Bicarasurabaya.com – Gelombang protes masyarakat sepanjang 25 Agustus–2 September 2025 melahirkan “17+8 Tuntutan Rakyat”, sebuah rangkuman aspirasi publik yang muncul setelah polemik kenaikan tunjangan dewan. Gerakan ini tak hanya hidup di jalanan, tetapi juga mendapat energi baru dari media sosial. Visual kampanye yang konsisten memakai warna hijau dan pink membuatnya mudah dikenali, sekaligus menyulut diskusi tentang kekuatan simbol dalam gerakan sosial.
Meski belum semua tuntutan dijawab pemerintah—mulai dari reshuffle kabinet hingga pembatalan tunjangan rumah anggota dewan—fenomena ini dinilai efektif mengonsolidasikan suara rakyat. Pertanyaannya, apakah benar pilihan warna berperan besar dalam keberhasilan sebuah gerakan?
Asthararianty, dosen Desain Komunikasi Visual (DKV) Petra Christian University Surabaya, menilai warna memang punya kekuatan lebih dari sekadar estetika. “Warna adalah bahasa universal. Ia mampu menyampaikan pesan, membangkitkan emosi, dan menyatukan berbagai kelompok masyarakat,” ujarnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Menurutnya, setiap warna membawa makna psikologis dan kultural. Pink, misalnya, kerap diasosiasikan dengan kelembutan dan empati, sekaligus solidaritas. Sementara hijau memberi kesan segar dan tenang, serta menjadi simbol kehidupan dalam banyak budaya. “Makna-makna ini bisa berubah sesuai waktu dan latar budaya, tapi daya pengaruhnya tetap kuat,” jelas Astha, yang sejak 2009 mengajar desain grafis sebelum melanjutkan studi doktoralnya di Bandung.
Dalam dunia DKV, konsistensi penggunaan warna disebut dapat memperkuat daya ingat audiens terhadap pesan yang diwakilinya. Itulah sebabnya pemilihan warna dalam gerakan sosial tidak boleh asal. “Harus ada tujuan yang jelas dan dasar teori yang kuat,” tegasnya.
Bagi Astha, visual, khususnya warna, adalah strategi utama dalam komunikasi massa. Simbol visual tidak hanya mempertegas pesan, tetapi juga membangun identitas dan koneksi emosional dengan publik. “Visual punya kekuatan tak terbatas untuk menjembatani emosi dan persepsi,” katanya.
Gerakan “17+8 Tuntutan Rakyat” pun menjadi contoh bagaimana simbol sederhana—dua warna kontras yang mencolok—dapat memperkuat solidaritas, mengikat massa, sekaligus memperluas jangkauan pesan. Pada akhirnya, hijau dan pink bukan hanya soal estetika, melainkan tentang bagaimana warna bisa menjadi bahasa perlawanan.(BS/Za)





