Bicarasurabaya.com – Timbulan sampah di Jawa Timur mencapai sekitar 6,5 juta ton per tahun. Namun, baru sekitar 25% yang disebut terkelola secara optimal.
Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan lima kabupaten/kota di Jatim ditetapkan sebagai daerah percontohan proyek InCircular: Promoting a Circular Economy in Indonesia. Kelima daerah itu yakni Kabupaten Gresik, Kota Malang, Kabupaten Malang, Kota Probolinggo, dan Kabupaten Sidoarjo.
Wakil Gubernur Jatim Emil Elestianto Dardak mengatakan proyek tersebut menjadi peluang untuk mendorong pengelolaan sumber daya yang lebih efisien sekaligus mengurangi sampah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Melalui ekonomi sirkular, kita mendorong penggunaan sumber daya secara lebih efisien, mengurangi timbulan sampah sejak dari sumber, serta memperkuat pemanfaatan kembali dan daur ulang,” kata Emil saat peluncuran daerah percontohan InCircular di Hotel DoubleTree by Hilton Surabaya, Selasa (15/9/2026) malam.
Menurut Emil, persoalan sampah di Jatim tidak hanya terkait keterbatasan infrastruktur. Kapasitas kelembagaan, konsistensi pemilahan dari sumber, pembiayaan, serta keterlibatan masyarakat dan dunia usaha juga menjadi tantangan.
Karena itu, lima daerah percontohan diminta menyusun dan menunjukkan model pengelolaan sesuai kondisi masing-masing. Emil menilai setiap daerah memiliki potensi sekaligus persoalan yang berbeda sehingga pendekatannya tidak bisa diseragamkan.
“Kelima daerah diharapkan menjadi ruang pembelajaran sekaligus pengembangan model implementasi ekonomi sirkular yang konkret, terukur, dan sesuai dengan karakteristik masing-masing daerah,” ujarnya.
Capaian dan kendala pengelolaan sampah dari masing-masing daerah juga dipaparkan dalam peluncuran tersebut. Kerangka yang dihasilkan nantinya akan dibawa kepada Kementerian PPN/Bappenas dan GIZ Indonesia-ASEAN untuk dikembangkan lebih lanjut.
Emil berharap praktik yang berhasil diterapkan di lima daerah tersebut dapat direplikasi di kabupaten/kota lain di Jawa Timur. Dengan begitu, proyek percontohan tidak berhenti pada lima wilayah, tetapi menghasilkan model yang bisa diterapkan lebih luas.
Proyek InCircular merupakan kerja sama teknis Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Republik Federal Jerman melalui Kementerian PPN/Bappenas yang diimplementasikan bersama Deutsche Gesellschaft für Internationale Zusammenarbeit (GIZ) Indonesia & ASEAN.
Deputi Bidang Pangan, Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup Kementerian PPN/Bappenas Leonardo Teguh Sambodo mengatakan pengembangan ekonomi sirkular membutuhkan penerjemahan kebijakan nasional ke tingkat daerah.
“Pemerintah daerah berperan penting menerjemahkan arah pembangunan nasional ke dalam kebijakan, sistem, layanan dan inovasi yang sesuai dengan daerah,” kata Leonardo.
Sementara itu, Director Urban Development Cluster GIZ Indonesia & ASEAN Thomas Foerch menyebut pengelolaan sampah menjadi salah satu sektor prioritas dalam kerja sama Jerman dan Indonesia.
Menurut Thomas, tantangan sampah membutuhkan kolaborasi antara pemerintah dan berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah. Ia menilai penguatan sistem dan kapasitas daerah menjadi bagian penting untuk membangun pengelolaan sampah yang berkelanjutan.
Lima daerah percontohan kini diharapkan menghasilkan praktik pengelolaan sampah yang dapat diukur dan disesuaikan dengan karakter masing-masing wilayah. Model tersebut selanjutnya diharapkan menjadi acuan bagi daerah lain di Jatim dalam mengembangkan ekonomi sirkular. (BS/za)









