Bicarasurabaya.com— Momentum bersejarah akhirnya tercipta di lingkungan Ilmu Komunikasi UPN Veteran Jawa Timur. Untuk pertama kalinya sejak berdiri pada 1994, Program Studi Ilmu Komunikasi resmi memiliki guru besar, menandai “pecah telur” dalam perjalanan akademiknya.
Tonggak penting ini terlihat dalam pengukuhan lima guru besar di UPN Veteran Jawa Timur yang digelar di Gedung Giri Loka pada Sabtu (25/4/2026). Dari kelima nama tersebut, sosok Catur Suratnoaji menjadi sorotan utama. Ia menjadi Guru Besar pertama di prodi Ilmu Komunikasi.
Pengukuhan ini bukan sekadar seremoni akademik, tetapi simbol lompatan besar bagi Ilmu Komunikasi UPN Veteran Jatim yang akhirnya mampu melahirkan profesor pertama setelah lebih dari dua dekade berdiri.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Dalam orasi ilmiahnya bertajuk “Transformasi Komunikasi Politik dalam Era Demokrasi Digital: Big Data dan Partisipasi Politik Perempuan di Indonesia”, Prof. Catur mengulas perubahan signifikan dalam praktik komunikasi politik, terutama meningkatnya peran perempuan di ruang digital.
Ia memaparkan hasil analisis terhadap 32.717 percakapan politik di media sosial pada Pemilihan Presiden 2024. Hasilnya menunjukkan bahwa perempuan berkontribusi sekitar 49 persen—angka yang hampir setara dengan laki-laki.
“Media sosial kini menjadi ruang yang lebih inklusif bagi perempuan dalam berpartisipasi politik,” ungkapnya.
Menurutnya, perkembangan teknologi digital telah menggeser posisi perempuan dari sekadar penerima informasi menjadi aktor aktif yang ikut membentuk opini publik. Kehadiran big data juga membuka peluang baru dalam membaca dinamika politik secara real time, termasuk memetakan pola komunikasi serta aktor-aktor kunci di dalamnya.
Namun demikian, ia mengingatkan bahwa inklusivitas tersebut belum merata. Partisipasi perempuan masih didominasi oleh wilayah perkotaan yang memiliki akses teknologi dan literasi digital lebih baik.
“Demokrasi digital kita masih menyisakan kesenjangan, terutama bagi perempuan di wilayah pinggiran,” tegasnya.
Sementara itu, Rektor UPN Veteran Jawa Timur, Akhmad Fauzi, menilai pengukuhan lima guru besar ini sebagai langkah strategis dalam memperkuat kualitas sumber daya manusia kampus. Saat ini, jumlah profesor di UPN Veteran Jatim telah mencapai 39 orang.
Ia menekankan bahwa pencapaian ini harus diiringi dengan peningkatan kualitas riset yang berdampak nyata bagi masyarakat. Jabatan guru besar, menurutnya, bukanlah titik akhir, melainkan awal dari tanggung jawab akademik yang lebih besar.
“Kami ingin para profesor terus melahirkan inovasi dan karya ilmiah yang relevan serta bermanfaat luas,” ujarnya.
Ke depan, universitas menargetkan minimal 20 persen dosen mencapai jabatan profesor. Saat ini, sekitar 50 dosen dengan jabatan lektor tengah diproyeksikan naik ke jenjang lebih tinggi.
Transformasi UPN Veteran Jawa Timur sejak menjadi perguruan tinggi negeri pada 2014 juga terlihat dari peningkatan jumlah dosen, dari sekitar 380 menjadi lebih dari 840 orang. Selain itu, sekitar 90 dosen telah dikirim untuk melanjutkan studi guna memperkuat kapasitas akademik.
Dengan jumlah mahasiswa mencapai 24.000 orang dan penerimaan sekitar 6.500 mahasiswa baru setiap tahun, peningkatan kualitas akademik menjadi kebutuhan mendesak.
Meski begitu, posisi kampus dalam pemeringkatan global masih menjadi pekerjaan rumah. Saat ini, UPN Veteran Jatim berada di kisaran peringkat 203–223 di Asia Tenggara dan sekitar 1.500 di Asia.
“Ini menjadi motivasi bagi kami untuk terus meningkatkan kualitas riset dan publikasi agar lebih kompetitif secara internasional,” tutup rektor.
Pengukuhan guru besar pertama di Ilmu Komunikasi ini bukan hanya capaian simbolik, tetapi juga penanda arah baru kampus dalam menghadapi era demokrasi digital—di mana data, inovasi, dan inklusivitas menjadi fondasi utama pengembangan ilmu pengetahuan. (RF)











