Bicarasurabaya.com – Pemerintah Kota Surabaya menggenjot panen cabai rawit lokal untuk menekan potensi lonjakan harga menjelang Ramadan dan Idulfitri 2026. Langkah ini ditempuh saat harga cabai di pasaran mulai merangkak naik.
Panen dilakukan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Surabaya bersama Kelompok Tani (Poktan) Sendang Biru. Komoditas ini menjadi salah satu fokus pengendalian inflasi karena kerap mengalami kenaikan signifikan saat Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN).
Kepala DKPP Surabaya Antiek Sugiharti mengatakan, cabai yang dipanen merupakan hasil tanam sejak Oktober 2025. Penanaman itu memang disiapkan untuk mengantisipasi kenaikan harga menjelang bulan puasa.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Saat ini, harga cabai di pasar berkisar Rp70.000 hingga Rp85.000 per kilogram. Menurut Antiek, suplai dari kelompok tani lokal diharapkan mampu mengurangi tekanan permintaan di pasar.
Panen kali ini merupakan panen ketujuh Poktan Sendang Biru dengan sekitar 1.300 pohon cabai varietas Ori. Varietas tersebut dikenal memiliki kualitas baik dan harga relatif tinggi di pasaran.
Selain mengandalkan produksi kelompok tani, Pemkot Surabaya juga mendorong gerakan “Satu Rumah Dua Pohon” yang terintegrasi dengan program Kampung Pancasila. Warga diajak menanam minimal dua pohon cabai di rumah.
“Kalau tiap rumah tanam dua pohon, saat harga naik warga tidak perlu beli ke pasar. Ini membantu stabilisasi dari sisi permintaan,” ujar Antiek dalam keterangannya, Jumat (13/2/2026).
Tak hanya cabai, Pemkot bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) juga mengantisipasi kenaikan harga telur dan daging ayam. Intervensi dilakukan melalui Gerakan Pangan Murah (GPM), operasi pasar, serta pengawasan stok bersama kementerian terkait.
Di sisi produksi, pengendalian hama tikus juga dilakukan secara terpadu bersama UPT Proteksi Tanaman Pemprov Jawa Timur untuk menjaga produktivitas lahan.
Antiek memastikan, berdasarkan pemantauan, stok pangan di Surabaya dalam kondisi aman menjelang Ramadan. Ia mengimbau masyarakat berbelanja sesuai kebutuhan dan tidak melakukan pembelian berlebihan.
Sementara itu, Suprapto (67), anggota Poktan Sendang Biru, mengaku rutin memanen cabai setiap lima hari sekali dengan hasil 6–8 kilogram per panen. Di tengah harga pasar yang menyentuh Rp85.000 per kilogram, ia menjual hasil panennya Rp70.000 per kilogram kepada warga sekitar.
“Banyak yang sudah pesan. Saya jual lebih murah untuk bantu tetangga,” ujarnya.
Meski sempat menghadapi kendala virus kuning, ia menyebut dukungan bibit dari Pemkot membantu menjaga keberlanjutan produksi.
Dengan kombinasi panen lokal, intervensi pasar, dan partisipasi warga, Pemkot Surabaya berharap gejolak harga cabai selama Ramadan dan Idulfitri dapat terkendali. (BS/za)











