, jumlah orang di atas KM Mutiara Sentosa II dipastikan sebanyak 238 orang, terdiri atas 233 korban selamat dan lima korban meninggal dunia.
“Karena jumlah penumpang yang kami konfirmasi sudah sesuai, operasi SAR khusus secara resmi kami alihkan menjadi operasi rutin kesiapsiagaan yang dikendalikan Kantor SAR Surabaya,” kata Syafii dalam konferensi pers di Gapura Surya Nusantara, Surabaya, Selasa (4/8/2026).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Meski operasi khusus dihentikan, Basarnas tetap melakukan pemantauan di lokasi kejadian. Posko pengaduan juga masih dibuka untuk mengantisipasi kemungkinan adanya laporan keluarga yang merasa kerabatnya belum ditemukan.
“Kalau nanti ada laporan korban yang belum ditemukan, tentu operasi akan kami buka kembali sesuai situasi dan kondisi,” ujarnya.
Lima Korban Diduga Terjatuh dari Ketinggian
Dalam kesempatan itu, Syafii mengungkap hasil evaluasi sementara terkait penyebab meninggalnya lima korban. Berdasarkan keterangan para penyintas, seluruh penumpang telah diarahkan menuju anjungan kapal dan mengenakan jaket pelampung saat kebakaran terjadi.
Namun, sebagian penumpang memilih bertahan hingga kapal semakin miring.
“Korban yang meninggal bukan karena terbakar. Diperkirakan mereka terjatuh saat kapal sudah miring. Ketinggiannya lebih dari 10 meter dari permukaan air,” ungkap Syafii.
Ia menjelaskan, posisi anjungan kapal saat kondisi normal berada sekitar tujuh meter di atas permukaan laut. Ketika kapal mulai kehilangan keseimbangan, jarak tersebut menjadi lebih tinggi sehingga risiko benturan saat terjatuh semakin besar.
Life Jacket Selamatkan Ratusan Penumpang
Syafii mengatakan penggunaan jaket pelampung menjadi faktor penting yang membuat mayoritas penumpang berhasil selamat. Dari hasil konfirmasi kepada korban selamat, seluruh penumpang telah mengenakan life jacket sebelum melompat ke laut.
Sebagian besar penyintas harus bertahan terapung sekitar dua jam hingga akhirnya dievakuasi kapal-kapal yang melintas di sekitar lokasi kejadian.
“Seluruh korban yang kami konfirmasi telah memakai life jacket sebelum menyelamatkan diri,” katanya.
Siap Dukung Investigasi KNKT
Meski operasi SAR khusus telah ditutup, Basarnas belum sepenuhnya mengakhiri penanganan insiden tersebut. Syafii mengatakan pihaknya siap kembali turun apabila muncul laporan adanya korban yang belum terdata.
Selain itu, Basarnas juga siap membantu Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) apabila diperlukan dalam proses investigasi, termasuk pencarian posisi bangkai KM Mutiara Sentosa II yang kini sudah tidak terlihat di permukaan laut.
“Kalau KNKT membutuhkan keberadaan kapal untuk kepentingan investigasi, kami siap memberikan dukungan. Namun bila ada laporan korban hilang, fokus operasi kembali pada pencarian korban,” pungkasnya. (BS/za)








