Bicarasurabaya.com – Pemkot Surabaya memburu anak usia 5-6 tahun yang belum mendapatkan pendidikan sebelum masuk sekolah dasar (SD). Pendataan dilakukan hingga tingkat kecamatan dan kelurahan untuk mengetahui penyebab sekaligus mencari solusi bagi anak dan keluarganya.
Upaya tersebut dilakukan melalui Roadshow Kelas Parenting Pusat Pembelajaran Keluarga (Puspaga).
Bunda PAUD Kota Surabaya Rini Indriyani mengatakan kegiatan parenting tidak hanya menyasar orang tua. Pemkot juga memanfaatkannya untuk menjangkau dan mendata anak usia 5-6 tahun yang belum bersekolah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Kami juga mendata setiap kecamatan maupun kelurahan terkait anak usia 5-6 tahun yang belum bersekolah,” kata Rini dalam keterangannya, Selasa (22/9/2026).
Menurut Rini, kondisi anak yang belum bersekolah beragam. Ada yang terkendala ekonomi, memiliki kebutuhan khusus, hingga persoalan administrasi kependudukan setelah keluarga berpindah kartu keluarga (KK).
Karena itu, pendataan diperlukan agar penanganan tidak dilakukan secara seragam. Setiap anak akan ditindaklanjuti berdasarkan persoalan yang dihadapi.
Untuk anak yang terkendala biaya, Pemkot Surabaya dapat mengupayakan bantuan pendidikan. Rini mengatakan dukungan bisa berasal dari anggaran pemerintah maupun kolaborasi dengan pihak swasta melalui program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR).
“Kalau memang masalahnya keuangan atau ekonomi, kami bisa bekerja sama untuk mencari solusi,” ujarnya.
Selain itu, masyarakat juga dilibatkan melalui gerakan Kampung Pancasila. Warga yang mengetahui adanya anak usia 5-6 tahun belum sekolah dapat ikut membantu mencarikan akses pendidikan.
Rini menyebut sejumlah anak bahkan sudah bisa bersekolah setelah mendapat dukungan dari lingkungan sekitar.
“Tidak sedikit yang ternyata sudah sekolah karena bantuan dari Kampung Pancasila,” katanya.
Rini juga menyoroti masih adanya anggapan bahwa PAUD atau TK tidak terlalu penting karena anak lebih banyak bermain. Menurut dia, pendidikan usia dini justru menjadi bagian penting dalam menyiapkan anak sebelum masuk SD.
“Pendidikan usia dini merupakan bagian dari pembentukan karakter. Ketika masuk SD, anak sudah lebih siap secara mental dan psikologis,” tuturnya.
Karena itu, masyarakat diminta ikut melaporkan apabila mengetahui anak usia 5-6 tahun yang belum mendapatkan pendidikan.
Laporan dapat berasal dari orang tua, tetangga maupun keluarga. Informasi tersebut nantinya akan ditindaklanjuti untuk mencari solusi sesuai kondisi anak.
“Silakan dilaporkan kepada kami kalau ada anak yang belum sekolah. Kami akan mencari solusi agar mereka tetap bisa mendapatkan pendidikan satu tahun sebelum masuk SD,” kata Rini.
Pemkot Surabaya menargetkan seluruh anak usia 5-6 tahun mendapatkan akses pendidikan. Namun, pola pembelajaran bagi anak berkebutuhan khusus (ABK) akan disesuaikan dengan kemampuan dan kebutuhannya.
Bagi anak yang memiliki keterbatasan mengikuti pembelajaran formal, pengembangan keterampilan dapat diarahkan melalui Rumah Anak Prestasi (RAP).
Pendekatan tersebut diharapkan tetap memberi ruang bagi anak berkebutuhan khusus untuk belajar sekaligus mengembangkan potensi mereka.
“Harapannya, seluruh anak bisa bersekolah dan tidak ada lagi anak yang tercatat belum mendapatkan pendidikan di Kota Surabaya,” ujar Rini.
Pemkot Surabaya pun mendorong kolaborasi pemerintah, sekolah, keluarga, dunia usaha, dan masyarakat agar target tersebut dapat tercapai. (BS/za)











