Bicarasurabaya.com – Masih gelap ketika sebagian besar warga Surabaya terlelap, Eka Hardiyanti Suteja (35) sudah memulai harinya. Jarum jam baru menunjuk pukul 03.00 WIB, namun ia telah bangun, bersiap, dan memastikan semua kebutuhan rumah tangga terpenuhi sebelum berangkat kerja.
Tak lama kemudian, ia melaju menuju titik awal operasional. Pagi itu, seperti hari-hari lainnya, Eka akan kembali duduk di balik kemudi Suroboyo Bus—kendaraan besar yang selama ini identik dengan profesi laki-laki.
Sekitar pukul 05.30 WIB, mesin bus mulai meraung pelan. Dari balik kemudi, Eka mengantar penumpang menyusuri jalanan Kota Pahlawan yang perlahan hidup. Di balik rutinitas itu, tersimpan cerita tentang keberanian menembus batas.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Perjalanan Eka hingga menjadi sopir bus tidak terjadi dalam semalam. Ia memulai dari bawah, sebagai sopir taksi. Kesempatan datang saat rekrutmen pengemudi bus membuka pintu bagi perempuan. Tanpa ragu, ia mencoba.
“Saya daftar, coba saja. Alhamdulillah diterima,” ujarnya singkat, mengenang awal perjalanan.
Namun jalan itu tidak sepenuhnya mulus. Mengendalikan bus berukuran besar menjadi tantangan tersendiri. Ia harus beradaptasi, mulai dari menguasai dimensi kendaraan hingga memahami karakter jalan dan lalu lintas.
Proses itu ia lalui melalui serangkaian tes dan masa pendampingan. Hingga akhirnya, kepercayaan datang—ia diizinkan mengemudi sendiri.

Sejak bergabung pada 2020, hampir enam tahun berlalu. Kini, rasa canggung itu telah berganti menjadi kenyamanan. Lingkungan kerja yang suportif dan rekan yang solid membuatnya betah. Interaksi dengan penumpang pun menghadirkan warna tersendiri.
“Rasanya seperti jalan-jalan, tapi dibayar,” katanya sambil tersenyum.
Meski begitu, peran Eka tidak berhenti di jalanan. Di rumah, ia adalah seorang ibu. Di sela rutinitas yang padat, ia tetap menyempatkan waktu untuk keluarga, termasuk mengantar anak sebelum memulai aktivitas.
Baginya, membagi waktu bukan hal mudah, tetapi menjadi bagian dari tanggung jawab yang harus dijalani.
Keberadaan Eka di balik kemudi kerap menarik perhatian. Tak sedikit penumpang yang awalnya terkejut melihat perempuan mengemudikan bus. Ada yang memandang ragu, namun tak sedikit pula yang memberi apresiasi.
“Awal-awal memang ada yang ragu. Sekarang malah banyak yang mendukung,” tuturnya.
Dukungan itu datang dalam bentuk sederhana—senyum, sapaan, hingga acungan jempol dari penumpang. Bahkan, beberapa di antaranya kerap berbincang dan menjalin kedekatan, menciptakan suasana hangat di dalam bus.
Di Surabaya, jumlah sopir bus perempuan masih terbatas. Eka menjadi satu dari sedikit perempuan yang memilih jalan ini. Namun, kondisi itu justru memotivasinya.
Ia ingin membuka jalan, membuktikan bahwa perempuan juga mampu berada di ruang-ruang yang selama ini didominasi laki-laki.
Momentum Hari Kartini, menurut Eka, bukan sekadar peringatan tahunan. Lebih dari itu, menjadi pengingat bahwa semangat emansipasi harus terus hidup dalam tindakan nyata.
“Perempuan harus berani mencoba dan terus berkembang,” ujarnya.
Dari balik kemudi bus yang melaju di jalanan Surabaya, Eka menunjukkan bahwa semangat Kartini tidak hanya hidup dalam sejarah. Ia hadir setiap hari—di jalanan, di ruang kerja, dan di setiap perempuan yang berani melangkah melampaui batas.(BS/za)











