Bicarasurabaya.com – Mahasiswa mata kuliah Manajemen Humas Program Studi Ilmu Komunikasi UPN “Veteran” Jawa Timur tidak hanya belajar di dalam kelas, namun mereka belajar langsung dari lapangan. Kali ini, mereka melaksanakan tugas pembelajaran berbasis pengabdian masyarakat melalui pendampingan kegiatan Dinamika Arek Suroboyo Hebat atau DASH 2025 di SMA Dharma Wanita Surabaya.
Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa tidak hanya hadir sebagai peserta pengamat, tetapi terlibat langsung dalam pengelolaan event dan publikasi kegiatan yang diselenggarakan mitra, yakni SMA Dharma Wanita Surabaya. Program DASH 2025 sendiri merupakan kegiatan sosialisasi yang berfokus pada penguatan karakter remaja, pencegahan bullying, penggunaan internet sehat, serta perlindungan siswa dari berbagai pengaruh negatif di era digital.
Kegiatan itu merupakan kolaborasi antara perguruan tinggi dan sekolah dalam menghubungkan pembelajaran akademik dengan praktik kehumasan di lapangan. Melalui tugas Manajemen Humas, mahasiswa dituntut mampu memahami proses perencanaan komunikasi, koordinasi dengan mitra, peliputan kegiatan, produksi konten, hingga publikasi digital.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Dosen pengampu mata kuliah Manajemen Humas, Dra. Diana Amalia, M.Si., yang turun langsung dalam kegiatan itu menyampaikan bahwa kegiatan ini menjadi ruang belajar nyata bagi mahasiswa untuk menerapkan berbagai hal yang sudah dipelajari dalam Manajemen Humas.
Menurut Diana, praktik kehumasan tidak cukup dipahami hanya melalui konsep di kelas. Mahasiswa perlu mengalami sendiri bagaimana membangun komunikasi dengan mitra, membaca kebutuhan publikasi lembaga, mengelola pesan, serta memastikan kegiatan dapat terdokumentasi dan tersampaikan kepada publik secara menarik.
“Melalui kegiatan ini, mahasiswa praktik langsung kerja humas bukan hanya membuat konten, tetapi juga merancang strategi komunikasi, membangun koordinasi, menjaga citra mitra, dan memastikan pesan kegiatan sampai kepada audiens secara tepat,” ujar Diana.

Dalam pelaksanaannya, mahasiswa melakukan sejumlah tugas kehumasan, mulai dari koordinasi awal bersama pihak SMA Dharma Wanita Surabaya, pembagian peran tim, peliputan langsung, live report melalui Instagram Story, produksi aftermovie, desain konten visual, hingga penyusunan artikel kegiatan. Mereka juga melakukan wawancara dengan pihak sekolah dan peserta untuk memperkuat narasi publikasi.
Pendampingan ini sekaligus menjawab kebutuhan SMA Dharma Wanita Surabaya dalam memperkuat citra sekolah melalui media digital. Berdasarkan hasil pengamatan mahasiswa, sekolah memiliki berbagai kegiatan positif, namun publikasinya masih perlu dikelola secara lebih konsisten dan menarik agar dapat menjangkau masyarakat lebih luas.
Karena itu, kegiatan DASH 2025 dipandang sebagai momentum penting untuk memperlihatkan aktivitas positif sekolah kepada publik. Melalui publikasi di media sosial, SMA Dharma Wanita Surabaya diharapkan dapat tampil sebagai sekolah yang aktif, adaptif, dan peduli terhadap isu-isu perkembangan remaja.
Mahasiswa juga memanfaatkan platform Instagram dan TikTok sebagai kanal utama publikasi. Konten yang diproduksi mencakup dokumentasi kegiatan, laporan langsung, video aftermovie, hingga artikel berita yang menggambarkan jalannya sosialisasi secara utuh.
Program DASH 2025 di SMA Dharma Wanita Surabaya menghadirkan materi mengenai bullying dalam perspektif psikologi dan hukum. Sosialisasi ini bertujuan membekali siswa agar mampu mengenali bentuk-bentuk perundungan, memahami dampaknya, serta membangun keberanian untuk menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan nyaman.
Penasihat Dharma Wanita Persatuan Kota Surabaya, Rini Indriyani, mengapresiasi pelaksanaan kegiatan tersebut. Ia menegaskan bahwa pembinaan remaja tidak dapat dilakukan oleh sekolah saja, tetapi membutuhkan keterlibatan keluarga, masyarakat, pemerintah, dan seluruh pihak terkait.
“Saya menyambut baik kegiatan ini, karena saya percaya bahwa pembinaan anak tidak bisa dilakukan oleh satu pihak saja. Harus ada peran sekolah, keluarga, masyarakat, dan pemerintah. Ketika semua berjalan bersama, anak-anak kita akan tumbuh lebih aman, percaya diri, dan siap menghadapi masa depan,” tutur Rini Indriyani.
Rini juga menekankan bahwa masa remaja merupakan fase penting yang penuh dinamika. Pada usia tersebut, siswa sedang mencari jati diri dan rentan menghadapi berbagai tantangan, mulai dari perundungan, pergaulan tidak sehat, hingga paparan konten negatif di internet.
Ia berharap kegiatan seperti DASH dapat terus diperluas dengan pendekatan yang persuasif dan edukatif. Menurutnya, siswa perlu didampingi dengan cara yang dekat, terbuka, dan tidak menghakimi agar mereka merasa memiliki ruang aman untuk bercerita.
“Kehadiran orang tua dan guru sebagai tempat curhat yang asik dan nyaman adalah kunci untuk mencegah masalah bullying menjadi terlambat diatasi,” ujarnya.
Melalui kegiatan ini, kolaborasi antara dosen, mahasiswa, dan mitra sekolah tidak hanya menghasilkan output publikasi, tetapi juga menghadirkan manfaat sosial bagi lingkungan pendidikan. Mahasiswa memperoleh pengalaman praktik Manajemen Humas, sementara sekolah mendapatkan dukungan dalam memperkuat komunikasi digital dan citra positifnya di masyarakat. (Penulis: Diana Amalia/Dosen Ilmu Komunikasi)











