BicaraSurabaya.com – Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi tak ingin ada pegawai atau pejabat Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya yang kerjanya ‘ngatok’. Dalam etimologi jawa sendiri, arti kata ‘ngatok, adalah orang yang suka cari muka kepada atasannya.
Pejabat yang senang ‘ngatok’, tentu akan berusaha untuk terlihat menonjol. Bahkan, tak jarang pegawai atau pejabat tersebut akan melakukan berbagai cara agar terlihat unggul ketika ada pimpinan atau wali kota.
Sifat ngatok yang dilakukan pejabat kepada wali kota, tentu sangat merugikan pemerintah, terlebih rakyat Surabaya. Sebab, pejabat tersebut biasanya memiliki kegemaran membuat laporan “Asal Bapak Senang” (ABS).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Hal tersebut ditegaskan Wali Kota Eri Cahyadi saat memberikan pengarahan dalam pelantikan massal pejabat Pemkot Surabaya di halaman Taman Surya, Balai Kota Surabaya, Jumat (31/12/2021) lalu.
“Kalau ada aku (wali kota, red) baru kerja, kalau aku tidak ada, tidak kerja. Nah, iku jenenge ngatok (Itu namanya cari muka). Itu yang tidak boleh dalam hidup. Semoga tahun 2022 tidak ada lagi pejabat yang seperti itu,” kata Eri Cahyadi.
Wali kota yang akrab dipanggil Cak Eri itu menginginkan agar seluruh pejabat pemkot bekerja dengan hati nurani. Tak perlu terlihat lebih unggul ketika ada pimpinan atau wali kota. Apalagi, pejabat itu baru mau terjun ke masyarakat ketika hanya ada wali kotanya.
“Saya berharap itu tidak pernah terlihat dengan mata saya. Kalau terlihat dengan mata saya, Insya Allah njenengan (anda) pasti leren (berhenti). Karena tidak pantas pejabat seperti itu,” tegasnya.
Makanya, wali kota yang dibesarkan di lingkungan Pondok Pesantren Ndresmo (Sidosermo) ini berharap, seluruh pejabat pemkot ke depan dapat bekerja dengan hati dan empati. Bekerja untuk kepentingan rakyat Surabaya dan bukan pribadi semata.
“Jabatan ini kalau digunakan dengan hati dan empati, Insya Allah akan jadi amal jariyah dunia akhirat buat njenengan (anda),” tandasnya. (BS02)






