Bicarasurabaya.com – Program pembinaan Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga Akseptor (UPPKA) Wonokromo 2025 terus memberikan bekal keterampilan nyata bagi pelaku UMKM. Setelah resmi dibuka Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya beberapa waktu lalu, rangkaian kegiatan kini memasuki sesi pelatihan pemasaran digital. Pada kesempatan ini, Mohammad Syarrafah, M.I.Kom, dosen Ilmu Komunikasi Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur, hadir sebagai narasumber utama.
Dalam paparannya, ia menekankan bahwa digital marketing saat ini bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan. Perubahan perilaku konsumen yang lebih banyak berbelanja online harus direspons cepat oleh UMKM. “Dengan strategi pemasaran digital, pelaku usaha bisa menjangkau konsumen lebih luas, membangun branding, sekaligus meningkatkan omzet secara efisien,” kata Rafa-sapaan Mohammad Syarrafah.
Ia mengungkapkan laporan Google, Temasek, dan Bain & Company yang menunjukkan 80 persen konsumen di Indonesia lebih memilih belanja online dibandingkan offline. Fakta ini, menurutnya, menjadi alarm penting agar UMKM di Surabaya tidak tertinggal dalam memanfaatkan peluang pasar digital.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Dalam sesi pelatihan, para peserta diperkenalkan pada berbagai platform digital yang dapat digunakan, mulai dari marketplace besar seperti Shopee, Tokopedia, Lazada, Blibli, hingga Bukalapak. Selain itu, media sosial juga menjadi kanal efektif, seperti TikTok Shop, Instagram, Facebook Marketplace, hingga WhatsApp Business yang dapat menampilkan katalog produk secara profesional.
“Konten adalah kunci. Foto yang menarik, teks promosi yang persuasif, serta interaksi aktif dengan calon pembeli akan menentukan keberhasilan pemasaran online. Bahkan, pelaku UMKM bisa memanfaatkan teknologi seperti ChatGPT untuk membantu membuat ide konten, menjawab pertanyaan pelanggan, hingga menyusun strategi komunikasi,” jelasnya.

Tak hanya itu, ia juga menyoroti keberadaan platform lokal seperti Epeken, yang mewajibkan ASN Pemkot Surabaya membeli kebutuhan pokok dari UMKM di dalamnya. Hal ini membuka peluang lebih besar bagi UMKM untuk memperluas pasar sekaligus mendapat dukungan dari pemerintah.
Para peserta terlihat antusias mengikuti sesi pelatihan. Mereka tidak hanya diberikan teori, tetapi juga panduan praktis dalam membuat akun toko online, mengunggah produk, hingga teknik sederhana melakukan promosi lewat media sosial. Beberapa peserta bahkan langsung mencoba mempraktikkan pembuatan katalog di WhatsApp Business maupun menyiapkan konten promosi untuk Instagram.
Rafa menegaskan, transformasi digital UMKM harus dilakukan bertahap, namun konsisten. “Jangan takut mencoba. Mulailah dari platform yang paling mudah digunakan, misalnya WhatsApp Business atau Facebook Marketplace. Seiring waktu, UMKM bisa memperluas jangkauan ke marketplace besar dan website sendiri. Yang penting konsisten dan terus belajar,” katanya.
Kegiatan pelatihan ini merupakan rangkaian pendampingan intensif UPPKA Wonokromo yang akan berlangsung hingga akhir tahun. Dengan kolaborasi Pemkot Surabaya, akademisi, dan masyarakat, program ini diharapkan menjadi model pemberdayaan UMKM yang tidak hanya sekadar teori, tetapi benar-benar aplikatif.
“Tujuan akhirnya adalah kemandirian ekonomi keluarga. Ketika UMKM mampu memanfaatkan digital marketing dengan baik, maka pendapatan bisa meningkat, produk lokal semakin dikenal, dan pada akhirnya mendorong kesejahteraan masyarakat,” pungkasnya.
Penulis: Mohammad Syarrafah (Anggota Tim Pusat Riset Ekonomi, Sosial dan Humaniora UPN Veteran Jawa Timur, dan Dosen Ilmu Komunikasi UPN Veteran Jawa Timur)





