Bicarasurabaya.com – Banjir merendam sejumlah wilayah di Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur. Sebanyak 1.148 kepala keluarga (KK) terdampak, dengan ketinggian air sempat mencapai perut orang dewasa.
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa turun langsung meninjau lokasi terdampak di Dusun Bandaran, Desa Jarangan, Kecamatan Rejoso. Ia memastikan kondisi warga sekaligus mempercepat penanganan di lapangan.
Sejumlah warga terpaksa mengungsi akibat tingginya genangan. Untuk menjangkau wilayah terdampak, Khofifah bahkan menggunakan perahu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Banjir dipicu hujan intensitas sedang hingga lebat sejak 24 Maret 2026 yang menyebabkan sungai meluap. Kondisi dataran rendah dan drainase yang belum optimal memperparah genangan, ditambah pengaruh pasang air laut.
Pemerintah daerah bersama BPBD telah melakukan berbagai langkah penanganan, mulai dari assessment, distribusi logistik, penyediaan tenda pengungsian, hingga pengerahan perahu untuk mobilitas warga.
Untuk mengurangi genangan, disiapkan 10 unit pompa air—enam dari Pemprov Jatim dan empat dari Pemkab Pasuruan. Namun, pengoperasian belum maksimal saat puncak banjir karena tinggi muka air sungai sejajar dengan genangan di daratan.
“Keselamatan warga prioritas. Kami terus koordinasi percepatan penanganan,” kata Khofifah dalam keterangannya yang diterima, JUmat (27/3/2026).
Ia menjelaskan, banyaknya anak sungai di wilayah Rejoso menjadi tantangan tersendiri dalam penanganan banjir. Normalisasi aliran sungai dinilai menjadi solusi jangka panjang agar genangan tidak berulang setiap tahun.
Selain itu, banjir juga berdampak pada sektor pertanian. Sejumlah lahan dilaporkan mengalami gagal panen. Pemprov Jatim menyiapkan bantuan benih bagi petani setelah proses pendataan selesai.
Di sisi lain, dapur umum di Kantor Kecamatan Rejoso mampu memproduksi sekitar 1.500 porsi makanan per hari untuk warga terdampak. Distribusi logistik terus dipastikan merata.
Khofifah juga menekankan pentingnya menjaga kondisi psikologis anak-anak di pengungsian agar tetap merasa aman dan terhibur.
Salah satu warga, Sumiati, mengaku air sempat naik drastis pada dini hari.
“Air sempat setinggi perut, kami tidak bisa tidur,” ujarnya.
Hingga kini, penanganan terus dilakukan seiring kondisi air yang berangsur surut. Pemerintah daerah menargetkan dampak banjir bisa segera ditekan, sembari menyiapkan langkah jangka panjang untuk mengurangi risiko kejadian serupa.(BS/za)





